COVID-19: Status Dinaikkan, Benar Kah Warga Singapura Panik Menimbun Bahan Makanan?


Produk beras di hypermarket dekat rumah kami banyak yang kosong hari Sabtu minggu lalu - Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Hari senin kemarin ini saya mendengarkan radio bisa sampai tertawa. Kenapa? Karena toilet paper jadi topik hangat di Singapura bahkan hingga hari Selasa. Hari Rabu (12 Februari 2020) saya tidak tahu karena saya harus pergi ke polyclinic. Seperti yang sudah diberitakan dimana-mana, mulai hari Jum'at minggu lalu atau tepatnya setelah status Coronavirus atau nama barunya menjadi COVID-19 dinaikkan levelnya oleh pemerintah Singapura, banyak bahan pangan makanan bahkan toilet paper habis disupermarket bahkan kosong. Kalau begitu benar kah warga Singapura panik karena status Coronavirus di Singapura naik level menjadi orange?

Hari sabtu kemarin, malam hari, kebetulan  saya dan suami hendak berbelanja beberapa sayuran, seperti bayam dan brokoli karena kulkas saya sudah tidak ada persediaan brokoli, serta belanja beberapa barang lain seperti wet wipe, pewangi kamar mandi. Biasanya sih belanja sayur dipasar. Tapi kalau tidak sempat ke pasar ya pergi ke hypermarket terdekat. Yup, jarak dari blok kami hanya 3 station bus saja. Tetapi sampai ditempat saya sempat menggerutu, kenapa? Karena bisa-bisanya ya itu sayuran bayam, bahkan beragam macam bayam, mulai daun bulat, lancip, bayam merah, bayam kecil dll...habis tidak ada sisa! Yang membuat saya aneh segala macam jenis sayuran hijau kosong, kecuali sayuran produk USA. Huh?! Tiba-tiba orang-orang jadi memborong sayuran, lah kemarin-kemarin apakah tidak makan sayur tiap harinya..?😕 Sabtu malam itu banyak barang kosong di hypermarket ini. Barang apa saja kah itu, ada beras, tisu basah antibakterial (wet wipe), tissue kering, toilet paper. Banyak makanan kaleng, biskuit-biskuit, instant noodles, mie-mie kering (biasa digunakan untuk mie goreng), produk-produk pembersih (terutama antiseptik atau disinfektan produk) ikut-ikutan mulai habis. Sebagian produk saat itu di-stock ulang seperti beras, juga toilet paper. Jadi rak-rak disupermarket itu kosong bukan karena benar-benar tidak ada stock lagi, tetapi karena untuk memindahkan stock dari gudang itu butuh waktu/ perjalanan. Seperti yang sudah disampaikan Perdana Menteri bahwa stock makanan itu cukup, jadi kita itu tidak perlu memborong mie instant, makanan kaleng, dan toilet paper. Beli ya sesuai kebutuhan saja...

Karena bayam yang hendak saya beli kosong, maka saya jadi pusing menggantinya. Akhirnya saya pun membeli french beans, dan brokoli sisaan. Dan saya lega karena tidak ada yang "menyentuh" alias memborong produk Jepang. Dan kami pun membeli soba, biskuit dari Tesco. Yup, saat ini saya memang banyak membeli bahan makanan Japanese, juga memilih biskuit Tesco. Untuk saat ini mulai banyak produk Tesco yang kami gemari, seperto tomato soup, vegetables soup, dan beragam potatoes. 

Bila hendak diperhatikan sebenarnya masih ada beberapa barang out of stock semenjak ada ramai-ramai Coronovirus ini. Masker dan termometer sudah lama out of stock, 2 barang ini barengan sudah lama habisnya. Dari termometer yang murah hanya $ 6 samapai $ 60 kosong semua. Selain itu beragam cuci tangan tanpa sabun alias sanitizer ikutan kosong. Parahnya lagi sampai macam-macam pembersih berbahan alkohol pun ikutan out of stock. Nah ada satu lagi yang juga ikutan ludes yaitu vitamin C. Huh??! 😒 Yup, banyak orang memborong vitamin C ditoko farmasi/ obat. Padahal melimpah sayuran dan buah yang banyak mengandung vitamin, tapi kenapa harus membeli vitamin C di farmasi?...


Tiba-tiba sayuran hijau (bayam, kailan dll) ikutan ludes hari Sabtu minggu lalu - Photographed by Acik Mardhiyanti

Kenapa banyak barang habis di supermarket? Apakah karena status Coronavirus dinaikkan menjadi orange, lantas warga Singapura panik semua terus memborong kebutuhan pokok? Kalau saya bilang sih, ya hanya sebagian warga bereaksi panik terus memborong bahan makanan. Kalau orang Singapura bilang, kiasu. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan kata "kiasu" ini, yang pasti artinya itu kearah rasa takut yang menyebabkan orang itu jadi selfish, mungkin kata gampangnya panik, takut, gelisah, dan paniknya berlebihan gitu ya... Ditambah lagi di Singapura itu kan banyak sekali pendatang yang bekerja dan tinggal disini. Saya mulai mempertanyakan, itu yang memborong-borong bahan makanan itu benar-benar warga Singapura atau kah warga pendatang tadi? Karena dikantor suami yang hampir semua pekerjanya adalah warga lokal (Singaporeans), mereka bereaksi biasa tidak panic buying. Malah beberapa teman kantor suami membagi-bagikan masker pada yang membutuhkan, juga ada yang menyediakan wet wipe, sanitizer juga. Itulah yang selalu disebut sebagai orang Singapura yang sebenarnya, dimana kita saling bantu dengan yang lain, tidak memikirkan diri sendiri apalagi memborong semua sampai ludes. Bahkan kami sempat bercerita dengan tetangga, tetangga pun menanggapi biasa saja tentang status orange.. 

Jadi bagaimana kondisi sebenarnya sih di Singapura? Untuk dilingkungan tempat tinggal kami orang-orang beraktifitas normal saja. Bila diperhatikan orang-orang disekitar lingkungan kami ya masih pergi ke pasar seperti hari biasa, belanja kebutuhan normal. Orang-orang juga masih riwa-riwi kepasar terutama saat jam makan. Jalanan ramai seperti biasa, bahkan ditempat kami ini jalanan ramai kendaraan 24 jam. Mungkin kalau melihat berita-berita atau membaca berita disupermarket sayur-sayuran sampai ikutan kosong, tapi percayalah dipasar sayuran masih normal stock-nya, toko-toko kelontong kecil atau biasa disebut minimart dekat rumah juga tidak kehabisan barang, bahkan saat ini minimart dekat rumah jualan hand sanitizer. Bahkan ada seorang nenek, salah satu langganan saya beli sayuran sampai ngantuk-ngantuk nunggu dagangan karena sayurannya masih banyak padahal hari sudah siang dan sebentar lagi mau tutup. Lah, sayuran yang kosong itu hanya di supermarket-supermarket saja? Bahan kebutuhan makanan yang kosong itu hanya disupermarket saja? Yup, benar sekali, kalau dipasar bahan makanan banyak, sayuran dll.. Maka saran saya untuk para warga pendatang di Singapura, sesekali belanjalah dipasar.  Kecuali masker, kalau mencari ini ditoko farmasi dipasar atau toko obat tradisional dipasar out of stock. Tapi kita pun tidak perlu khawatir, kan bisa membuat masker sendiri... Contohnya saya, saya bikin masker sendiri. Seperti kata kawan saya yang merupakan warga Jepang, "The virus is no longer maskable, isn't it?". Yup, kawan saya inipun tidak beli-beli masker, pun tidak memakai masker. Yang penting itu personal hygiene, social responsible, etc... segala sesuatu yang dianjurkan pemerintah itu yang harus didengarkan. Makanya kalau pemerintah berbicara itu didengarkan dengan seksama, jangan percaya message yang beredar di facebook, instangram... Dengarkan dengan baik nasihat dari pemerintah.


Tersisa paprika hijau - Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Jadi kalau saya bilang sih kondisi di Singapura setelah status Coronavirus orange, itu tidak seperti yang dibayangkan banyak orang diluar Singapura atau gambaran diberita media luar Singapura dimana status Coronavirus naik lantas warga Singapura panik semua dan memborong barang-barang seperti yang sudah disebut diatas. Kondisinya tidak seheboh berita-berita itu, hanya media luar Singapura saja yang membesar-besarkannya, Lah contohnya itu salah satu media ternama Indonesia cari nara sumber saja tidak akurat 😏 Tidak semua warga Singapura sepanik yang banyak diberitakan diluar. Diwilayah kami, dimana MP kami adalah Perdana Menteri sendiri, keadaan dilingkungan kami normal. Seperti senin pagi ketika saya pergi kepasar misalnya, orang-orang biasa saja tidak memakai masker, hanya satu-dua orang saja yang memakai masker (karena ada yang pilek gitu..). Tadi kebetulan pas jam makan siang, orang-orang ya seperti biasa makan di hawker (warung-warung makan dipasar), malah masih seperti biasa ada yang mengantri-ngantri. Yang belanja sayur atau buah ya belanja seperti biasa tidak berlebihan. Tetangga kami keluar rumah ya seperti biasanya tanpa memakai masker. Saya pun kalau hanya keluar sebentar juga tidak memakai masker. Kecuali sudah 2 kali ini saya pergi ke polyclinic ya saya pakai masker. Suami penulis pun berangkat kerja seperti biasanya. Yang beda itu ketika travel dari rumah kekantor memakai masker. Dikantor suami, teman-temanya juga beraktifitas normal, tidak ada yang menimbun/ membeli bahan pangan berlebihan dirumahnya. Hal yang terlihat berbeda itu karena mulai hari Senin kemarin orang yang bekerja (bukan dirumah), sekolahan, sebelum masuk gedung mereka wajib ambil termometer. Sebelum pulang kerja atau sekolah ambil termometer lagi. Bahkan sekolahan didekat blok kami juga masih beraktifitas olahraga. Jadi, tidak semua warga Singapura itu pada panik semua, hanya sebagian warga saja.

Bila ada yang bertanya, "ada kah rencana untuk kembali ke Indonesia mengingat status Coronavirus di Singapura sudah orange?". Maka jawaban saya adalah bahwa di Singapura tidak ada apa-apa.  Keadaan hypermarket normal lagi, seperti biasa sayuran hijau ada sebagian yang sampai layu tidak ada yang beli (padahal waktu itu ada yang memborong sayuran hijau sampai ludes!). Lagian kehidupan kami disini, cari uang juga disini, Singapore is our home. Status naik jadi warna orange itu bukan berarti Coronavirus itu mewabah di Singapura seperti yang banyak diberitakan diluar. Maksudnya status orange itu karena virusnya kemungkinan sudah bersirkulasi tapi masih bisa di-contain, di-track jelas asalnya. Saya pribadi, saya percaya dengan pemerintah Singapura. Apalagi nanti tanggal 22 Februari ini akan ada vaksin pneumonia diwilayah kami. Misal tidak sabar ikut vaksin dari pemerintah, kita pun bisa vaksin sendiri ke polyclinic terdekat. Artinya kita bisa kapan saja vaksin pneumonia secara mandiri. Ya, saya itu bukanlah seseorang yang percaya kabar tidak jelas dimedia sosial, baca berita dari sumber yang terpercaya. Yup, benar sekali, saya ini bukan orang yang suka bermedia sosial-an, chit chat haha hihi..


Tiba-tiba orang-orang membeli sayuran hijau sampai ludes hari Sabtu minggu lalu, tersisa lettuce - Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Jika menengok kebelakang, saya sendiri pernah mengalami bencana gempa Jogja tahun 2006. Silahkan dicari ya di Google tentang bencana itu. Bayangkan saat itu saya baru saja wisuda, masih menyelesaikan sebuah kursus sambil mencari kerja, uang pas-pas-an, tanpa diduga terjadi bencana. Tidak ada persiapan apa-apa, tidak punya stock makanan meski hanya mie instant, semua pusat perbelanjaan, toko-toko, warung-warung kelontong, warung makan seketika tutup semua, dan listrik pun mati seketika. Dan waktu itu saya tidak langsung "kabur" kembali kerumah bapak saya, tetapi tetap melanjutkan hidup. Belajar dari kejadian itu saya belajar untuk tidak mudah panik dan berusaha untuk berpikir jernih. Lantas apa hubungannya dengan COVID-19? Fear and panic are more dangerous than the virus itself. Dan itu benar sekali adanya. Jadi justru kita ini harus bersama-sama fight, kalau bisa menolong yang lainnya atau membantu yang lain (misal punya masker banyak ya disumbang pada yang membutuhkan). Dan saya salut dengan orang-orang seperti ini. Bahkan ketika banyak orang pada memborong ludes bahan makanan, malah ada orang yang membagi-bagi makanan pada yang membutuhkan. Itulah yang disebut orang Singapura sebenarnya.

Jadi, inti dari penjelasan diatas bahwa tidak semua warga Singapura itu panik dan memborong-borong bahan makanan karena status COVID-19 menjadi Orange. Tidak semuanya ya. Seperti saya ini misalnya, membeli barang ya sesuai kebutuhan saja. Bahkan sabtu minggu lalu itu kami hanya membeli wet wipe satu pack saja. Mungkin kalau orang lain dah diambil habis dibeli semua karena waktu itu baru saja stock ulang. Bahkan kami ini tidak pernah mengantri membeli masker. Yup, di hypermarket dekat rumah itu menjual masker dimana tiap orang dibatasi hanya boleh membeli satu  atau 2 pack saja. Dan tiap kami pergi belanja itu antrinya luar biasa. Alih-alih ikut antri membeli masker, saya malah membuat masker sendiri yang kami gunakan bila dibutuhkan saja.

Hingga Rabu minggu ini, total jumlah case di Singapura sudah 50, dimana 8 orang masih kritis, dan 15 orang sudah discharged alias sudah sembuh. Jadi, jagalah kebersihan diri (cuci tangan misalnya), makan diet alias makan makanan sehat/ bernutrisi (jangan cuma makan sayur dan buah hanya saat diet atau karena Coronavirus) sebaiknya jadikanlah kebiasaan hidup makan sayur dan buah tiap hari, dan rajin bersih-bersih rumah (misal rumah di pel tiap hari, cuci baju rutin tiap hari), dan jangan lupa untuk tidak selfish. Selfish disini yang saya maksud adalah memborong bahan makanan maupun produk antibakterial, karena...karena ada orang lain juga yang membutuhkan. Stay alert but don't anxious.

Note:

  • Written by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Do not copy this article without permissions
  • Do not reuse these photographs anywhere else without permissions






No comments:

Post a Comment

After 2 Years of Stepping Down, Where is Ichikraft Now?

About two years ago, I made the decision that the Ichikraft Etsy shop closed temporarily. However, even until this day, I am still with the ...