Showing posts with label iburumahtangga. Show all posts
Showing posts with label iburumahtangga. Show all posts

Ibu Rumahtangga Jadi Penulis Sekaligus Penerbit Buku?


Scan this QR code to find my book easier, @ copyright 2020 by Acik Mardhiyanti

"Kok bisa sih?", pasti itu kata yang akan diucap banyak orang ya. Karena kebanyakan orang (orang Indonesia terutama) berkata kalau seorang ibu rumahtangga itu kan tidak punya kerja, jadi bagaimana mungkin bisa jadi penulis sekaligus jadi penerbit buku? Ditambah lagi bukunya adalah bahasa Inggris! Banyak orang berpikir impossible, tapi dalam reality atau kenyataannya saya yang notabene cuma seorang ibu rumahtangga tapi menulis buku sekaligus menjadi penerbit buku saya sendiri. Bagaimana caranya ya, kok bisa sih?

Dunia itu berubah dengan cepat, benar tidak? Begitu pun dengan pekerjaan seorang ibu rumahtangga.  Huh...sejak kapan ibu rumahtangga adalah sebuah profesi pekerjaan? Jawabannya adalah bahwa seorang ibu rumahtangga itu adalah sebuah profesi yang serba bisa artinya multitasking. Penulis sudah 8 tahunan tinggal di Singapura. Disini, di Singapura, para ibu rumahtangga banyak yang berkarya, dan ini penting untuk digaris bawahi, para ibu rumahtangga ini punya degree atau berpendidikan. Dan mereka ini sambil ngurus rumah, sambil ngurus anak (bagi yang punya anak), sambil berkarya contohnya: ada yang buka salon, ada yang buka kursus piano dirumahnya, ada yang menanam bunga Viola untuk kemudian dijual ditoko tanaman, ada yang jualan online (macam-macam hal yang dijual misal: handicraft, pakaian, aksesori HP dll), ada yang buka kursus handicraft, ada yang buka catering, ada yang buka bisnis kue-kue, dan lain-lain. Sementara dinegera seperti Amerika juga Eropa, para ibu rumahtangga pun tak mau kalah untuk berkarya misal: menulis buku dan menulis blog atau jadi blogger. Dan banyak diantara mereka yang memiliki penghasilan pasif alias tidak perlu kerja di perusahaan pun tiap bulan uang datang dengan sendiri dan paling tidak $ 1,000 Wow, kan? Itulan gambaran ibu rumahtangga di era sekarang yaitu berpendidikan, punya passion, dan punya karya. 

Bila dirunut kebelakang dari kecil penulis sudah suka menulis. Kalau tidak salah ketika kelas 4 Sekolah Dasar sudah mulai ada aktifitas mengarang, dan aktifitas ini menyenangkan untuk penulis. Kalau tidak salah juga saya suka menuliskan pengalaman sehari-hari dimana saya dan kawan-kawan suka main keladang-ladang dan sawah mencari keong atau mencari buah-buah liar. Kemudian sejak dibangku kelas 1 Sekolah Menengah Pertama penulis suka menulis puisi dan pantun yang saya kumpulkan disatu buku, ya benar sekali saya suka pelajaran bahasa Indonesia ketika diminta untuk menulis (baik puisi dan pantun). Dibangku Sekolah Menengah Atas aktifitas menulis terlupakan karena saya mulai suka menggambar. Ya, waktu kelas 1 Sekolah Menengah Atas itu tidak hanya diajari melukis tapi ada pelajaran Biologi dimana kami selalu diberi pekerjaan rumah untuk menggambar setiap mahkluk hidup yang sedang dibicarakan dalam kelas tersebut, misal: menggambar belalang, juga mahkluk hidup bersel satu. Ketika kelas 3 Sekolah Menengah Atas, dalam pelajaran Bahasa Indonesia sudah mulai untuk belajar menulis paper, dan terus sampai dibangku universitas setiap minggu penulis harus menyelesaikan 3 paper. Ya, mengambil jurusan Ekonomi/ Management kita harus presentasi-presentasi dan membuat paper dan Paper. Dari situ saya/ penulis mulai belajar menulis secara akademik, menulis yang baik, artinya tidak asal menulis. Setelah mendapatkan degree S1 penulis tidak aktif menulis karena sibuk secure pekerjaan. Baru setelah menikah atau tepatnya setelah pindah ke Jakarta, penulis mulai aktif menulis lagi dan hingga detik ini masih terus menulis.


Scan this QR code to find my book easier, @ copyright 2020 by Acik Mardhiyanti

Ketika penulis memutuskan untuk aktif menulis tahun 2010 lalu, saya sudah berencana bahwa nanti diumur pensiun (kalau sudah 50 tahun-an) saya akan menerbitkan buku. Tapi ternyata tahun 2020 ini malah sudah terbit buku saya. Itu artinya buku sudah terbit jauh-jauh hari sebelum umur tua/ pensiun.  Ya, akhir tahun 2019 lalu resolusi untuk tahun 2020 adalah menelurkan buku dan Ph.D diumur 40 tahun. Dan tidak hanya menjadi author atau penulis buku, saya ingin sekaligus menjadi penerbit buku saya sendiri atau jadi self-publisher. Jadi, mulai dari proses pembuatan buku sampai terbit  ya diurus sendiri. Bisa dibayangkan dimana pekerjaan sebuah perusahaan penerbit buku itu saya kerjakan sendiri dengan dibantu oleh suami. Ya, benar sekali suami saya membantu men-design buku dan membantu editing. Karena suami penulis adalah seorang programmer profesional, jadi saya bisa minta bantu design juga editing. Tidak hanya itu, saya pun harus belajar tentang perpajakan antar negara. Kenapa harus belajar perpajakan antar negara? Karena buku saya dijual di USA, dan worldwide. Selain itu, urusan ISBN pun ya diurus sendiri. Pastinya urusan marketing ya diurus sendiri. Wah, repot dan rumit sekali ya banyak yang harus dikerjakan. Tentu saja ada banyak hal yang harus dikerjakan dan diurus. Tetapi, saya menikmati semua proses itu dan saya puas akan hasilnya! Karena saya jadi tahu dan punya banyak pengalaman bagaimana menjadi penulis atau author sekaligus menjadi publisher atau penerbit buku. 

Lantas bagaimana caranya bisa menerbitkan buku sendiri? Saya bersyukur (dan selalu bersyukur) karena kami berdomisili di Singapura. Kenapa? Di Singapura, untuk menerbitkan buku sendiri atau disebut self-publishing, bukanlah hal yang tidak mungkin. Karena NLB atau The National Library Board sangat men-support dengan memberikan ISBN dan itu gratis! Prosesnya pun sangat cepat, mau daftar menjadi penerbit atau publisher urusan selesai hanya dalam waktu 3 hari misal: Senin kita mengajukan aplikasi, Rabu kita sudah di approve menjadi publisher. Semenatara ISBN pun sama, mau minta ISBN misal: Rabu kita mengajukan aplikasi, Jum'at kita sudah mendapat ISBN-nya. Dan semua itu penulis lakukan tanpa harus datang ke NLB, cukup melalui online saja dan semua itu tidak ada biayanya alias gratis! Ya benar sekali bahwa saya tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk menerbitkan buku saya ini. Itulah kemudahan kita sebagai seorang penulis di Singapura, apalagi penerbit buku pemula seperti saya hal ini tentu saja sangat mempermudah serta sangat membantu dan juga membuat saya semakin bersemangat untuk menerbitkan buku lagi! Ya, saya akan menerbitkan buku lagi, dan buku-buku selanjutnya sudah ada dalam otak, ingin membuat buku apa dan seperti apa. Kemungkinan buku saya buku masak lagi, atau buku gardening, atau mungkin novel. Huh? Emang bisa gitu kan cuma ibu rumahtangga gimana bisa menulis banyak topik? Ya, saya sangat-sangat bisa menulis bidang yang berbeda. Bisa dilihat bagaimana blo-blog saya telah dikelompokkan sesuai bidangnya, ada gardening blog, recipe blog, dan journey blog. Dan saya pun punya satu blog lagi yaitu Ichikraft Give and Care dimana isinya adalah aktifitas sosial.

Kalau proses menjadi penerbit itu mudah, lantas kenapa baru sekarang saya menerbitkan buku? Ini jawaban penulis: saya ingin buku saya bukan cuma buku asal tulis yang penting jadi buku, tapi saya ingin menghasilkan buku yang punya kualitas, bisa memberi inspirasi, bisa membantu orang lain, juga bisa memberi manfaat untuk orang lain. Lah untuk menulis sebuah artikel saja saya butuh waktu hingga 2 jam sampai 3 jam bahkan sampai 3 hari baru selesai 1 artikel, apalagi mau bikin buku? Tentu saja harus saya rencanakan dengan baik dan matang. Kenapa? Karena saya ingin buku saya bisa mencapai pembaca diluar negeri atau worldwide. Sebenarnya tahun 2013 kalau tidak salah, ada penerbit dari Indonesia yang mengajak saya menulis buku dan saya tolak karena waktu itu saya (dan suami) fokus membantu sesama. Sekitar tahun 2015-an suami penulis bilang, kalau mau bikin buku lebih baik dalam bahasa Inggris saja. Kenapa lebih baik membuat buku dalam bahasa Inggris? Tentu saja karena kami berdomisili di Singapura. Oleh karena itu, alangkah baiknya saya ini menerbitkan buku dalam bahasa yang diakui secara international atau dipakai secara international agar bisa dibaca oleh orang Singapura juga dunia secara luas tentunya. Kenapa demikian? Saya berdomisili di Singapura dan sudah seharusnya saya pun harus berkarya di Singapura. "Dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung", itulah pedoman hidup saya. Tidak hanya itu saja, alasan secara saya pribadi mengapa buku saya harus bahasa Inggris adalah karena saya terbiasa berteman dengan orang-orang dari luar, jadi saya terbiasa berpikir secara terbuka dan luas. Ya, kawan-kawan saya adalah orang Jepang, Perancis, juga Belgia.  Dan kawan-kawan baik saya ini banyak memberikan support dan juga inspirasi. Oleh karenanya kalau dalam bahasa Inggris kawan saya paling tidak bisa melihat dan membacanya.

Bagaimana dengan pendapatan penulis setelah buku terbit, bisa langsung punya pendapat pasif? Penting untuk diketahui bahwa penulis menulis dan menerbitkan buku adalah sebagai bagian dari investasi dimasa depan, bisa dikatakan menulis buku ini adalah lifetime invesment. Maksudnya apa sih? Maksudnya dengan saya menulis buku ini artinya saya sedang melakukan investasi yang tidak terbatas waktu, tidak lekang akan waktu. Apalagi buku saya born secara digital. Sekarang sudah era-nya digitalization, jadi saya pun tidak mau ketinggalan untuk menerbitkan buku digital dimana saya harus menjadi bagian dari era ini. Karena digital ya selamanya buku saya ada, tidak takut habis stock maupun usang karena bentuknya fisik. Sekarang, setelah terbit belum ada pendapatannya karena saya menerbitkan buku saya sendiri, tetapi dari waktu kewaktu buku itu akan menghasilakn uang dengan sendirinya. Jadi, jelas berbeda ketika kita menerbitkan buku dengan sebuah perusahaan penerbit buku ya, setelah buku kita diterima oleh penerbit pastinya kita langsung bisa menghitung royalty (uangnya langsung didapat). Buat saya, investasi menulis buku dan investasi pendidikan (sekolah lagi dan upgrade skill ), itu adalah bentuk investasi yang tak akan lekang oleh waktu. 

Itulah bagaimana seorang ibu rumahtangga seperti saya ternyata bisa menjadi author sekaligus publisher! Semua itu bukanlah tidak mungkin, karena era sudah berubah dimana ibu rumahtangga jaman sekarang itu high caliber women. Apa artinya high caliber women? High caliber women itu adalah wanita yang berpendidikan tinggi dan punya passion yang akan dilakukannya dengan sungguh-sungguh. Tambahan dari saya, high caliber women akan terus mau untuk belajar dan berkarya. Maka pesan penulis: jangan pernah berhenti untuk terus belajar, upgrade skill, terus berkarya, dan sekolahlah yang tinggi!

Disini link buku penulis di Amazon: https://www.amazon.com/dp/B08DM2R2TG/

Note:
  • Written by Acik Mardhiyanti
  • Copyright 2020 by Acik Mardhiyanti
  • Do not copy this article without permissions

10 Tahun Berkarier Sebagai Ibu Rumahtangga, Kegiatan Dan Karya Apa Yang Sudah Saya Hasilkan?

Pasti akan banyak orang atau malah kebanyakan orang memandang sebelah mata seorang ibu rumahtangga. Tak jarang banyak yang merendahkan, bukan? Dan hampir semua orang (terutama orang Indonesia ya) yang bertanya, "sejak kapan ibu rumahtangga itu adalah sebuah karier? Namanya berkarier ya mesti kerja diluar rumah (kantor, pabrik, dll...). Apalagi bagaimana bisa seorang ibu rumahtangga punya karya? Bukan sebuah karier kok tapi punya karya, bagaimana ceritanya?

Jauh hari sebelum memutuskan untuk menikah, saya dan suami (waktu itu masih status hanya sebatas pacar), sudah membicarakan banyak hal terutama masa depan nantinya kita itu pengennya bagaimana. Untuk kami berdua pernikahan adalah sebuah ikatan dimana kami berdua menyatukan cita-cita serta impian yang hendak kami raih dimasa depan. Suami saya waktu itu sudah sangat paham dan tahu bahwa saya punya cita-cita ingin sekolah keluar negeri dan ingin bersekolah setinggi-tingginya. Sementara suami tentu saja ingin sukses dalam berkarier. Langkah awal yang kami rencanakan waktu itu adalah pindah ke Jakarta setelah menikah. Dan memang iya, 6 bulan setelah menikah kami pindah ke Jakarta, waktu itu kami tinggal di Setiabudi-JakSel. Kurang lebih 2,5 tahun di Jakarta, kami pindah ke Singapura. Ada yang bilang pada penulis, "alah kebanyakan rencana-rencana tapi gak ada tujuan bla bla..." Oh, really? Justru saya dan suami merencanakan ini dan itu karena kami punya "goal" atau impian yang hendak kami capai dimasa depan. Puji syukur karena kami merencanakan detail langkah apa yang hendak kami lakukan, step by step, diumur 27 tahun saya (dan suami) pindah domisili ke Singapura dan puji syukur hidup kami berkualitas yaitu hidup dengan standart tinggi. Semisalnya kami saat itu masih tetap memilih tinggal di Jakarta, diumur 27 tahun itu kami sudah membeli apartement di Jakarta.

Kemudian mengapa saya ini memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumahtangga setelah menikah, padahal kan saya impiannya ingin sekolah setinggi-tingginya? Keputusan ini kami sepakati bersama dan sudah kami bicarakan sebelum menikah. Bahkan kami juga memutuskan untuk tidak memikirkan punya anak dulu, karena ada hal lain yang ingin kami raih, apa itu? Yaitu kami ingin menata masa depan sebaik mungkin, kalau bisa yang terbaik, dan saya ingin terbaik diantara yang terbaik. Dan masa depan terbaik ini tentu saja kami persiapkan untuk anak-cucu kami kelak. Dan saya yakin kebanyakan orang tidak akan paham apa itu namanya menata masa depan. Harap maklum kalau di Indonesia kebanyakan orang setelah menikah langsung punya anak seperti sudah sebuah kewajiban, sementara kami (saya dan suami) beda, kami tidak seperti kebanyakan orang Indonesia, dan saya sendiri sejak masih tinggal dikampung saya memang tidak seperti anak kampung kebanyakan. Kawan dan kenalan semasa menempuh Strata 1 pernah bilang, "saya iri dengan kehidupanmu, bisa melakukan apa saja, mau kursus/ sekolah bisa, tinggal diluar negeri." Padahal jika diingat kembali justru kenalan dan kawan saya itu punya kesempatan luas untuk menata masa depan lebih cemerlang karena ia orangtuanya mampu/ punya uang untuk membiayainya sekolah hingga Master. Tapi sayang kesempatan untuk menata masa depan cemerlang itu tidak digunakan oleh kawan dan kenalan ini, malah justru menganggap enteng kehidupan. Sementara, bapak saya cuma buruh pabrik, jadi bila hendak dipikir-pikir lagi, kenapa harus iri dengan saya ini yang cuma seorang ibu rumahtangga dan anak dari seorang buruh pabrik?

Lantas kenapa ada keputusan dimana saya memilih sebagai ibu rumahtangga setelah menikah? Hal ini tak lain dan bukan adalah untuk men-support penuh suami penulis. Kalau ada istilah bilang, "dibalik kesuksesan seorang pria, ada wanita hebat dibelakangnya." Saya ingat akan kata-kata almarhum simbah putri saya/ penulis, simbah saya bilang, "seorang laki-laki atau seorang suami bisa sukses atau tidak, itu tergantung siapa wanita yang mendampinginya, tipe wanita/ istri apa yang ada disebelahnya..", itu kata beliau. Semisal saya tetap memilih untuk berkarier diluar rumah alias bekerja diperusahaan misalnya, bisa kah kami sekarang ada di Singapura? Jawabannya adalah TIDAK. Karena namanya berumahtangga suami-istri harus bekerja sama untuk menggapai impian bersama. Nomer satu adalah men-support suami, itu artinya ada pengorbanan yang saya lakukan yaitu "mengubur" impian saya untuk sementara. Karena toh pada akhirnya setelah suami mendapatkan apa yang ia inginkan, kini gilaran saya untuk meraih impian dan cita-cita saya.

Banyak orang bilang, "tapi kan sekolah sampai sarjana, rugi kalau tidak bekerja.." Ada juga orang berkata, "harusnya wanita juga kerja supaya punya duit sendiri paling tidak buat beli bakso.." Ada lagi yang berkata, "jadi seorang istri harusnya bekerja (diluar rumah misal perusahaan) juga biar paling tidak bisa beli bedak sendiri..." Dan masih banyak kata-kata lainnya... Perlu untuk diketahui bahwa saya itu sudah bekerja sejak umur 11 tahun dan membiayai kebutuhan sekolah sendiri sejak itu sampai Sekolah Menengah Atas atau SMA. Bisa dibaca kisahnya disini https://ichi-journey.blogspot.com/2019/06/berasal-dari-desa-gaji-bapak-saya-rp.html Dan sebenarnya saat menempuh study S1 Ekonomi/ Management, saya sudah sempat bekerja selama 6 bulan dibidang marketing dimana saat itu saya senang karena bisa kenal banyak orang diluar kampus dan belajar banyak hal. Tetapi pekerjaan itu terpaksa saya tinggalkan karena saya harus fokus dengan kuliah yang saya target 3,5 tahun harus sudah selesai. Dan benar, saya/ penulis menyelesaikan Strata 1 atau S1 dalam waktu hanya 3,5 tahun dengan biaya bulanan minim dan tidak punya komputer. Skripsi saya selesai dalam waktu hanya 2 bulan saja. Dan sekarang meskipun saya sudah menikah, tapi masih mengurusi adik saya satu-satunya, segala macam biaya saya tanggung hingga detik ini. Bahkan sebelumnya saya memberi uang bulanan untuk saudara/ anggota keluarga lainnya. Untuk orang yang punya pikiran picik , sempit, dan negatif pasti akan bilang, "alahh uang hanya dengan mengandalkan suami aja..." Lagi, lagi..inilah kata-kata almarhum simbah putri saya, "cari pasangan hidup (baik istri maupun suami), harus orang pekerja keras, apalagi bila kita seorang wanita ya harus cari pasangan hidup (yaitu calon suami) yang punya pekerjaan tetap, bisa diandalkan.." Simbah putri saya yang satunya, beliau suka dengan tipe orang pekerja keras, yang mau berusaha keras dalam hidup. Simbah putri saya ini tidak suka jika melihat seorang laki-laki (suami) tidak punya kerja tetap. Itulah simbah putri penulis, dua-duanya memiliki pesan yang sama bila mencari pasangan hidup ya harus bisa diandalkan, apalagi mencari calon suami. Lah semisal suami saya dulu tidak bagus dalam dunia akademik (minimal setara dengan saya tingkat pendidikannya), tidak punya pekerjaan tetap, bukan tipe pekerja keras, tidak punya impian dalam hidupnya, tentu saja saya tidak mau menikah dengannya. Lagipula bila sudah menikah suami-istri harus bisa bekerja sama, sama-sama membangun pondasi "rumah" dengan kuat. Kami misalnya, suami saya bekerja diluar rumah, saya bekerja didalam rumah. Kami berdua sama-sama saling mengandalkan satu dengan lainnya. Seperti suami penulis tentu saja apa-apa urusan rumah mengandalkan saya. Penting untuk diketahui bahwa kami tidak punya si mbak alias pembantu dirumah, jadi semuanya saya kerjakan sendiri. Ditambah lagi tinggal diluar negeri, jelas apa-apa ya harus mandiri dikerjakan sendiri.

Saya punya teman orang Jepang, hingga kini umurnya sudah 42 tahun tapi tidak pernah sekalipun membicarakan kapan ia akan menikah. Punya boyfriend-pun ia sama sekali tidak menyinggung kapan segera menikah. Untuknya menikah punya komitmen tinggi dimana setelah menikah ia punya tanggungjawab besar, apa itu? Yaitu menjadi ibu rumahtangga. Bagi orang Jepang menjadi seorang ibu rumahtangga adalah pekerjaan sangat berat, makanya seperti kawan saya ini ia masih mikir-mikir panjang dulu dengan komitmen pernikahan. Karena apa? Karena disana tidak ada budaya punya pembantu apalagi babysitter. Dinegara-negara Eropa juga USA, disana juga tidak ada namanya budaya punya pembantu maupun babysitter. Dan yang membuat saya salut, wanita-wanita yang berkarier sebagai ibu rumahtangga baik di Jepang, negara-negara Eropa, juga USA, mereka menghasilkan karya. Sambil mengurus rumah, mengurus anak (bagi yang sudah memiliki anak), mereka juga menghasilkan karya. Itulah ibu rumahtangga jaman modern. Ibu rumahtangga jaman modern seperti sekarang aktif melakukan banyak hal misal menulis buku, blogging, membuat karya (handicraft), berkarya dibidang digital dll... Dan semua karya yang mereka hasilkan itu dikerjakan dirumah. Kalau ada yang bilang, "tidak bosen kah dirumah terus setiap hari?." Maka inilah jawaban saya, rumah adalah tempat ternyaman, tidak ada tempat senyaman dan sebaik dirumah. Bila dibandingkan dengan kata "bosen" saya lebih condong kata "capek" bahkan capeknya itu capek sekali karena banyak kerjaan dan macam hal yang harus diselesaikan setiap harinya.

Lantas apa sih yang saya lakukan/ kerjakan setelah menikah dan memutuskan menjadi ibu rumahtangga? Nomer satu adalah mengurus keluarga. Sambil mengurus keluarga saya sambil berkarya, berkarya sekecil apapun itu. Bahkan saya sudah mulai belajar bunga pita sejak sebelum menikah. Setelah menikah saya masih belajar bunga pita ini sampai suatu ketika saya memutuskan untuk menulis. Kenapa saya memutuskan untuk menulis? Karena saya punya pengetahuan dan pengalaman yang mungkin bisa saya bagi pada orang lain. Waktu itu pernah saya menguji kemampuan saya alias coba-coba mengirim artikel pengalaman hidup kami kesebuah majalah wanita ternama di Indonesia. Hasilnya 2 bulan kemudian tulisan saya dimuat dan tentu saja dibaca oleh para pembaca dari penjuru nusantara. Dan saya tetap berusaha untuk menulis sampai detik ini. Artinya saya sudah menulis selama 10 tahunan.

Yup, benar sekali segala macam tetek bengek urusan rumah menjadi tanggungjawab saya. Dari pagi sampai jam 2 siang biasa sibuk mengurusi rumah, membersihkan rumah, kepasar, masak, ngurusin laundry, dll... Yup, benar sekali, makan ya masak sendiri dirumah, tidak beli makan diluar. Jadi masak tiap hari itu wajib, kecuali saya dalam kondisi sakit atau ingin istirahat ya terpaksa beli makanan diluar. Karena tiap hari masak, maka saya jadi suka menulis atau membagikan resep masakan juga, bisa dibaca link-nya disini http://ichi-recipes.blogspot.com/ Setelah itu baru mulai menulis jam 3 sore sampai selesai. Dalam seminggu ada 2 artikel yang bisa saya publish. Itu dulu sebelum memulai kegiatan ikut sekolah dan memulai bisnis. Tahun 2016 saya memutuskan untuk mulai menambah ilmu pengetahuan yaitu dengan ikut sekolah jarak jauh yang diselenggarakan oleh Universitas ternama dunia seperti, Harvard University, University of California, Berkeley, dan Curtin University. Dari tahun 2016-2018 saya berhasil mengumpulkan 9 sertifikat dari beberapa program yang ditawarkan Universitas tersebut. Selain ikut program di universitas-universitas tersebut, saya juga ikut kelas di Bibliotheca Alexandrina belajar peradaban Mesir kuno, dan juga join kelas di Community Club tempat kami yaitu bahasa Jepang. Saya lulus dengan nilai 98% (mengerjakan exam tanpa nyontek) di Bibliotheca Alexandrina dan berhak mendapat sertifikat, namun sayang saya telat untuk mendaftar sertifikat. Jadi, jadwal saya setelah tengah hari, jam 2 atau 3 sore, saya mulai mengurus bisnis sampai tidak pasti jam selesainya (bisa selesai jam 6, jam 7 atau jam 9 malam). Yup, tahun 2017 saya memutuskan untuk membuat cat collars dan hiasan bunga pita, dimana penjualannya yaitu keluar negeri USA dan Eropa. Nah, ketika saya/ penulis join program study dari universitas-universitas diatas, saya mengambil jadwal bisnis saya ini, artinya untuk sementara waktu vakum dalam mengurus bisnis dan mengutamakan sekolah dulu. Biasanya kalau sudah urusan sekolah saya ini bisa tengah malam masih mengurus paper. Nah, tahun 2019 lalu saya vakum tidak ikut kelas-kelas dulu tapi mengurus usaha saya dulu sambil mengurus macam-macam hal ditahun 2019 lalu. Dan tahun 2020 ini gantian usaha/ bisnis saya vakum untuk dalam jangka waktu yang saya tidak tahu. Karena tahun 2020 ini saya fokus untuk mempersiapkan study saya. Yup, bulan Januari sampai Juli 2020 saya mengikuti sebuah kursus agar saya ini bisa lulus exam, dimana hasil exam ini digunakan sebagai syarat pendaftaran Master Business and Economics yang akan saya ambil. Setelah urusan exam selesai masih banyak hal lain yang harus saya kerjakan sampai akhir tahun 2020 dan pastinya sampai tahun 2021. Tidak hanya selesai sampai disitu, saya pun sudah memikirkan hendak melakukan riset apa untuk Ph.D saya nanti... Itulah saya yang pekerjaannya adalah seorang ibu rumahtangga.

Boleh percaya, boleh tidak, 2 tahun pertama menulis, saya/ penulis itu menulis artikel dengan smartphone.  Yup, tiap hari pegang hape bukan haha hihi media sosial-an tapi menulis guys...! Kemudian saat mengikuti kelas/ study ini sejak tahun 2016 lalu, saya juga lebih banyak menggunakan smartphone. Hanya ketika ujian proctor, mengerjakan paper, serta kegiatan yang tidak bisa menggunakan smartphone, maka saya/ penulis baru menggunakan notebook atau laptop. Yup, benar sekali membaca modul-modul serta diskusi, dan juga mengerjakan ujian kecil, saya itu menggunakan smartphone. Maka kalau ada yang complain pada saya/ penulis, "kok dikirimi pesan tidak dibales sih", "kok mbales pesen dua hari kemudian atau bahkan tidak dibales-bales sih..", atau ada yang bilang, "ditelpon kok tidak diangkat sih, tidur atau gimana sih..". Well... sorry guys I am not a free woman, I am a busy woman. Buat saya tidur siang apalagi rujakan dengan tetangga siang hari itu cuma ngimpi saja. Karena waktu saya kalau boleh dibilang padat, seperti sudah ada jadwalnya. Mungkin ada yang bilang, "alah cuma ibu rumahtangga aja kan gak ada kerjaan dan gak punya kerja..." Ya, maaf, saya bukan seorang ibu rumahtangga seperti yang anda bayangkan. Bahkan saya pun masih gardening alias berkebun dirumah, padahal tidak punya halaman lhoo... Buat apa saya berkebun dirumah? Simple saja, saya tanam cabe ya lumayan kalau berbuah bisa digunakan untuk masak, tanam daun sirih bisa saya gunakan juga, tanam kaffir lime daunnya bisa untuk masak, tanam bunga dari biji saya bisa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang bisa saya bagi ilmunya dalam artikel berkebun saya, bisa dibaca link-nya disini http://ichi-garden.blogspot.com/  Bahkan pengalaman saya merawat bunga Melati atau Jasmine flower beserta cerita didalamnya sudah pernah dibagikan dalam sebuah exhibition atau pameran tanaman dan bunga disebuah botanic garden di Jepang, dimana salah satu kawan saya yaitu orang Jepang bekerja disana. Cool, huh? 👍 Dan saya pun suka berbagi pengalaman dan bertukar informasi seputar tanaman dan bunga dengan kawan ini. Dan sejak tahun 2013, saya sudah mulai melakukan kegiatan untuk membantu sesama, bisa dibaca disini http://ichikraft-give-care.blogspot.com/ Tentu saja kegiatan saya membantu sesama ini dibantu oleh kawan di Indonesia. Itulah kegiatan/ pekerjaan saya sehari-hari beserta hasilnya.

Lantas kenapa sih ibu rumahtangga seperti saya ini kok masih ikut kelas alias sekolah pendek segala bahkan masih mau lanjut Master dan Doctoral? Ini semua saya lakukan agar saya ini bisa menambah pengetahuan/ ilmu pengetahuan. Lah kalau tidak sekolah bagaimana saya tahu strategi marketing McDonals adalah glocalisation, Burbary menggunakan strategi marketing storytelling, Coca cola menggunakan strategi marketing personalize product etc... Semua pengetahuan itu saya dapatkan dibangku universitas yaitu ketika saya ambil program Micro Master di Curtin University. Bila ada yang bilang, "kan jaman sekarang kita gampang bisa belajar apa saja lewat internet, menuntut ilmu tidak harus dibangku university..gelar tidak penting bla bla..." Untuk saya ya (mungkin orang lain beda dengan saya), saya berpikir secara logis dan realistis saja, jaman sekarang orang kalau tidak sekolah bisa tertinggal dibelakang. Kenapa? Dunia ini berputar cepat sekali, apalagi buat kami yang tinggal diluar negeri, akan terasa sekali bagaimana dunia ilmu pengetahuan berkembang pesat, juga dunia kerja. Baru luar negerinya sebelah Indonesia, Singapura. Nah kalau di Eropa misal Jerman, ijazah SMA (Sekolah Menengah Atas) kita di Indonesia hanya setara SMP (Sekolah Menengah Pertama) di Jerman. Dalam dunia kerja contoh gampangnya, orang yang bekerja disebuah perusahaan bila tidak mau belajar, upgrade degree atau ambil sertifikasi, maka pekerjaanya ya tidak akan pernah meningkat, kata gampangnya stuck. Lah saya kan ibu rumahtangga apa kaitannya dengan upgrade degree dan ambil sertifikasi? Kita itu kan tidak pernah tahu bagaimana masa depan nantinya, ambil sekolah lagi atau ambil sertifikat itu untuk kebaikan masa depan saya juga keluarga saya nantinya. Terutama kalau sudah ada anak, bagaimana saya menyuruh anak saya untuk sekolah universitas kalau saya sendiri tidak sekolah universitas.., terus kalau saya tidak punya pendidikan tinggi bagaimana saya bisa mengajari anak saya nantinya? Mungkin ada yang bilang, "gampang masukkan saja si anak ketempat kursus..banyak kan tempat kursus anak-anak...." Buat saya, anak ya diajarin sendiri. Dan tentu saja bila kita sudah menjadi orangtua dan punya pendidikan tinggi, tentu akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri untuk anak kita dan menjadi contoh teladan untuk anak kita. Suatu saat bila saya ini bisa masuk dunia riset, itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bila bisa menemukan, menciptakan sesuatu yang hasilnya (hasil riset saya) bisa dipakai baik masyarakat, umum, atau oraganisasi/ perusahaan. Bila ada orang bilang, "semakin tinggi tingkat pendidikan kita, maka kita akan tahu bahwa ternyata ada banyak hal yang kita tidak tahu."Kata-kata ini benar adanya. Ya, meski saya ini ibu rumahtangga tapi saya masih mengejar sekolah saya hingga Doctoral dan masih akan mem-publish buku. Mengapa saya masih mengejar Doctoral? Lah bagaimana saya bisa masuk dunia riset dan menemukan/ menciptakan sesuatu kalau tidak sekolah Doctoral?... Tentu saja bila kita hendak masuk dunia riset kita harus memiliki gelar pendidikan tinggi. Mungkin ada orang bilang, "alahhh gelar mah gak penting, yang penting kita kreatif bla bla..." Buat saya mendapatkan gelar tinggi ya penting karena cita-cita saya/ impian saya dimasa depan adalah ingin mengabdikan diri dalam dunia riset.

Selama 10 tahun berkarier menjadi ibu rumahtangga, itulah kegiatan/ hal yang saya kerjakan selama ini. Karya yang saya hasilkan mungkin hanya kecil, tidak seberapa, tidak ada uangnya atau ada uangnya tapi sedikit sekali. Masa depan itu misteri, hasn't written yet. Apa yang saya kerjakan saat ini mungkin kecil, tapi kita tidak pernah tahu mungkin dimasa depan akan menjadi sesuatu yang berguna atau menghasilkan. Itulah yang diajarkan oleh bapak penulis untuk terus berkarya sekecil apapun itu. Bila kawan sekalian sudah membaca link artikel diatas pasti sudah tahu bahwa bapak saya adalah seorang buruh gaji hanya 50 Ribu perbulan. Meski bergaji kecil tapi bapak saya tidak meninggalkan pekerjaan itu, terus rajin bekerja/ berkarya, pun tidak mengeluh, dan malah masih mengerjakan/ berkarya hal lain seperti berkebun dan berternak. Siapa yang menyangka karena justru dari hal-hal kecil bapak saya bisa mengirim saya kebangku universitas. Itulah pentingnya kita harus mau untuk terus berkarya sekecil apapun itu, dan mau untuk terus belajar. Karena semua itu demi kebaikan akan masa depan kita juga keluarga kita. Bagus lagi bila kita bisa menemukan/ menciptakan sesuatu yang bisa dipakai oleh orang banyak/ masyarakat umum, ataupun organisasi/ perusahaan.

Note:

  • Written by Acik Mardhiyanti 
  • Do not copy this article without permissions





My Master's Journey in Belgium: How I Graduated on Time

My Master's Journey in Belgium: How I Graduated on Time      Graduating on time can be effortless for some, yet challenging for others. ...