West Coast Park, Sebuah Harmonisasi Taman Dan Pantai

 

IMAG1030

Mengisi libur Imlek yang panjang, membuat saya dan suami berpikir untuk pergi keluar ketempat yang mungkin menyenangkan dan dapat mengisi kekosongan aktifitas. Kalau kebanyakan orang Singapura mengisi waktu liburan pergi ke Batam atau ke Bandung, kalau saya dan suami mau kemana?? Berhubung sang suami ingin pergi kepantai, maka pergilah sore itu ke sebuah tempat yang bernama, West Coast Park. Lah..ini pantai atau taman ya sebenarnya??

IMAG1034

Waktu sudah sore ketika kami berangkat. Jarum jam tangan suami sudah hampir menunjukkan pukul 4 sore. Menyeberang dijalan utama, kemudian menunggu bus dihalte. Bus tak kunjung datang juga. Baru sekitar 15 menit kemudian bus yang ditunggu-tunggupun datang dengan santainya. Padahal saya yang menunggu sudah bermuram hati, sudah tak menyenangkan lagi untuk melanjutkan perjalanan ini.

IMAG1035

Selama perjalanan tidak ada yang menyenangkan untuk saya. Kondisi AC didalam bus yang berhembus kencang, ditambah lagi dengan cuaca diluar dingin, karena baru saja hujan mengguyur dengan begitu derasnya dan baru saja reda. Sama sekali tak mengenakkan untuk sebuah perjalanan. Tetapi bersyukurlah, karena perjalanan untuk mencapai West Coast Park, tidaklah memakan waktu lama dari tempat tinggal kami, hanya berkisar kurang lebih 30 menit saja. Akhirnya kami turun di halte West coast highway.

IMAG1037

Turun di halte west coast hightway, mata kami tak menemukan West Coast Park, tempat yang kata suami saya itu adalah sebuah pantai. Tetapi, sepertinya, tempat yang kami tuju itu ada diseberang jalan, karena disana jelas kami lihat orang berlalu lalang menyeberang jalan dengan membawa segala macam peralatan rekreasi keluarga. Ya..dari sini saya sudah dapat memastikan, tempat ini adalah tempat favorit rekreasi keluarga. Dimana, para orangtua dapat membawa serta anaknya untuk bermain bersama. Setelah melihat banyak orang menyeberang jalan, barulah kami pergi menyeberang ditempat penyeberangan. Setelah menyeberang, kami memasuki sebuah tempat yang bernama West Coast Park.

IMAG1043

Jangan khawatir akan tarif masuk West Coast Park ini. Tidak ada tarif masuk, alis gratiiss!! Ya, benar sekali, kawan sekalian. Kita tidak perlu pusing-pusing memikirkan berapa tiket masuk kawasan West Coast Park ini. Semua fasilitas yang ada didalamnya, saya pastikan semuanya dapat dinikmati dengan gratis, tanpa harus mengeluarkan uang seperserpun. Hanya saja, bilamana ingin membeli makanan disebuah tempat yang telah disediakan, baru kita mengeluarkan uang untuk membayar makanan kita.

IMAG1056

Sebelum memasukinya lebih jauh, terlebih dulu kami membaca peta diarea parkir kendaraan, biar tidak tersasar tentunya. Maklum…setelah melihat peta, kami dibuat terkaget-kaget. Bagaimana tidak kaget, lihat petanya kami sudah ciut untuk menjelajah seluruh kawasan West Coast Park. Terlebih lagi waktu sudah semakin sore, yang membuat saya bertanya dalam hati, masihkan ada pengunjung didalam sana?? Tanpa pikir panjang, ya sudahlah jelajah saja satu persatu tempat yang ada dipeta.

IMAG1058

Berjalan memasuki kawasan West Coast Park, mata kita akan langsung sejuk melihat pohon-pohon rindang tumbuh disana-sini. Ditambah lagi dengan semilir angin lembut yang berhembus, membuat kami merasa nyaman berada disana. Sekalipun hujan baru saja reda, tetapi kami tak perlu mengkhawatirkan kondisi jalan yang bisa saja becek. Malas sekali bukan, kalau harus menjinjing sandal atau sepatu karena tanah becek, dan lengket?? Ini dikarenakan ada jalur untuk pejalan kaki yang telah dibuat sedemian rupa. Jadi, kita bisa menikmati pemandangan hijau dengan tenang.

IMAG1059

Yang pertama kami tuju adalah, Marsh Garden. Sangat penasaran sekali ada apa disana. Tak berapa lama berjalan melewati jalur pejalan kaki, terlihatlah sebuah papan petunjuk menuju kearah Marsh Garden. Pertama melihat arahnya saya agak ragu. Tempatnya ternyata harus masuk kedalam, yang kalau dilihat-lihat tempatnya sangat rimbun dengan pepohonan, dan tanaman-tanaman lain. Terlebih lagi ada papan peringatan, yang isinya kurang lebih, kalau dalam keadan hujan angin jangan masuk ketaman. Suasana lumayan sepi memasuki Marsh Garden. Berjalan melewati sebuah jembatan panjang, yang terbuat dari kayu, dengan kanan kiri pemandangan pohon lebat, serasa berada dialam liar.

IMAG1063

Akhirnya sampailah kami disebuah tempat yang bernama point view dari Marsh Garden ini. Rasa penasaran semakin menjadi-jadi ketika melihat ada empat orang anak dengan riang gembira berada dipoint view, sambil sesekali menunjuk sesuatu. Apakah yang sedang dilihat anak-anak itu?? Ikan kah, atau yang lain?? Segeralah saya mengetahui jawabannya, ketika sampai di point view. Oo..kura-kura!! Lumayan banyak kura-kuranya. Berenang kesana-kemari tanpa ada rasa takut akan kedatangan orang asing/ manusia. Malah kura-kura itu berenang mendekat ke point view, dimana kami berada. Wah…senangnya, saya saja senang melihatnya, pantas saja anak-anak itu kegirangan melihat kura-kura itu. Jenisnya banyak, ada yang bermata merah dengan tempurung hitam bergaris-garis merah, ada yang kepala dan kaki-kakinya yang lebih panjang, ada lagi jenis dengan tempurung yang kuning keemasan. Sisanya berwarna tempurung keabu-abuan. Wah..baru kali ini saya melihat kura-kura dengan tempurung kuning keemasan, tapi sayangnya kura-kura itu tak mau mendekat ke point view, hanya berenamg-renang ditengah danau, muncul sebentar kemudian menenggelamkan diri kembali kedalam danau. Tetapi, sebenarnya saya sendiri tidak tahu, apakah benar ini adalah sebuah danau atau kolam buatan. Kalau melihat-lihat dipeta, ujungnya, sama sekali tak menyatu dengan pantainya.

IMAG1064

Karena airnya jernih dan tidak ada kotoran sampah-sampah, maka ikan-ikanpun terlihat dengan jelas berenang riang didalamnya. Ada sepasang ikan koi dengan ukuran besar berenang kesana-kemari, serasa menyambut kedatangan kami. Segerombolan ikan-ikan lainpun turut semarak, menghiasi danau yang bersih itu, silih berganti berparade didepan kami berdiri, seperti acara perkenalan. Suasana semakin riuh rendah dengan kicauan burung-burung yang bertengger dipohon-pohon sekitar yang memang sangat alami sekali suasananya.

IMAG1068

Disini (Marsh Garden), pengunjung dilarang untuk memancing, menangkap, juga memberi makan ikan maupun kura-kura yang ada. Selain larangan diatas, para pengunjung juga dilarang untuk melepaskan ikan maupun kura-kura, maksudnya bila mana kita datang kesana (Marsh Garden), dengan membawa ikan ataupun kura-kura dari rumah untuk kemudian dilepaskan di Marsh Garden, ini tidak diperbolehkan. Dan jangan sekali-kali nekat memancing, karena dendanya cukup membuat kita sesak nafas, dendanya adalah $S 5.000;, bila ketahuan memancing ditempat-tempat yang dilarang, salah satunya Marsh Garden.

IMAG1069

Meninggalkan Marsh Garden, kembali mengikuti jalur pejalan kaki, yang terasa nyaman sekali. Hati bertanya-tanya, dimana kah letak pantainya, kok belum terlihat sama sekali, apakah diujung depan sana?? Mengikuti saja jalur yang ada, sambil melihat pemandangan sekitar dan sesekali bertemu dengan orang-orang yang bersepeda. Ya…ditempat ini sangat cocok untuk bersepeda tentunya. Jalur pesepeda juga telah ditentukan, yaitu bergaris orange. Nah, bagi yang datang dan ingin bersepedaan (West Coast Park), bisa datang ketempat ini, dan bisa bertralala-trilili berkeliling kawasan West Coast Park dengan hati riang, tanpa takut tersambar kendaraan mobil ataupun truk yang lewat. Sangat aman untuk bersepedaan.

IMAG1072

Belum sampai juga pantai, suara music dangdut menggelegar. Lho kok ada music dangdut, Ayu ting ting yang nyanyi, memang dari mana suaranya?? Memang ada pertunjukkan music dangdut di West Coast Park?? Kami cari-cari sumber suaranya, O..ternyata suara itu datang dari arah pantai. Tetapi dari mana asalnya?? Ternyata music dangdut itu asalnya dari salah satu kapal yang sedang bersandar di pantai, entah kapal yang mana. Karena disana ada satu kapal besar, dengan dua kapal ukuran sedang, yang menempel persis disebelah kapal besar itu. Dan…sampailah kami ditepi pantai!!

IMAG1073

Bermain dipantai West Coast Park, tidak seperti bermain dipantai pada umumnya. Kalau yang umum, bila bermain ke pantai, maka kaki kita bisa menginjak pasir-pasir pantai, dan bersentuhaan langsung dengan debur ombak yang sampai dipantai. Atau, kita bisa berlari-lari kecil mengejar ombak, mencari kerang-kerang dipinggir pantai. Atau…kita bisa membangun istana pasir??! Itu kalau bermain dipantai pada umumnya. Lain halnya di West Coast Park. Bermain dipantai disini, kita hanya bisa berjalan-jalan dipinggirnya tanpa menginjak pasir pantainya. Mengamati banyaknya perahu-perahu nelayan yang sedang sandar. Atau kita juga bisa melihat beberapa orang sedang memancing. Boleh memancing?? Berhubung tidak ada papan peringatan dipinggir pantai ini, jadi dapat dipastikan diperbolehkan memancing. Hal lain yang bisa kita lakukan adalah duduk-duduk santai menghadap kepantai, sambil mengamati tingkah polah beberapa burung jalak yang ada disana.

IMAG1075

Lantas bagaimana bila ingin sekali merasakan air laut, atau ingin melihat lebih dekat ombak-ombak itu?? Tenang saja…ada tempatnya. Tempat yang dibuat khusus bagi pengunjung yang ingin merasakan air laut. Ada satu tempat yang dibuat anak-anak tangga menurun kebawah hingga sampai menyentuh air laut. Nah, disini kita bisa menyentuh air laut. Tetapi harap berhati-hati bila membawa anak-anak, pastinya akan sangat berbahaya sekali. Lebih tepatnya ini untuk orang dewasa saja. Atau kalau anak-anak ingin kesini, orangtua harus menemani.

IMAG1076

Lantas dimana tempat bermain anak-anak, kok tadi sewaktu memasuki kawasan West Coast Park, melihat banyak oarngtua membawa anak-anaknya?? Bila kita berjalan disisi jalan yang langsung menghadap pantai, maka disisi jalan yang lain kita akan melihat pasir putih. Ya, sebuah tempat yang memang dibuat dan diisi dengan pasir putih. Disinilah anak-anak bisa bermain pasir. Atau ada yang ingin bermain volley pantai, disinilah tempatnya.

IMAG1078

Tak jauh dari area pasir putih itu ada sebuah lapangan yang sangat luas sekali. Lebih luas dari lapangan sepak bola. Lapangan itu untuk bermain layangan. Bagi yang datang kesini (West Coast Park), dan ingin menyalurkan hobi bermain layangan, disini tempat yang tepat. Anginnya sangat cocok untuk menerbangkan layangan. Saat itu, sore itu, ada beberapa orang yang bermain layangan. Bagus dan keren layangannya. Rata-rata layangan besar, ada yang berekor ada pula yang tak berekor. Semua bisa naik keatas terbawa angin. Karena begitu kencangnya angin berhembus, ada satu buah layangan yang putus, terbang menjauh dari sang pemilik menuju kearah laut. Dan dari kejauhan terlihat layang-layang itu masih terbang diudara.

IMAG1082

Berada di dalam kawasan West Coast Park, ada banyak jalan yang bisa kita lalui, tergantung dari tujuan kita datang ke sana. Bila memilih berjalan diarea tengah, maka disana kita akan menjumpai area refleksi, area bermain anak-anak, juga area fitness. Bagi yang datang bersama anak, maka area ditengah itu sangat cocok. Mungkin orangtua anak, ataupun si anak bisa bertemu dengan seseorang yang baru disana, anak ketemu teman baru, orangtua bisa ketemu sesama orangtua. Lebih tepatnya, sebagai salah satu sarana sosialisasi. Dan kami memilih untuk terus berjalan menyusuri tepi pantai, meski tak bisa menginjakkan kaki dipasir pantai, atau sama sekali tak bisa menyentuh air laut.

IMAG1084

Akhirnya kami menuju ke point view, atau sebuah tempat yang memang sengaja dibuat untuk memudahkan kita melihat keluar, maksudnya melihat lautan luas didepan mata. Sudah banyak orang yang berada disana, mungkin juga orang-orang ini akan menghabiskan waktu melihat matahari tenggelam. Indah bukan?? Suasana yang sangat mendukung mata kita untuk melihat kelautan lepas. Tetapi ada sedikit yang mengganggu pemandangan, apa itu?? O..ternyata pantai ini juga merupakan sebuah pelabuhan. Disisi tepi pantai yang lain ada banyak container disana, yang siap untuk dikapalkan (masuk kapal). Suaranya terdengar bising ditelinga kami. Jadi, selain ada suara kicauan burung, suara angin, dan suara deburan ombak, ada suara aktifitas ditempat yang banyak container itu. Tak berlama-lama berada ditempat point view ini, selanjutnya, kamipun berjalan meninggalkan pemandangan laut lepas yang indah.

IMAG1086

Kembali berjalan menyusuri jalan bagi pejalan kaki, rasa-rasanya tempatnya masih begitu ramai. Masih banyak orang yang sedang jogging, juga bersepeda, entah itu seorang diri, ataupun bersama keluarga. Saat melanjutkan perjalanan itulah, kami menengok kearah tempat berkemah. Memang ada yang berkemah?? Banyak sekali yang berkemah ditempat ini, kawan. Tetapi, harap berhati-hati dengan mematuhi segala aturan dalam berkemah ditempat ini. Jadi, ada tempat khusus (area khusus untuk berkemah). Tempatnya begitu rindang dengan banyaknya pepohonan, disertai rerumputan hijau yang lebat. Selain itu, tempat berkemahnya ini, berada ditanah yang lebih tinggi. Jadi, sudah dapat dipastikan, kalau berkemah ditempat ini, langsung menghadap kearah laut. Dengan diketinggian tanah tersebut, akan semakin mempermudah pengelihatan kearah indahnya lautan lepas. Aturan dalam berkemah ini jelas, dan bisa dibaca dipapan petunjuk, ataupun ditempat informasi. Bila ingin berkemah, maka kita harus mendaftar dulu kepihak yang berwenang. Kalau sudah mengantongi ijin berkemah, maka sudah bisa mendirikan tenda-tenda kemah. Tetapi ada satu lagi yang harus dipatuhi, tidak boleh menyalakan api selama berkemah. Artinya, berkemah disini tidak ada acara api unggun, maupun acara bakar-bakar jagung seperti kebanyakan yang kita tahu. Tidak boleh memasak, dan menyalakan api, lantas bagaimana makannya?? Segala sesuatunya sudah diperhitungkan dengan cermat oleh pengelola. Disini, ada restoran cepat saji. Jadi, kalau berkemah tidak perlu repot memasak makanan sendiri, tinggal beli saja ditempat yang sudah disediakan.

IMAG1066

Lanjut ketempat yang lain. Kali ini saya dan suami menuju kesebuah point view pemandangan pantai yang berbeda. Point view ini letaknya tidak jauh dari area kemah tadi. Hanya saja untuk menuju point view ini kita harus melewati pohon-pohon dengan daun bentuk love/ hati, apa itu?? Kalau didesa tempat asal saya, orang-orang menyebutnya pohon waru. Letak tempat ini, lebih mendekat kearah yang banyak container tadi. Suara bisingnya makin terdengar jelas dari sini. Tetapi, dari point view ini, kita bisa melihat kapal-kapal sandar, yang kalau dilihat-lihat itu rumah kapal. Sudah tahu kan rumah kapal, kawan?? Ya, kapal yang dijadikan rumah oleh seseorang, bagus-bagus kapalnya, tidak besar tidak juga kecil besaran kapalnya. Dan dikanan kiri area point view ini, kami dikagetkan dengan pemandangan sekitar. Lho kok seperti kampung nelayan ya?? Saya sendiri bingung. Jadi, dikanan kiri point view yang ini, disela-sela pohon waru tadi berdiri tenda-tenda seadanya, dengan beragam aktifitas disana. Mungkin tempat singgah sementara bagi nelayan-nelayan. Kapal-kapal nelayan yang kecil juga bersandar. Dan terlihat ada beberapa jemuran kain, alas/ tikar, meja, juga kursi-kursi disana.

IMAG1090

Selanjutnya, kami menuju kearah jalan yang terasa lebar dan menanjak. Terdengar pula dari sini suara burung gagak hitam dari pohon ditepi pantai. Kamipun berkesempatan melihat burung gagak yang sedang bertengger didahan, tetapi sayangnya begitu bisa dekat dibawah dahan itu, burung itu langsung terbang menjauh. Dari jalan ini, kami mengambil arah yang berbelok kekanan. Wah.. sampai dijalan ini jalannya ternyata menanjak juga. Dan disinilah tempat yang digunakan oleh banyak anak muda untuk berlatih papan skateboard! Sore itu terlihat banyak anak yang sedang bermain skateboard disana. Kalau dikira-kira usianya masih belia, seumuran anak SMP (Sekolah menengah pertama). Asik sekali mereka memainkan papan skateboard itu. Berlomba-lomba untuk menunjukkan aksi terbaik mereka, meski ada yang gagal. Tetapi itulah sebuah kesenangan tersendiri untuk mereka, pecinta olahraga skateboard. Makin gagal memainkan papan skateboard, makin bersemangat mereka untuk terus mengulangi gerakan yang terasa sulit, dan harus siap-siap bila jatuh dan cedera.

IMAG1048

Meninggalkan anak-anak yang bermain skateboard, maka sampailah kami disebuah gedung yang banyak kapal-kapalnya. Tetapi, tunggu dulu, kawan, gedung ini bukanlah bagian kawasan West Coast Park, jadi jangan masuk kesana. Hanya letaknya saja yang berdekatan. Membaca keterangan yang ada, inilah Singapore Polytechnic, bidang kelautan. Maka tak heran, kalau banyak kapal-kapal didalam sana. Nah, disamping Polytechnic inilah tempat yang saya katakan banyak kontainernya tadi, dengan suara yang bising. Sayapun melihat truk-truk container berlalu lalang disana.

IMAG1042

Lalu kamipun berjalan menjauh dari kebisingan itu, dan akan menuju ke tempat yang disebut, bird sanctuary. Untuk menuju kesana, lumayan jauh sekali, kawan. Rasa-rasanya haus sekali, entah sudah berjalan berapa kilo meter, sejak dari memasuki kawasan West Coast Park tadi. Terus, ditengah perjalanan ini, apa ada yang jual minum kalau haus begini?? Dengan sedikit bersabar terus berjalan, dan berhenti disebuah tempat yang memang disediakan khusus untuk memanggang, yang diberi nama barbeque pits. Nah, kalau diarea kemah tadi tidak diperbolehkan untuk menyalakan api dalam bentuk apapun, lain halnya disini di barbeque pits. Disini, kita bisa panggang-panggang, sepuasnya. Enak kan tempatnya?? Sambil duduk-duduk di barbeque pits ini, langsung mata bisa melihat minuman didekat toilet. Memang penjual minuman ada didekat toilet?? Tentu saja tidak, kawan. Maksud saya, didekat toilet itu ada vanding machine, bisa beli minuman disitu asalkan bawa uang receh. Mulailah saya agak was-was, takut kalau tidak terbawa uang recehnya, bisa tidak minum sampai keluar kawasan West Coast Park. Hatipun lega, ternyata uang recehnya terbawa, dan kamipun membeli pokka green tea, dengan harga $S 1, 30/ botol kecil. Tak berapa lama berjalan menjauh dari vanding machine, ternyata ada tempat minum. Jadi, kalaupun tidak membawa uang receh untuk membeli minum di vanding machine, keringnya tenggorokan masih bisa terselamatkan oleh tempat minum yang disediakan ini.

IMAG1049

Setelah melewati terowongan, dimana diatasnya lalu lintas begitu padat oleh truk-truk container, kita langsung menuju kesebuah tempat air mancur disebuah kolam. Lagi-lagi disini ada peringatan, dilarang memancing ikan, menangkap kepiting, dan kerang. Bila tidak mematuhinya, maka siap-siap kena denda $S 5.000. Dikolam yang ini, ikan-ikan tidak terlihat muncul kepermukaan air. Sangat berbeda di Marsh Garden sebelumnya. Ditepinya, saya tak melihat ikan-ikan didalamnya. Mungkin karena sudah senja, waktu sudah menunjukkan jam 6 sore waktu itu. Tetapi jam 6 sore di Singapura masih terang benerang. Yang membuat agak kecewa, air mancurnya, tidak menjulur sempurna. Hanya terlihat seperti air yang sedang menguap saja.

IMAG1080

Untuk menuju Bird Sanctuary, dari air mancur ini, tempatnya tidaklah begitu jauh. Hanya tinggal butuh beberapa langkah saja, Bird Sanctuary sudah mulai terlihat. Tetapi, saya bertanya-tanya, benar bukan Bird Sanctuary-nya yang ada didepan mata?? Dalam bayangan saya, yang namanya Bird Sanctuary, pastinya tempatnya serupa sangkar raksasa. Tetapi ini…?? Disini berbeda, burung-burung disana tetap terbang bebas, tidak berada dalam sangkar raksasa. Tetapi dibuatkan sebuah habitat alam liar, yang sungguh nyata, sehingga banyak burung nyaman bersarang disana. Dan nyatanya, banyak terdengar kicauan burung-burung. Dan yang membuat saya berdecak kagum, ketika berjalan ditrack disekitar bird sanctuary tersebut, saya dan suami melihat banyak sarang-sarang burung diranting-ranting pohon, dilengan-lengan pohon yang kokoh. Entah jenis burung apa yang ada disana. Yang pasti, sarangnya lumayan besar. Sayangnya, kami tak melihat burung-burungnya dengan jelas, hanya sekilas terlihat beterbangan, dan suara-suaranya yang menyambut senja.

IMAG1081

Dari Bird Sanctuary (tempat perlindugan burung), saya dan suami menuju tempat yang disebut Dog Run, atau tempat dimana anjing-anjing bisa berlari bebas. Karena memasuki kawasan West Coast Park, bila membawa anjing, maka ada aturan agar anjing yang dibawa diikat selama jalan-jalan. Setelah sampai di area Dog Run ini, barulah anjing-anjing bisa dilepas dari talinya, dan tentu saja langsung akan kegirangan berlari kesana-kemari. Dog Run ini, tempatnya sangatlah luas. Saat itu kami melihat ada seekor anjing yang baru saja dilepaskan talinya oleh tuannya. Dan segeralah anjing jenis Akita dengan warna putih bersih itu, berlari gesit mengejar kelompok burung-burung jalak yang sedang asik berada didalam area Dog Run.

IMAG1091

Selama mengamati pergerakan anjing Akita milik seseorang itu, tidak sengaja ada seekor tupai yang sedang berlari, melompat, dipohon yang tepat berada didepan suami. Dengan hati-hati didekati, dalam jarak batas tertentu agar si tupai tidak kaget dan melompat menjauh. Tupai itu terlihat asik sekali sedang berputar-putar dibatang pohon itu, sambil sesekali berayun dengan dua kaki belakang saja, sementara dua kaki yang depan terlihat mengenggam biji-bijian. Setelah diamati ternyata…si tupai sedang asik makan biji-bijian yang digenggam dengan dua kaki depannya. Sungguh pemandangan yang langka yang belum pernah kami temui sebelumnya. Melihat tingkah polah alami hewan tupai.

IMAG1053

Karena hari sudah mulai gelap, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, maka kami harus segera mengakhiri perjalanan kami di West Coast Park. Setelah puas mengamati tupai, kamipun berjalan kesebuah halte bus terdekat untuk kemudian kembali pulang kerumah. Haltenya tidaklah jauh dari Dog Run tadi. Jadi, kami keluar dari West Coast Park, melewati pintu yang berbeda ketika masuk tadi. Sebuah jalan-jalan yang menyenangkan buat kami. Bisa menikmati suasana pantai, tetapi sekaligus bisa menikmati suasana taman, beserta sisi alam liarnya. Ya, ini adalah sebuah perjalanan yang berbeda dan membuat kami jatuh hati dengan West Coast Park.

Catatan :

  • Dilarang meng-copy paste tulisan/ artikel saya ini, tanpa menyertakan sumber/ linknya, blog juga nama penulis, yaitu saya sendiri, Acik Mdy / Acik Mardhiyanti
  • Semua gambar/ foto dalam tulisan/ artikel ini adalah milik pribadi/ dokumentasi pribadi, yaitu saya, Acik Mdy/ Acik Mardhiyanti. Oleh karenanya dilarang untuk seenaknya mengambil gambar/ foto dalam artikel ini, tanpa menyebutkan sumber, linknya.

Menyambangi Chinese Garden, Bertemu Hua Mulan Hingga Master Oogway

 
IMAG1497

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Demi mengisi hari libur nasional (Singapura), 1 may 2013, kemarin hari rabu. Kami berembug (musyawarah), kira-kira mau kemana liburan nasional kali ini. Saya inginnya sih ke pasar malam yang ada di Jurong East. Sementara suami mengajak ke Chinese garden. Setelah beberapa saat, ya saya setuju saja ke Chinese Garden, asal tempatnya tak jauh. Dengan pertimbangan, sudah setahun tinggal di Bukit Batok, tapi kok belum pernah ya ke Chinese Garden?? Ada apa si di sana (Chinese Garden)??

IMAG1535

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Siang itu setelah makan siang yang telat, kamipun menuju halte terdekat. Untuk menuju kearah Chinese Garden, bisa menggunakan bus dengan nomer 66. Kalaupun ingin menggunakan MRT juga bisa, tapi harus kestasiun MRT dulu. Masalahnya, stasiun MRT nya lebih jauh ketimbang dengan halte bus. Perjalanan menuju Chinese Garden, hanya butuh beberapa menit saja dari tempat tinggal kami ini. Hanya melewati empat halte saja kami sudah berada di Chinese Garden. Eits, tunggu dulu, ternyata tidak langsung turun sampai ketempat tujuan. Karena untuk menuju kesana, kami harus berjalan kaki lagi, yang kalau diperkirakan lumayan jauh. Berhubung, pemandangan sekitar sangat sejuk (banyak pohon dan perdu, aliran sungai, serta danau), tak terasa maka kamipun sudah sampai ditempat yang dituju. Inilah…Chinese Garden di Singapura….

IMAG1534

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Saya sudah tidak heran lagi ketika memasuki pintu gerbang Chinese Garden harus melewati jembatan yang berwarna merah, yang diujung jembatan ada patung singanya. Kenapa?? Ya, ini tandanya memang yang namanya Chinese Garden, pasti pernak-pernik yang ada didalamnya berhubungan/ identik dengan khas-khasnya orang cina, seperti warna merah ini. Jembatan ini terbuat dari kayu, dengan alas dasar berwarna cokelat kayu, warna asli kayunya, dan berwarna merah dipembatas pinggirnya. Dikanan-kiri jembatan, mata kita hanya akan disuguhi pemandangan air (danau) dan pepohonan, juga ikan-ikan yang ada didalam air. Setelah sampai diujung jembatan, kita akan disambut oleh dua singa. Jangan takut, itu hanya patung singa yang mengucapkan selamat datang….Dan ada sebuah ban lengkap dengan tali penarik yang menggantung, yang bisa dipakai untuk menolong orang, apabila ada yang tercebur keair.

IMAG1532

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Sebelum memasuki pintu gerbang (yang ada disebelah timur), disebelah kanan ada penjual makanan kecil dan minuman. Bagi yang ingin membawa makanan dan minuman kedalam dan lupa tak membawanya, bisa membelinya disini. Saya dan suamipun tak membawa makanan kecil dan minuman, tapi kami tidak juga berminat membeli makanan dan minuman untuk dibawa masuk. Perkiraan, didalam pasti ada juga yang menjual minuman. Setelah itu, kamipun memasuki pintu gerbangnya dengan gratis…Ya, untuk memasuki Chinese Garden, kita tidak perlu membeli tiket. Jadi ini wisata gratis?? Yup, benar sekali…wisata gratis yang pasti akan mengesankan dan takkan mengecewakan!

IMAG1503

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Berhadapan langsung dengan pintu gerbang ini, kami langsung dihadapkan dengan sebuah peta. Waduh…kok luas sekali ya ternyata?! Ya, Chinese Garden ini terkoneksi dengan Japanese Garden. Ambil arah kanan, maka kami akan menuju Chinese Garden, ambil kearah kiri, kami akan menuju ke Japanese Garden. Melihat peta Chinese Garden nya saja sudah begitu luas untuk dijelajahi, pasti waktunya tidak cukup. Dipeta ini kami tahu jam berapa garden ini buka dan tutup. Kalau Chinese Garden, buka jam 6 pagi tutup jam 11 malam. Japanese Garden, buka jam 6 pagi tutup jam 7 malam. Karena sedari awal, niat kami datang untuk menyambangi Chinese Garden, maka saya dan suamipun memilih kearah yang menuju Chinese Garden, kearah kanan dari peta. Bila waktunya cukup, ya, ke Japanese Garden, kalau tidak cukup waktunya, ya lain kali datang lagi tapi focus ke Japanese Garden.

IMAG1506

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Berjalan kearah kanan, tak jauh dari peta, telah berdiri dengan megah dan indah sebuah bangunan pagoda nan tinggi menjulang (high rises pagoda). Menurut saya bangunannya memang khas sekali dan memang indah. Karena tingginya pagoda itu, kamipun urung untuk melangkah naik hingga kelantai tujuh. Mengingat luasnya Chinese Garden, dan ada banyak tempat yang hendak kami sambangi, jadi tidak ingin terasa lelah duluan. Memang boleh masuk dan naik keatas ya?? Tentu saja boleh, tanpa dipungut biaya apapun. Semua pengunjung boleh masuk dan naik ke pagoda. Pagoda tinggi ini, tentu saja bernuansa warna merah menyala pada atapnya, berelif indah menawan. Itu rerif dipagodanya kalau saya bilang seperti motif batiknya Singapura. Hewan-hewan simbol shio juga menghiasi pagoda tinggi ini. Patung ayam kecil misalnya, menghias disetiap sudut pada atap pagoda. Untuk dilantai atas selanjutnya, saya kurang tahu apakah patung ayam ini masih menghiasi sudut atap pagoda, ataukah berganti dengan simbol shio yang lainnya, karena kami tidak masuk dan naik kelantai atas pagoda. Tapi kalau saya kira-kira, sepertinya sama, masih patung ayam yang menghias disetiap ujung atapnya. Sementara, disekeliling pagoda, tampak taman yang ditata rapi. Tanam-tanaman ditata sedemikian rupa, hingga menambah kesejukkan mata memandang sekeliling. Bunga asoka, bunga kamboja, ikut menghiasi keindahan taman disekitar pagoda.

IMAG1510

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Lanjut terus menyusuri arah kanan, kami menemukan delapan orang pahlawan, ya sang heroes dari daratan Cina. Mereka ini dalam bentuk patung-patung yang menjulang dan gagah ditengah-tengah tanaman bunga asoka yang berwarna-warni bak pelangi. Yang pertama kami jumpai adalah Lin Zexu. Siapakah dia?? Saya juga baru tahu setelah ke Chinese Garden ini. Dari keterangan yang ada di bawah patungnya itu kami mengetahui, bahwa ia lahir dimasa Dinasti Qing. Ia adalah seorang court official, yang melarang impor opium, dan menyita serta memusnahkannya (opium). Selanjutnya ada Zheng He. Hidup semasa Dinasti Ming. Seorang navigator dan telah berkunjung tujuh kali ke Asia selatan-timur. Hebat kan?? Ketiga, ada Wen Tianxiang, hidup semasa Dinasti Sung bagian selatan. Wen Tianxiang, seorang pahlawan pemberani dimedan perang. Ketika ditangkap, Wen Tianxiang menulis lagu dan puisi. Nah, inilah hero selanjutnya, sang jenderal favorit saya, Hua Mulan…Suami saya sempat terkejut, karena dalam pikiran suami saya, Hua Mulan hanyalah cerita fiksi sebuah film. Tak pernah berpikir bahwa itu adalah legenda dan kisah nyata sang heroic dari daratan Cina. Tapi ternyata…sebuah legenda yang nyata dari daratan Cina. Saya sendiri pernah melihat filmnya versi kartun yang dibuat oleh Disney, yang berjudul Mulan. Versi film mandarinnya juga sudah menontonnya. Siapa kah Hua Mulan?? Hua Mulan lahir di Shang Qui, diakhir Dinasti Wei sebelah utara. Legendanya sama seperti di filmnya, Hua Mulan menyamar sebagai seorang pria untuk bergabung dengan tentara, untuk menggantikan ayahnya. Hua Mulan memperlihatkan sebuah persamaan derajat antara wanita dan pria. Ooo seorang Kartini dari daratan Cina?? Barangkali bisa begitu. Kelima ada Yue Fei, yang seorang jenderal juga. Jenderal semasa Dinasti Sung bagian selatan. Ia terlahir dari keluarga miskin. Sebelum berangkat kemedan perang, ibunya mentatoo punggungnya dengan “jin zhong bao guo”. Maksudnya agar Yue Fei melayani/ melindungi tanah kelahirannya dengan setia. Lanjut ke sang pahlawan berikutnya, ada Guan Yu. Guan Yu juga adalah seorang jenderal, jenderal Shu Han dari era tiga kerajaan. Dia dihormati sebagai Guan Gong karena menjadi “immortal tales”. Yang ke tujuh ada Qu Yuan. Siapa Qu Yuan ini?? Lahir di Negara bagian Chu selama periode perang. Dia adalah seorang konselor. Ketika negeranya (Chu) diambang kehancuran, Qu Yuan, menenggelamkan diri di sungai Mi-Lo sebagai bentuk loyalitasnya. Kini, orang-orang makan nasi dumpling dan balap perahu naga untuk mengenang kematiannya. Yang terakhir..adalah..Confucius. Siapakah dia?? Dilahirkan dinegara bagian Lu. Dia adalah seorang filosofis dan pendidik. Ajarannya adalah kemanusiaan, dan kepatutan, yang ditulis didalam “Analect”. Kalau saya pernah lihat filmnya, ajarannya itu ditulis dalam rangkaian bamboo selayaknya sebuah buku.

IMAG1539

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Selesai bertemu dengan pahlawan-pahlawan dari daratan Cina, kamipun melanjutkan perjalanan dengan terus menyisir arah kanan yang telah ditunjukkan oleh si peta tadi. Nah sampailah di sebuah toilet yang unik dank has berwarna merah. Uniknya untuk toilet pria diberi petunjuk gambar kaisar. Sementara untuk toilet wanita diberi petunjuk dengan gambar sang ratu. Semuanya benar-benar identik dengan Cina nih?? Ya iya pastinya, namanya juga Chinese Garden…

IMAG1541

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Tak jauh dari toilet yang unik tadi. Kini giliran tiba disebuah pagoda. Pagoda lagi?? Yup, benar sekali pagoda lagi. Kali ini kami sampai pada Twin Pagoda. Pagoda kembar ini bentuknya tak jauh beda dengan pagoda tingggi tadi. Berwarna merah pada atapnya, berhiaskan patung ayam disetiap sudut atapnya. Hanya lebih pendek, tiga tingkat saja. Pagoda kembar ini sangat menarik lhoo..Apa yang menarik dari si pagoda kembar ini?? Letaknya, satu pagoda ada dipinggir danau, yang satu lagi dibangun agak menjorok kedanau. Kita bisa melihat banyak ikan disekitar pagoda kembar ini. Ikannya besar-besar, dan tampak oleh mata bila melihatnya. Selain ikan, ada juga banyak keong disini. Karena begitu banyaknya hingga kitapun bisa melihat telur keong yang menempel disela-sela kaki pagoda. Pemandangannyapun tak kalah menarik, apabila kita naik keatas pagoda hingga kelantai tiga. wow…Serasa dinegeri para dewa.

IMAG1542

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Beralih ketempat yang lain, kali ini saya tertarik dengan sesuatu yang dipasang didinding semacam pagar. Saya tertarik apa sih yang ada disana. Dari kejauhan nampak seperti gambar-gambar biasa. Tetapi begitu mendekat, ternyata yang menempel didinding itu adalah material sisa-sisa. Seperti pipa, plastic, sendok, garpu, pecahan-pecahan kaca, pipet (sedotan). Ya, itulah material sisa-sisa yang dimanfaatkan untuk membentuk sebuah karya seni, yaitu hewan-hewan zodiac.

IMAG1616

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Selesai mengamati karya seni material sisa, kamipun menuju sebuah museum untuk bertemu master Oogway (si kura-kura yang ada di film Kung Fu Panda). Saya sebut master Oogway, karena anak-anak pada berteriak memanggil “Oogway….” pada si kura-kura. Memang ada ya museum kura-kura?? Tentu saja ada, yang telah mendapat pengakuan dari Guinness World Record, karena mempunyai koleksi terbesar (kura-kura), sekitar 3.456 koleksinya. Wah…banyak sekali ya...Yuk kita lihat ada kura-kura apa saja didalam museum kura-kura yang ada di Chinese Garden ini.

IMAG1556

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Untuk memasuki museum master Oogway ini ternyata harus membeli tiket, kawan. Tapi…jangan takut dengan harga tiket ini. Kemarin itu saya dan suami beli dua tiket hanya mengeluarkan uang $S 10 saja. Jadi perorang tiketnya $S 5. Murah kan?? Ditempat pembelian tiket ini, kita juga bisa membeli kangkung seharga $S 2. Buat apa kangkung?? Untuk memberi makan kura-kura yang ada didalam. Asik kan…ini masuk museum kura-kura apa masuk kebun binatang ya??

IMAG1557

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Memasuki museum ini, langsung kita akan disambut oleh tiga deret ponds disebelah kanan pintu masuk. Disana ada Asian Soft Shelled Turtle, Alligator Snapping Turtle, dan African Tortoises. Dan peringatan, jangan coba-coba untuk mendekat ke Alligator Snapping, karena..sekali gigit tulang bisa remuk. Sayapun tak berani untuk mendekat, hanya melihat dari jauh. Karena saya sendiri lihat saja sudah takut, mirip buaya. Saat sedang asik melihat-lihat tiga ponds itu, tiba-tiba saja diikuti oleh kura-kura yang terlepas. Eh tunggu dulu ini kura-kura melarikan diri dari kandangnya atau memang sengaja dilepas ya?? Ternyata ini nih gunanya membeli kangkung, untuk memberi makan kura-kura darat ini. Banyak pengunjung yang menyukai moment ini. Moment langka dan seru, seru karena bisa dikejar-kejar kura-kura kalau kita tidak memberinya makan. Selain membeli kangkung seikat dengan harga $S 2, saya dan suami juga membeli makanan kura-kura yang telah diplastik rapi dan dihargai $S 1 saja. Kami membelinya setelah berada didalam museum, ditengah-tengah kolam yang telah dipenuhi oleh kura-kura. Untuk membeli makanan yang telah dipack ini, kita tinggal memasukkan koin $S1 kedalam kotak, dan tinggal mengambil pack makanan kura-kura sesuai harga, didalam sebuah wadah yang ada disebelah kotak koin tadi. Selanjutnya…nikmatilah sensasi memberi makan kura-kura yang jumlahnya mungkin mencapai ratusanan!

IMAG1573

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Didalam museum kura-kura ini, banyak ponds yang diisi oleh jenis-jenis kura-kura. Selain tiga jenis kura-kura yang saya sebutkan diatas, diponds yang lain ada Malaysian Giant Turtle, juga ada Asian Brown Tortoise. Kura-kura yang berada diakuariumpun banyak jenisnya. Beberapa diantaranya, Leaf Turtle, Pig Noise Turtle, Indian Star Tortoise, Burmese Peacock Turtle, Yellow Spotted Amazon River Turtle, Snake-necked Turtle, Matamata, Red-Footed Tortoise, Golden Temple Turtle, dll.

IMAG1596

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Museum ini tidaklah besar, namun kami sangat puas berada didalam museum master Oogway ini. Selain bisa dekat dengan kura-kura yang belum pernah sekalipun memegang cangkangnya sebelumnya, kami juga jadi tahu banyak jenis kura-kura yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Karena sebelumnya yang saya tahu hanya penyu hijau, dan jenis belimbing saja. Setelah masuk museum ini, paling tidak saya bisa tahu banyak lagi jenisnya. Sangat menarik dan sangat memberikan banyak pengetahuan. Dimuseum ini, disediakan juga tempat untuk kura-kura bertelur. Saat melewatinya kami tak melihat telur-telur itu. Atau mungkin saja kami yang tak memperhatikan. Karena spot itu (tempat untuk bertelur), tempatnya dibuat berbatu-batu, dan diberi gua-gua buatan . Yang pasti seru dan asik masuk kemuseum kura-kura.

IMAG1592

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Puas melihat kura-kura, agenda selanjutnya adalah mencari penjual minuman. Tepat seperti tebakan semula, didalam pasti ada yang jual minuman. Nah tempatnya ada dimuseum kura-kura ini. Sambil beristirahat sebentar, duduk-duduk dan minum, kami menuju sebuah tempat yang diberi nama “Fishes paradise”. Sebentuk kolam ikan yang lumayan besar, dengan dikelilingi bangunan khas tiongkok. Ikannya pasti ikan koi, mulai dari yang kecil hingga yang besar ada disini. Sungguh pemandangan yang menentramkan. Bila ingin memberi makan ikan-ikan ini boleh saja tapi jangan sembarangan. Kita sebagai pengunjung boleh memberi makannya (ikan), dengan ikut bergabung dengan pengelola saat memberi makan, yaitu jam 1 siang sampai jam 1.30 siang.

IMAG1623

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Dibelakang bangunan museum kura-kura ini, kita bisa melihat tanaman padi juga. Ya, dengan melewati batu-batuan yang unik, yang ada disamping bangunan museum kura-kura, kami langsung menuju sebuah tempat yang ada tanaman padinya. Wah beruntung sekali saat kami datang, itu padinya sepertinya sudah mau panen. Ah, mungkin pemandangan biasa buat kawan-kawan sekalian. Tetapi buat saya pribadi, sudah lama sekali tidak melihat sawah-sawah dengan padi-padi yang menguning. Indah sekali…serasa didesa.

IMAG1621

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Di Chinese Garden ini, ada sebuah tempat yang bernama Garden of Fragrance. Melihat papan pemberitahuan itu saya agak bingung, apanya yang wangi ya?? Setelah beberapa saat memasuki garden itu, hidung saya mulai mencium bau harum seperti bunga melati. Dari manakah asal bau harum itu?? Ternyata bau harum itu berasal dari bunga-bunga yang ada disekitar taman itu. Saya sudah sering melihat tanaman ini ditaman tempat tinggal kami. Memang kalau sedang berbunga baunya luar biasa wangi. Saya tidak tahu apa nama tanaman bunga ini, kalau saya boleh katakan inilah melatinya Singapura. Nah di Garden of Fragrance ini, jelas tercium bau wangi, karena disitu ditanam banyak bunga-bunga ini.

IMAG1636

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Sebenarnya kami ini sangat ingin melihat Bonsai Garden. Namum, setelah sampai ditempat, ternyata Bonsai Garden sudah tutup, pintu gerbangnya sudah terkunci rapat. Ya, mungkin karena hari sudah sore, jadi tutup Bonsai Garden. Kecewa?? Iya pasti, karena dilihat dari luar terlihat berbagai macam bonsai-bonsai yang indah. Ya, harap maklum, saya ini suka dengan tanaman, jadi sangat tertarik dengan Bonsai Garden. Tetapi rasa kecewa ini, terobati dengan melihat sekilas Bambu Garden.

IMAG1640

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Perjalanan kami di Chinese Garden berlanjut dengan menyeberangi danau dengan melewati batu-batuan yang memang sengaja disusun sebagai sebuah jembatan. Ya, serasa berada disungai. Ditempat ini banyak terlihat ikan-ikan yang sangat besar sekali. Kalau ingin melihatnya, tebarkan saya remahan kue. Kebetulan saat itu ada pengunjung yang menebar remahan kue, jadi kami bisa melihat ikan-ikan yang besar itu. Selain itu, saya juga bisa melihat telur-telur keong lebih dekat. Wah…telur-telur keong ini mengingatkan akan hobi saya dulu sewaktu masih tinggal dirumah orangtua, yaitu memelihara keong-keong didalam sebuah kolam mungil.

IMAG1618

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Perjalanan kami di Chinese Garden ini, berakhir di sebuah tempat yang bernama “Garden of Abundance”. Ini garden apa ya?? Didalam Garden Abundance ini, kita bisa menemukan shio kita masing-masing. Ya, kata gampangnya, ini adalah sebuah taman shio. Patung hewan shio ada disini, ayam, naga, harimau, tikus, kuda, monyet, kelinci, lembu, kambing, ular, babi dan anjing. Masing-masing dari patung hewan shio ini dilengkapi dengan keterangan tahun-tahun kelahiran beserta karakter-karakter dari masing-masing shio. Nah, silahkan cari yang mana shio punya kita dan baca karakter diri kita. Sama atau tidak ya antara karakter shio dengan karakter kita??

IMAG1651

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Inilah cerita perjalanan kami di Chinese Garden Singapura dalam rangka mengisi hari libur nasional (1 May 2013). Bila kawan sekalian ada yang ingin berkunjung/ berlibur ke Singapura, coba saja datang ke Chinese Garden. Karena menurut hemat saya, wisata ini murah meriah, tanpa membayar tiket masuk yang mahal, tetapi kita akan dipuaskan dengan keindahan yang ada didalamnya.

IMAG1668

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Catatan :
  • Semua gambar/ photo dalam tulisan/ artikel ini adalah dokumentasi pribadi/ milik pribadi, Acik Mdy/ Acik Mardhiyanti
  • Dilarang meng-copy paste tulisan/ artikel ini, juga semua gambar/ photo didalamnya tanpa menyertakan sumbernya, link tulisan/ artikelnya, blog juga nama penulisnya, yaitu saya, Acik Mdy/ Acik Mardhiyanti






















Menikmati Segarnya Soto Winong Yang Menggelegar

 

IMAG0878

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya dan suami memilih untuk berlibur ke Yogyakarta, kami menikmati banyak hal disana. Selain mengunjungi tempat-tempat wisata, berkunjung keseorang kenalan, kami juga memburu banyak makanan. Tidak hanya memburu nasi kucing, tempe penyet, sate, beragam gorengan, kami juga memburu soto winong. Salah satu menu makanan wajib yang telah terdaftar dalam deret makanan yang akan kami nikmati selama liburan tiba, adalah soto winong.

Sebelum mengakhiri masa liburan, kami memang benar-benar memberi waktu untuk memburu soto winong ini. Soto winong bukanlah makanan yang baru kemarin sore saya kenal dan tahu. Sudah sejak masa menempuh pendidikan di kota pelajar ini (Yogyakarta), saya sudah mengenal seperti apa itu soto winong. Dengan dikenalkan oleh seorang ibu kos pada masa itu, yang sering membeli soto winong, dan sering bercerita betapa nikmat dan segarnya soto winong ini. Sebuah kesegaran yang selalu dirasakan dan dirasa berbeda, itulah daya tarik soto winong.

Ternyata tempatnya masih sama seperti yang dulu. Soto winong ini beralamat di Jalan Ngeksigondo No. 4 Yogyakarta, dengan nomer telepon 0274-383360. Untuk menuju kesana, lebih mudah dengan menggunakan trans Jogja, turun di shelter Ngeksigondo. Kalau sudah turun dishelter Ngeksigondo ini, tinggal menyeberang jalan saja, karena soto winong ada berada persisi diseberang shelter Ngeksigondo ini. Dari saya pertama kali kenal tempat ini (soto winong), hingga terakhir kemarin sewaktu liburan di Yogyakarta, masih sama, warungnya berada disebelah toko kayu-kayu. Tempatnyapun mudah dikenali, karena memasang plang nama besar didepannya. Selain itu kalaupun tanya orang disekitar situ juga pasti akan tahu dimana soto winong berada. Sekalipun tempatnya hanya warung yang biasa saja, dan tak banyak perubahan dari dulu hingga sekarang, namun pembelinya banyak, terutama dijam-jam makan. Pembelinya dari semua kalangan, kalangan pegawai, mahasiswa, juga warga .

Waktu itu saya dan suami memesan masing-masing satu porsi perorang ditambah dengan masing-masing segelas minuman (es jeruk). Melihat semangkok soto winong dihidangkan didepan mata, rasanya sudah ingin menelan panas-panas. Benar-benar menggugah selera makan, dengan perpaduan tauge, kol, daging sapi, ditambah seledri dan bawang goreng. Sebelum memakannya, saya memberinya air jeruk lemon yang telah disediakan. Untuk masalah kecap, saya memilih tak mencampur soto winong ini dengan kecap. Untuk saya pribadi suka soto yang bening-bening saja, dengan rasa asam karena dicampur perasan air jeruk lemon tadi. Buat saya, soto winong ini ajaib, saya yang tak pernah mau makan daging-dagingan, tapi takluk didepan soto winong.

Rasanya benar-benar segar, dengan kuah berbumbu special warung soto winong dengan rupa yang bening, membuat kami hingga menambah porsi makan. Tambah lagi…memang masih muat tuh perut?? Saya dan suami tak peduli, habis segar banget ditengah cuaca panas waktu itu, benar-benar santapan makan siang yang pas! Tanpa sungkan dan malu pada pembeli yang lain, kami memesan untuk masing-masing satu porsi lagi! Mungkin pembeli yang lain yang kebetulan semeja dengan kami dan duduk didepan kami bertanya-tanya, “ini orang rakus amat ya…”. Itu baru soto winongnya saja yang baru nambah, padahal saya juga memesan lagi es jeruk. Belum lagi kami berdua juga menghabiskan sebungkus keripik tempe, sebungkus kerupuk, juga sebungkus emping melinjo, untuk menemani soto winong saat disantap. Benar-benar dahsyat sekali pengaruh soto winong ini untuk kami. Benar-benar membuat kami membabi buta, mulut rasanya ingin makan terus, dan perut sepertinya tak merasa kenyang-kenyang.

Tak perlu khawatir masalah harga, karena daftar harganya sudah dipasang besar-besar didalam warungnya. Untuk saat itu sewaktu kami makan disana, harganya bermacam macam. Seporsi soto campur yang kami pesan harganya Rp. 8.000. Ada juga jenis soto yang lain yang bisa dipesan disoto winong ini, berikut daftar harganya, untuk soto pisah harganya Rp. 9.000; , soto babat harganya Rp. 8.000; , iso goreng harganya Rp. 8.000; , dan nasi putih seporsi harganya Rp. 2.500. Sementara untuk minuman juga sudah dipasang harga, soda gembira harganya Rp. 6.500; , susu (panas/ dingin) dihargai Rp. 3.500; , tape (memakai es/panas) harganya Rp. 2.500; , teh (panas/ dingin) harganya Rp. 2.500; , Kopi (panas/ dingin) juga Rp. 2.500; , dan jeruk (panas/ dingin) juga sama harganya Rp. 2500;. Lah..lengkapkan…sudah ada daftar harganya jadi tak perlu takut masuk warung soto winong, tinggal pesan saja, dan nikmati kelezatannya…

IMAG0879

Dan jangan salah tempat bila kebetulan datang ke Yogyakarta dan akan menghampiri soto winong yang satu ini. Warung soto winong ini hanya satu-satunya, kalau ada tempat lain yang menamakan warung soto winong jangan dipercaya, karena soto winong yang sudah saya kenal sejak bertahun-tahun yang lalu ini tidak membuka cabang. Soto winong yang asli, ya, hanya di Jalan Ngeksigondo No. 4 Yogyakarta. Jadi, jangan salah tempat, kalau salah tempat rasa soto winong yang segar menggelegar itu takkan bisa didapatkan.

Catatan :

  • Gambar/ photo dalam artikel/ tulisan ini adalah milik pribadi/ dokumentasi pribadi, Acik Mdy/ Acik Mardhiyanti
  • Dilarang meng-copy paste tulisan/ artiikel saya ini tanpa menyertakan sumbernya, link tulisan/ artikelnya, blog, juga penulisnya, yaitu saya, Acik Mdy/ Acik Mardhiyanti

Kres…Kres…Renyahnya Menikmati Ikan Bakar Gambiran di Yogyakarta

 

IMAG3112

Membicarakan tentang kota Yogyakarta rasanya tidak akan ada matinya. Banyak hal menarik, unik, dan selalu membuat ketagihan untuk menyambanginya. Salah satunya adalah makanannya. Selain bisa menemukan jajanan tradisional disana, kita juga bisa menemukan menu-menu makanan yang sangat menggugah selera. Ini nih salah satunya, Ikan Bakar Gambiran! Ditempat itu kita bisa menikmati lezatnya si ikan bakar yang begitu crispy, kres..kres...

Kalau mau diingat-ingat dulu didaerah gambiran-Yogyakarta, belum ada nih tempat makan bernama Ikan Bakar Gambiran, atau mungkin saya yang tidak tahu ya ??... Sewaktu mengambil liburan akhir tahun kemarin, karena semua hotel sudah banyak yang penuh (daerah Prawirotaman), maka terpaksalah kami memesan hotel yang ada di Jalan Perintis Kemerdekaan-Yogyakarta untuk dua hari saja, sisanya pindah kesalah satu hotel yang ada di Prawirotaman. Berhubung berada ditempat baru, kami suka melihat-lihat ada apa saja disekitar, terutama ada penjual makanan apa saja sih yang disekitar hotel. Maka bertemulah untuk yang pertama kalinya, tempat makan yang bernama Ikan Bakar Gambiran.

IMAG3097

Ikan Bakar Gambiran letaknya berada didaerah Gambiran, Umbulharjo-Yogyakarta. Lebih tepatnya ada di Jalan Perintis Kemerdekaan No 62B, Yogyakarta. Bila hendak datang tetapi kesulitan menemukannya, Ikan Bakar Gambiran ini letaknya tidak jauh dari XT square Jogja. Atau tahu terminal lama Yogyakarta?? Ya letaknya tak jauh dari sana. Belum ketemu juga??..Maka lihatlah Hotel Bintang Fajar (BIFA), tinggal menyebrang jalan raya, maka terlihatlah Ikan Bakar Gambiran. Kalau masih repot mencarinya, langsung lihat peta saja.

IMAG3099

Masuk ketempat makan ini, sekilas ya biasa saja. Tempat masak dan tempat pembuatan minuman ada didepan sebelah kiri kita masuk. Dikanannya terdapat bangku panjang dan meja panjang berjajar. Lebih masuk kedalam ada kolam kecil yang berisi ikan-ikan mungil. Bila kita hendak memilih makan sambil santai bersila, kita bisa memilih tempat makan lesehan yang tak jauh dari kolam mungil itu. Tapi bila kita ingin menikmati makan bersama keluarga serasa dirumah sendiri berada dimeja makan, bisa memilih tempat duduk yang ada disisi lainnya. Oya, ditempat makan Ikan Bakar Gambiran free Wi-Fi lho....Saya lihat secara keseluruhan konsep tempat makan ini berkonsep pedesaan, alami/ natural, dimana bangunan ini didominasi dengan bahan bambu. Yang kurang cuma satu, tidak ada pemandangan sawah.

IMAG3096

Meski berdiri ditempat yang tidak begitu ramai, namun tempat makan ini sangat ramai pengunjung. Waktu malam hari kami hendak makan malam, kursi-kursi yang ada didalam sudah terisi penuh. Siang hari juga begitu, sama-sama ramainya. Mungkin kalau baru buka pagi hari, masih belum banyak yang datang untuk bersantap. Kebanyakan mereka yang datang adalah berkeluarga, ataupun berpasangan. Kalau yang sendirian saya tidak melihatnya, lagi pula tidak asik kan makan enak kok sendirian?!...Disini kita juga bisa lho booking tempat untuk acara makan-makan bersama keluarga besar atau bersama teman-teman. Jadi sebelum datang, meja sudah disiapkan oleh para pelayan, dan masakan juga sudah disiapkan. Atau ingin beli tapi tak mau repot datang, telpon saja nanti diantar. Mana nomer telponnnya, 0274-7171377 (Telpon/ Delivery order).

IMAG3114

Tempat makan Ikan Bakar Gambiran menawarkan menu apa saja?? Menu yang ditawarkan banyak sekali sampai-sampai saya lupa nama-nama per-menunya. Beragam masakan hasil hewan laut ada disana, sepeti cumi, udang, juga ikan. Selain itu, disini menawarkan macam-macam masakan ala cina. Sesuai dengan namanya, menu andalan/ menu primadona jelas ikan bakarnya. Ada lele bakar, gurameh bakar, nila bakar, bawal bakar. Namun bila ingin mencoba ayam bakar, Ikan Bakar Gambiran juga memiliki menu ayam bakar. Ada yang dibumbu pedas, ada yang dibumbu manis pedas, dan ada pula yang dibumbu sambal ijo. Minuman yang ditawakan juga bermacam-macam, ada soup buah, aneka jus buah, es jeruk dll...

IMAG3094

Menu yang selalu kami pilih selama beberapa kali makan disana adalah ikan bakarnya. Saya suka dengan nila bakar, suami saya suka dengan ikan bakar sambal ijo-nya. Tak hanya pesan ikan bakar, kami juga memesan lalapan (seperti biasa terdiri dari hijaunya daun kemangi, segarnya kubis, potongan tomat, dan potongan timun), sambal terong, terong bakar. Kalau ingin makan dengan nasi, bisa pesan nasi. Terkadang suami memesan menu lainnya, seperti ayam bakar dan mangut. Yang kurang apa nih?? Minumnya belum pesan, biasanya sih kami suka memesan es jeruk porsi besar. Maklum...tak pernah menemukan es jeruk di Singapura, begitu ada kesempatan minum es jeruk maka kami ini gelap mata. Tak hanya es jeruk, es tape juga es kelapa muda menjadi minuman pilihan kami.

IMG-20140319-WA0003

Semua pesanan sudah ada didepan mata, tak sabar untuk segera menyantapnya. Perlahan kami mulai sibuk dengan hidangan yang ada dipiring masing-masing. Kesan pertama ketika menikmati ikan bakar, rasanya begitu crispy! Kres kres...renyah dan terasa sekali bumbunya, begitu meresap sampai kedalam daging ikan. Hasil bakarannya pas,daging luar-dalam matang, dan kering. Mungkin kawan sekalian penasaran, keringnya seperti apa sih?? Karena kering dan begitu renyahnya, makan ikan bakar di Ikan Bakar Gambiran tak ada yang tersisa, bagian kepala ikan, ekor serta sirip tak ada yang tersisa. Semua saya makan, kecuali tulangnya yang besar itu. Bau amis ikan hilang, tergantikan oleh aroma sedap bumbu yang menusuk-nusuk hidung. Makin mantap dengan pilihan ikan bakar sambal ijo, suami saya sampai menambah porsi nasi!

IMG-20140319-WA0002

Setelah kepedasan, lidah terasa meleleh, segeralah kami menyejukkan mulut yang sudah seperti naga mengeluarkan bara api, dengan minuman dingin, yaitu es jeruk! Segar sekali rasanya....kerongkongan terasa lega terbebas dari panasnya rasa sambal. Bayangkan saja, sudah memesan terong sambal, terong bakar yang bersambal pedas, masih harus menambah menu makan dengan ikan bakar bumbu pedas. Minuman kelapa muda dan es tape ketan tak kalah segar dan nikmat. Nah untuk minuman kelapa muda, khusus disediakan dengan gula cair, bila suka manis tambahkan gula, tapi kalau tidak suka terlalu manis seperti saya, ya tidak perlu menambahkan gula cair.

IMAG3113

Masalah harga bagaimana?? Menurut saya sih tergantung ya mahal atau murah. Saya tidak bisa bilang apakah harga yang dipatok itu mahal ataukah murah. Kalau untuk ukuran gaji saya dulu sewaktu kerja dikota itu (Yogyakarta), ya jelas mahal. Tapi kalau untuk ukuran kantong mahasiswa, ya tergantung lagi, kalau mahasiswanya seperti saya dulu ya tak sanggup masuk dan makan ditempat makan ini. Jangankan dulu, kalaupun sekarang jadi seorang mahasiswa di Yogyakarta, saya tetap tak sanggup kalau harus mengeluarkan uang diatas Rp. 20.000 untuk sekali makan disana (Ikan Bakar Gambiran). Terus kira-kira berapa uang yang harus kita siapkan untuk makan di Ikan Bakar Gambiran??... Kami berdua makan disana, Ikan Bakar Gambiran, ya kira-kira Rp. 70.000; lebih. Kalau bertiga, uang yang dikeluarkan untuk bisa menikmati renyahnya Ikan Bakar Gambiran, ya diatas Rp. 100.000;-an. Mahal atau murah, silahkan kawan-kawan sekalian yang menilai.

IMG-20140319-WA0000

Nah, tertarik untuk menyantap ikan bakar yang renyah dan sedap berbumbu?? Silahkan mampir untuk mencoba, mencicipi, kelezatan ikan bakar yang ditawarkan oleh tempat makan Ikan Bakar Gambiran. Dijamin perut akan kenyang! Namanya makan pasti kenyang ya...beda kalau makan disini, tak hanya menbuat perut kenyang, lidah terasa dimanjakan dengan menikmati ikan berbumbu ala Ikan Bakar Gambiran.Selamat mencoba, salam kres..kres....

Catatan :

  • Semua gambar/ photo dalam tulisan/ artikel ini adalah milik pribadi, Acik Mdy/ Acik Mardhiyanti
  • Dilarang meng-copy paste tulisan/ artikel ini tanpa menyertakan sumbernya, link tulisan/ artikelnya, juga blog serta nama penulisnya, yaitu saya, Acik Mdy/ Acik Mardhiyanti

Temukan Nuansa Tempo Doeloe, di Kampoeng Djawa Guesthouse Yogyakarta

 

IMAG0566

Berkunjung ke Yogyakarta tentu tidak akan lepas dari tempat penginapan. “Hendak menginap dimanakah, kita?”. Pastinya itu adalah sebuah pertanyaan yang umum untuk dilontarkan, ketika berniat untuk datang berlibur ke Yogyakarta. Kecuali, kalau memang mempunyai sanak-saudara, ataupun family di kota gudheg ini, maka tak perlu repot-repot memikirkan akan tempat penginapan.

IMAG0565

Bagi kami (saya dan suami), berlibur ke Yogyakarta, pasti akan mencari tempat penginapan. Mengingat memang kami tak ada sanak family disini (Yogyakarta). Kalau teman, kenalan, ada, tetapi tidak mungkin kami akan menginap dirumahnya. Lebih enak cari penginapan saja, lebih santai, dan tidak membuat repot orang lain. Kan tujuannya memang liburan, bisa lebih dari sehari dua hari untuk menginap.

IMAG0557

Cari-mencari, akhirnya ketemulah Kampoeng Djawa Guesthouse. Melihat-lihat beberapa foto yang ada dihalaman site-nya, kami cocok. Mencari tempat yang cocok dan harga yang cocok ini, bukanlah perkara yang gampang. Pertama cocok tempat, karena kami akan menginap selama enam hari, maka mencari tempat yang nyaman. Kedua cocok harga, kami mencari tempat yang tidak usah mahal-mahal, namun fasilitas layak memadai. Maka, dua hari sebelum sampai di Yogyakarta, satu kamar di Kampoeng Djawa Guesthouse telah kami pesan untuk enam hari.

IMAG0560

Pagi sekali kami telah sampai di Yogyakarta. Yang pertama kami tuju, tentu Kampoeng Djawa Guesthouse. Letaknya ada di Jalan Prawirotaman I/40, Yogyakarta. Untuk mencari Jalan Prawirotaman, bukanlah hal yang sulit bagi tukang becak ataupun taksi-taksi di Yogya. Dengan menumpang taksi, mulailah kami mencari tempatnya. Agak sedikit bingung juga memasuki Jalan Prawirotaman I ini, karena dikanan kiri banyak betebaran hotel-hotel. Kampoeng Djawa Guesthouse belum terlihat juga. Sampai di ujung jalan Prawirotaman I, barulah terlihat Kampoeng Djawa Guesthouse. Ternyata disitu tempatnya, bagaimana tidak terlihat, dari depan terlihat kecil menyempit, pun dengan gerbangnya yang seukuran daun pintu ganda! Yang terlihat papan nama diatas,”KAMPOENG DJAWA GUESTHOUSE”.

IMAG0558

Tetapi tunggu dulu, jangan buru-buru menilai kalau guesthouse ini amatiran dalam segala segi. Masuk ke pintu gerbang yang terlihat sempit tadi, perlahan tapi pasti, kawan sekalian akan langsung jatuh hati dengan Kampoeng Djawa Guesthouse ini. Mengapa?? Mulai dari lobi, tamannya, dapurnya, teras kamarnya, sampai didalam kamarnya, hingga didalam kamar mandinya, semuanya serba klasik, etnik. Digambarkan dengan konsep tempat “tempo doeloe”. Penasaran?? Inilah yang menarik disini (Kampoeng Djawa Guesthouse). Maka tak heran, tamu-tamu yang menginap disini semuanya adalah turis mancanegara.

Mulai dari lobi-nya…masuk kedalam tempatnya memang memanjang kedalam. Disebelah kanannya tertata rapi meja kursi kayu yang khas. Dan lihatlah temboknya, sebagian batu batanya dibiarkan dengan warna aslinya, tanpa di plester halus. Dibiarkan begitu saja, hanya disusun miring. Sementara bagian yang diplester halus, dinding-dinding itu dicat dengan warna klasik. Suasana semakin erat dengan tempo doeloe, jaman kuno, dengan pajangan sepeda onthel. Melihat keatas langit-langit nya berhiaskan anyaman bambu. Menarik bukan??

IMAG0559

Masuk kedalam, setelah melewati lobi, langsung berhadapan dengan taman yang asri. Yang juga terdapat kandang burung jalak. Kandangnya ini ukurannya besar, tapi sayang sekali burung jalaknya hanya satu. Padahal kalau ada dua atau tiga, pasti cerewet sekali burung jalaknya. Sebelah kanan dari lobi ada tempat/ ruang dimana kita para tamu guesthouse, bisa membuat kopi atau teh sendiri, kapan saja kita mau, dan tidak dibatasi. Sementara sebelah kiri masuk dari lobi, disitu ada dapur. Dapur guesthouse ini sangat menarik, berdinding anyaman bambu. Dan sebagian kamar akan berderet disekeliling taman ini. Artinya, taman asri ini tepat berada ditenga-tengah. Dan kamar kami terletak dideretan ini. Wah..Serasa dirumah sendiri jadinya…

Diteras kamar ada seperangkat meja kursi yang klasik juga tentunya. Terbuat dari bambu kursinya, pun begitu juga dengan tempat menjemur handuk. Tempat menjemur handuk ini terbuat dari bambu juga. Keren..kan..bambu bisa diolah menjadi sebuah barang yang bernilai. Dan lihatlah lampu-lampu teras disetiap kamar. Lampu-lampu ini khas bernuansa tempo doeloe bukan…serasa berada dijaman tahun ’40-an. Kalau siang-siang, cuaca panas, teras ini sangat asik sebagai tempat bersantai. Sayangnya saya dan suami, setiap pulang kepenginapan sudah sore bahkan malam. Bisa bersantai diteras ini kalau sarapan pagi, dan afternoon tea saja.

Masuk didalam kamar-nya, tetap berkonsep “tempo doeloe”. Mulai dari dinding, tempat tidur, meja rias klasik, lemari pakaian, sampai didalam kamar mandinya. Semuanya unik bukan?? Tak ketinggalan pula lampu didalam kamanya, sama seperti lampu- lampu kuno yang ada diteras kamar. Yang terlihat modern karena ada TV-nya, dan AC. Semua yang ada didalam kamar ini, bahan kayu mendominasi. Tetapi jangan berpikir bahwa kayu-kayu ini adalah murahan, coba saja angkat kursi rias yang terlihat kecil dan ringan. Saya coba menggesernya (kursi rias), butuh tenaga ekstra karena berat. Dapat dipastikan kayu yang gunakan adalah kayu jati, entah itu kayu jati tua atau muda. Kalau kata suami saya, itu kayu jati masih muda. Kalau kayu jati tua bahannya, pasti saya tak mampu hanya sekedar menggeser kursi rias itu.

Ini nih yang paling dicari, fasilitas internet. Menginap di Kampoeng Djawa Guesthouse, kita tak perlu khawatir tidak bisa mengecek email, atau tidak bisa membaca berita online. Di Kampoeng Djawa Guesthouse, ada WIFI..meski ada diwaktu-waktu tertentu tidak lancar jalannya. Tinggal minta saja password-nya, maka dengan bebas kita bisa menggunakan fasilitas ini. Tapi lagi-lagi, kami tidak begitu antusias menggunakannya. Setiap pulang penginapan badan sudah lelah, setelah seharian pergi.

Bagaimana dengan sarapan, ada atau tidak?? Sarapan pagi jelas ada, dengan menu yang terus berganti-ganti setiap harinya. Ada gudheg, opor ayam, kadang roti berselai, macam-macam menunya. Selang-seling dengan masakan Indonesia, juga masakan luar negeri, mengingat tamu-tamu-nya kebanyakan dari mancanegara. Sarapan ini dibatasi hanya sampai pukul 9.30 pagi saja. Jadi, kalau sudah lebih dari jam-jam sarapan, dapat dipastikan sarapan pagi terlewatkan. Untuk sore hari ada afternoon tea. Afternoon tea ini dimulai dari pukul 5 sore sampai 6 sore. Apa ya menunya? Pastinya teh lengkap dengan gula batunya, beserta gorengan. Gorengan ini berganti-ganti juga setiap harinya, misal hari ini tempe goreng, dengan pisang molen, esoknya, bakwan dengan makanan terbuat dari singkong, begitu seterusnya. Seperangkat teko teh pun disajikan dengan unik. Dimana teko ini terbuat dari tanah liat, begitu juga dengan cangkir tehnya. Benar-benar mengesankan bukan…

Untuk masalah dibersihkan atau tidak setiap harinya, kamar yang kita tempati, tergantung dari kita sendiri. Kalau minta tiap hari dibersihkan, boleh-boleh saja, dengan senang hati mereka akan membersihkannya. Kurang lebihnya sama dengan hotel-hotel berbintang. Tingkat pelayanan dan keramahan mereka sama dengan hotel-hotel yang berkelas.

Bagaimana dengan harganya?? Untuk kamar yang kami tempati selama enam hari ini, harganya Rp 200.000;/ malam. Dengan fasilitas tadi, kamar mandi dalam lengkap dengan handuk dan sabun mandi, AC, TV, meja rias, tempat tidur, juga satu buah lemari pakaian, ditambah dengan fasilitas internet, sarapan, dan afternoon tea. Karena biasanya ada hotel yang harus bayar lagi bila kita ingin mengunakan fasilitas internet, ataupun sabun mandi. Untuk hotel ini tak perlu saya sebutkan. Dengan fasilitas yang sama, kecuali AC, yang diganti dengan kipas angin, harganya kurang lebih Rp 160.000;/ malam. Adakah harga yang lebih murah lagi di Kampoeng Djawa Guesthouse ini?? Saya perkirakan ada. Karena masuk kedalam masih ada kamar-kamar. Juga diatas, dilantai dua, masih ada kamar-kamar. Dimana diantaranya itu kamar mandi bersama.

Dengan harga yang relative lebih murah, kita bisa mendapatkan tempat penginapan yang sangat nyaman, asri, dan klasik, dengan fasilitas yang memadai. Bagi yang suka dengan nuansa “tempo doeloe”, jelas ini salah satu pilihan sebagai tempat beristirahat yang nyaman sekali, makanya banyak turis mancanegara yang datang ke guesthouse ini. Jadi jangan heran, kalau Kampoeng Djawa Guesthoese ini, selalu penuh, orang silih berganti keluar masuk. Baru saja ada yang cek out, tak lama kemudian ada yang cek in, begitu seterusnya.

Selain itu, disepanjang Jalan Prawirotaman I ini, jalannya tidaklah begitu padat dan ramai, seperti Jalan lainnya. Jalan Prawirotaman ini cukup bersahabat bagi yang suka jalan kaki. Dengan lebar jalan yang sempit, tak membuat banyak kendaraan berlalu-lalang di jalan ini. Disepanjang jalan ini hanya terlihat berjajar becak, yang siap mengantarkan para turis untuk berkeliling kota Yogyakarta. Selain berjajar hotel dan guesthouse, disepanjang Jalan Prawirotan ini juga dapat dijumpai resto yang menyajikan makanan tradisonal, tempat penjualan batik, tempat penjualan benda-benda antik, juga terdapat tempat rental sepeda ataupun sepeda motor. Bagi yang ingin menggunakan jasa travel untuk berwisata, misal ke Candi Borobudur, atau ke Merapi, di sepanjang jalan Prawirotaman ini terdapat agen-agen travel.

Jadi, selain tempatnya nyaman, Kampoeng Djawa Guesthouse ini, juga strategis. Mau keliling kota Yogyakarta dengan rental sepeda atau sepeda motor, ada disampingnya tempat rentalnya. Atau mau mencari makanan juga ada. Bahkan bila ingin laundry-pun banyak tempat-tempat laundry disekitarnya. Atau mau berwisata ke Merapi, ke Candi Borobudur, agen travel-nya persis disamping Kampoeng Djawa ini. Tidak ada salahnya, bila berkunjung ke Yogyakarta, menginap saja di Kampoeng Djawa Guesthouse Yogyakarta, pasti takkan mengecewakan.

Catatan :

  • Semua gambar/ photo dalam tulisan/ artikel ini adalah dokumentasi pribadi/ milik pribadi, Acik Mdy/ Acik Mardhiyanti
  • Dilarang meng-copy paste tulisan/ artikel ini tanpa menyertakan sumbernya, link artikel ini, blog serta nama penulisnya, yaitu saya, Acik Mdy/ Acik Mardhiyanti

Menikmati Sego Gurih, Sajian Khas Sekaten

 

IMG-20130527-WA0001

Nama sego gurih bukanlah sajian asing untuk masyarakat Indonesia. Saya percaya sudah banyak yang tahu tentang sego gurih ini. Diperayaan-perayaan tertentu, sego gurih akan hadir kedalamnya, misalnya saja di desa asal saya, saat selamatan/ kenduri sego gurih akan hadir bersama ingkung, atau bisa juga sego gurih hadir disaat perayaan ulang tahun dengan membuat nasi tumpeng. Tapi..sego gurih yang satu ini unik dan berbeda. Untuk yang ini (sego gurih), adalah makanan khas perayaan sekaten, yang diperingati sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Jadi, sego gurih yang satu ini hanya ada diperayaan sekaten saja.

Beberapa waktu yang lalu ketika mengambil liburan di Daerah Istimewa Yogyakarta, kami berkesempatan untuk datang dan melihat seperti apa itu perayaan sekaten. Bukan kemeriahan akan pasar malamnya, namun sebuah acara ritual keraton, atau kalau orang jogja menyebutnya sekatenan. Dari hasil pembicaraan kami dengan orang yang kami temui, yang merupakan warga asli Yogyakarta, bahwa untuk mereka yang dimaksud dengan sekatenan, adalah sebuah ritual turunnya gong (benda pusaka keraton Yogyakarata), yaitu Kyahi Gunturmadu, dan Kyahi Nagawilaga. Bagi saya sendiri meskipun sudah pernah tinggal di Yogyakarta, belum pernah melihat sekatenan, maupun merasakan khas-khasnya sekaten, yaitu sego gurih-nya itu. Ya, mungkin karena dulu saya terlalu sibuk dengan urusan perkuliahan yang tak memungkinkan melihat sekatenan tengah malam, dan juga tak ada waktu untuk sekedar icip-icip makanan khas sekaten yang satu ini.

Beruntung, ketika berlibur itu, tanpa sengaja waktunya pas dengan perayaan sekatenan di Yogyakarta. Tidak buang waktu lama saat itu kami langsung “mendadak sekatenan”. Maksudnya melihat acara/ ritual turunnya benda pusaka keraton, tanpa dijadwalkan sebelumnya. Dari seorang pemandu wisata Taman Sari-lah kami diberitahu, bahwa istrinya jualan sego gurih khas sekatenan. Ya, siapa sangka kami memang dipertemukan kembali dengan seorang pemandu wisata Taman Sari, yang saat itu juga sibuk mengambil gambar sekatenan, karena ternyata memang dia adalah orang pers. Tapi kami mengulur waktu untuk membeli sego gurih tersebut, dikarenakan ingin melihat dulu arak-arakan benda pusaka tadi, yang turun dari keraton kepagongan yang ada dihalaman masjid Agung/ Besar (Masjid Kauman). Masalahnya, kalau kami tinggal membeli sego gurih terlebih dahulu, pasti kami nanti tak kebagian tempat yang pas untuk melihat arak-arakan tersebut.

Nah, memang sebelumnya saya dan suami tak tahu bila banyaknya penjual yang ada dihalaman masjid itu adalah penjual nasi gurih semua. Kami hanya berpikir, itu layaknya penjual makanan-makanan seperti biasanya yang selalu hadir dalam setiap event/ perayaan. Tidak tahunya, mereka adalah penjual makanan khas sekaten yang patut untuk dicoba, dan dinikmati. Mungkin tidak hanya dinikmati semata, namun ada makna yang terkandung didalam nasi gurih tersebut, yaitu sebagai simbol keberkahan, serta kemakmuran. Maksudnya, bahwa manusia yang telah lahir kedunia ini telah diberikan rejeki melimpah oleh Tuhan, dan tinggal manusia itu sendiri mampu mengelolanya atau tidak. Ada juga yang bilang kalau makan sego gurih sambil mendengarkan alunan gamelan sekatenan, akan membuat awet muda, dan akan membuat kita ingin menikmatinya ditahun mendatang.

Setelah masing-masing benda pusaka keraton itu masuk kedalam pagongan masing-masing, kami berdua mulai berkeliling disekitar tenda-tenda penjual makanan khas sekatenan, yaitu sego gurih. Ada banyak penjual sego gurih disana. Tapi entah mengapa waktu itu kami tertarik untuk membeli sego gurih yang dijual oleh istri dari pemandu wisata kami di Taman Sari. Sebenarnya kami tidak yakin benar penjual sego gurih yang kami datangi ini adalah sang istri dari pemandu itu, karena sewaktu menunjukkan tempat jualannnya, sang pemandu dan kami berada pada jarak yang lumayan agak jauh dari tempat jualannya. Saya dan suami hanya mengira-ngira saja, melihat dari jauh. Tapi tak masalah, toh sego gurih yang kami beli ternyata nikmat sekali, serasa makan nasi selamatan/ kenduri, yang biasa dibawa pulang oleh bapak-bapak didesa. Nah, sego gurih ini ternyata dijajakan saat benda pusaka keraton itu turun kehalaman masjid, hingga benda pusaka keraton itu kembali lagi kedalam keraton saja. Untuk masalah harganya, waktu itu kami membelinya perporsi dengan harga sekitar Rp. 7.000;.

Sego gurih ini lebih unik dan berbeda dari pada sego gurih yang pernah saya nikmati di desa kala itu. Sego gurih yang ada disekatenan ini terdiri dari banyak macam lauk. Jadi, sego gurih khas sekaten di Yogyakarta ini terdiri dari sego gurih itu sendiri, yaitu nasi yang dimasak bersama santan, garam, dan daun salam. Aneka lauknya antara lain, kedelai putih goreng, kedelai hitam goreng,kacang tanah goreng, daging ingkung suwir, telur yang diopor, kemangi, mentimun, irisan kubis, sambal goreng tempe, sambal goreng krecek, dan kerupuk. Waahh nikmat sekali bukan?? Tapi nih..ada tapinya, porsinya sedikit lho..tidak banyak, karena memang lauknya yang bermacam-macam itu, jadi penyajiannya sedikit demi sedikit.

Sekalipun hanya sego gurih yang terlihat simple dan sederhana, namun sego gurih adalah makanan khas sekatenan yang selalu dicari, dan tetap lestari hingga saat ini. Ya, saya dan suami sangat bersyukur bisa menikmatinya kala itu. Selain menikmati kelezatannya, kami juga harus memaknai setiap suapnya, yaitu rasa bersyukur pada Sang Pencipta yang telah memberikan kami rejeki.

Catatan :

  • Gambar/ photo dalam tulisan/ artikel ini adalah milik pribadi/ dokumentasi pribadi, Acik Mdy/ Acik Mardhiyanti
  • Dilarang meng-copy paste tulisan/ artikel ini tanpa menyertakan sumbernya, link tulisan/ artikel, blog dan juga nama penulisnya, yaitu saya, Acik mdy/ Acik Mardhiyanti

My Master's Journey in Belgium: How I Graduated on Time

My Master's Journey in Belgium: How I Graduated on Time      Graduating on time can be effortless for some, yet challenging for others. ...