Belanja di Pasar Traditional Singapura, Bisa Dapat Apa Saja?

IMG_4642[1]

Telur low cholesterol, telur puyuh, tempe, bayam hijau, bayam merah, daun ketela rambat, lettuce, semua dibeli di pasar Chong Boon Singapura. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Tinggal di Singapura dan belanjanya di pasar (wet market)? Buat saya/ penulis, kenapa tidak? Ya, mungkin buat kebanyakan pendatang lebih senang belanja di supermarket atau pusat-pusat groceries. Tapi untuk saya pribadi, belanja di pasar juga tidak masalah, malah terkadang merasa senang bisa berbelanja dipasar. Kenapa merasa senang, memang bisa dapat apa saja di pasar? Mari simak paragraf selanjutnya, kira-kira apa saja yang bisa saya beli dipasar tradisional Singapura.


Low cholesterol egg, pacific rose apples, orange, lettuce, spinach, lemon, baby corn, tomatoes, bell pepper, atap seeds, broccoli, green peas, french beans, carrots, some cakes - Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Pasar tradisional di Singapura biasa disebut dengan nama wet market. Di pasar kita bisa melihat berderet-deret penjual sayuran dengan berbagai macam sayuran segar, penjual buah dengan beragam buah-buahan. Dan tidak lupa tentu saja ada banyak penjual ikan, daging, juga berbagai macam bumbu-bumbuan. Selain itu, pasar traditional di Singapura dilengkapi toko-toko yang menjual peralatan dan perlengkapan rumahtangga yang saya jamin lengkap, toko kue dan roti, toko obat, toko tanaman, toko-toko tas/ sandal, sepatu, juga pakaian. Selain itu dipasar selalu bersebelahan dengan hawker. Apa itu Hawker? Ini adalah warung-warung makan dan minuman. Tidak hanya itu di pasar juga ada salon-salon, klinik-klinik, dokter gigi, toko peralatan pesta, tempat pijat/ SPA. Dan dipasar dekat rumah kami ada toko sepeda, toko es krim, bengkel sepeda, penjahit, toko mesin jahit, restoran cepat saji, mini market, toko furniture, dll. Tidak lupa, di pasar pasti ada ATM, yang terkadang ATM ini bersebelahan dengan mesin deposit (mesin untuk menabung), SAM Kiosk (mesin untuk membeli perangko), dan juga kotak pos dimana kita bisa mengirim surat tanpa harus mengunjungi kantor pos. Ya, semua kebutuhan sehari-hari bisa kita dapatkan di pasar dengan hanya berjalan kaki. Itulah kalau ingin tahu salah satu budaya di Singapura yaitu pergi kepasar dan jalan kaki. Tapi bila hendak membeli bumbu international tertentu, misal Japanese tempura batter, Japanese dressing, butter, keju, kami harus membelinya di supermarket atau hypermarket.


Buah-buahan yang saya/ penulis beli dari pasar, New Zealand Apple Rose, pear, Australia grape, avocado, banana, strawberry - Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Lantas apa yang membuat saya belanja di pasar traditional (Wet Market) ini? Tahun pertama pindah ke Singapura, saya/ penulis kalau belanja selalunya ke supermarket, seminggu sekali untuk buah-buahan dan sayuran, dan satu bulan sekali untuk membeli kebutuhan harian yang bisa dibeli sekaligus seperti, sabun cuci, sabun mandi dll. Tapi lama-lama saya merasa bahwa kebiasaan saya ini seperti ada yang salah, kenapa? Karena, warga lokal lebih suka berbelanja ke pasar dan hampir setiap hari. Bila warga lokal suka berbelanja kebutuhan harian di pasar, kenapa saya tidak? Maka saya pun hampir setiap hari ke pasar. Kadang-kadang bisa bolak-balik ke pasar dalam sehari. Ya, di Singapura orang-orang pergi ke pasar cukup dengan hanya berjalan kaki. Di Singapura tidak ada budaya orang  manja-manja misal pergi kepasar atau warung yang jaraknya hanya 500 m atau 1 Km naik motor, tidak, tidak ada budaya manja seperti itu di Singapura.

IMG_4652[1]

Apel Pasific Rose, Pear, tomat, broccoli, green peas, tahu handmade, roti putih, semuanya dibeli di pasar Chong Boon Singapura. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Hal yang menarik di pasar adalah dimana saya/ penulis bisa mendapatkan sayuran-mayur segar, malah bisa saya katakan lebih segar dibanding beli di supermarket. Kenapa? Biasanya sayur-sayuran ini dianter malam hari dari Malaysia, dimana pagi buta sudah sampai dipasar, dan dijual pagi harinya. Setiap hari seperti itu. Jadi bisa dibayangkan, kan…sayurannya segar baru dipetik dan langsung diantar ke pasar. Biasanya di pasar saya/ penulis suka membeli sayur bayam, baik bayam merah maupun bayam hijau, lettuce, broccoli, wortel, tomat, green peas, daun ketela rambat, daun katu/ daun manis, wortel, dll. Di pasar ini juga kita bisa menemukan bumbu masak langka seperti blimbing wuluh, wah kalau pas ada dan bisa mendapatkannya saya/ penulis senang sekali karena bisa masak sayur asem. Kalau buah-buahan, di pasar penulis suka membeli apel Pacific Rose, buah pir, juga jeruk Murcott (Australian Murcott). Ya, tiga jenis buah ini adalah buah-buahan favorite kami dirumah. Kadang-kadang diselingi dengan membeli buah pisang, jambu, mangga, semangka, atau yang lainnya. Tapi lebih sering membeli tiga jenis buah tadi, Australian Murcott, apel Pacific Rose, anggur, dan pear.


Murcott, pear, dragon fruit, and avocado - Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Bagaimana dengan harga? Apakah harga barang-barang dipasar lebih murah? Saya/ penulis tidak  bisa bilang bahwa di pasar murah semua. Contoh gampangnya, apel Pacific Rose dimana-mana harganya sama dan memang mahal. Sayuran bagaimana? Ya, di pasar sayuran terkadang lebih murah harganya dibanding dengan supermarket, seperti misalnya bayam merah harganya hanya SGD 1 saja dengan kuantiti yang lebih banyak.  Kue-kue dan roti harganya standard tidak mahal.  Kalau pakaian, misal kaos kita bisa mendapatkan harga murah, ya murah sekali dengan kualitas dan desain bagus yang tidak kalah bagus dengan yang dijual di mall. Dimana pagi hari sampai jam 2 siang banyak penjual tidak tetap yang menjual beragam pakaian, tas, sepatu, baju anak-anak, kadang perhiasan, dll. Seperti saya misalnya, kalau pakaian sehari-hari kebayakan beli kaos dipasar saja.

IMG_4664[1]

Bawang merah, onion, oyster sauce, terong, kacang panjang, lettuce, dan blimbing wuluh, semua dibeli di pasar Chong Boon Singapura. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Jadi, apa yang bisa saya/ penulis dapatkan dengan berbelanja di pasar traditional Singapura? pertama, bisa mendapatkan sayur dan buah-buahan segar. Harga mahal atau murah tergantung jenis sayur dan buah yang kita beli. Keduanya, saya bisa mendapatkan diskon, ya kalau kita sudah menjadi pelanggan pasti kita akan mendapatkan diskon. Hubungan antar pelanggan dan penjual di pasar tidak hanya sekedar penjual yang menjual dagangannya sementara pelanggan hanyalah pembeli, bukan, bukan seperti itu. Tapi lebih dari itu, bisa dikatakan kita akan mendapatkan teman baru di pasar. Seperti kemarin ketika membeli bawang merah, oyster sauce, dan onion, saya/ penulis hanya disuruh membayar SGD 7.00 , 10 cent atau 20 cent-nya tidak perlu membayar. Meski hanya SGD 10 cent saja, tapi saya/ penulis sudah merasa senang. Itu artinya kita bisa dianggap teman oleh penjual. Itulah hal yang menarik di pasar, heartwarming.

IMG_4665[1]

Bumbu langka, blimbing wuluh untuk sayur Asem, bisa didapatkan di pasar Chong Boon Singapura. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Belanja di pasar sekarang sudah menjadi kebiasaan penulis. Sehari-hari pasti pergi ke pasar untuk membeli sayur-sayuran dan buah segar. Karena dipasar itu namanya penjual kue dan roti-roti, beberapa penjual buah, klinik, penjual obat-obatan, toko tools (perlengkapan rumahtangga), semua buka sampai jam 9 malam. Malah beberapa penjual buah buka 24 jam. Sementara klinik buka sampai jam 11 malam. Kecuali penjual sayuran, toko tutup setelah lewat tengah hari. Jadi kepasar tidak perlu kuatir toko-nya tutup, misal jam 7 malam butuh beli buah. Ya, kebiasaan warga lokal ini sudah menjadi kebiasaan saya juga, roti putih untuk sarapan, kadang kaos-kaos, peralatan rumah tangga, bisa di beli di pasar maka saya akan membelinya di pasar. Belanja ke supermarket kalau hanya membeli produk international tertentu, misal produk Jepang, seperti dressing, miso soup, ketela rambat Jepang, soba, dll. Ya, produk-produk international tertentu memang cuma bisa dibeli supermarket. Ada produk lain yang biasa saya/ penulis beli disupermarket seperti butter, mozzarella, pizza dough, cheddar misalnya, ini semua cuma bisa dibeli di hypermarket.  Bagaimana dengan kebutuhan harian lainnya, seperti sabun mandi, sabun cuci, beras, minyak goreng, dll, kalau untuk kebutuhan harian ini sudah sejak lama saya/ penulis belanjanya online saja setiap bulan sekaligus, karena tidak capek dan langsung diantar kerumah.


Onion, carrots, broccoli, purple cabbage, french bean, green peas, cauliflower, lettuce, chye sim. Semua dibeli dipasar Chong Boon Singapore - Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Dan ini merupakan pengalaman berharga untuk penulis, dimana saya/ penulis bisa belajar bagaimana budaya warga lokal, dan saya senang bisa belajar bagaimana budaya lokal dan orang-orangnya. Bahwa di pasar kita tidak hanya berbelanja sayur, buah, atau lainnya, tetapi kita bisa menemukan kehangatan hati disana, kehangatana antar penjual dan pembeli.

Baca juga artiket terkait tentang belanja ke hypermarket di Singapura, link https://acikmdy-journey.blogspot.com/2019/11/belanja-akhir-pekan-di-hypermarket-di.html

Note:
  • Written by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mardhiyanti
  • Do not copy this article without permissions
  • Do not reuse these photographs anywhere else without permissions

Tinggal di Singapura? Dapat Pelajaran Apa Saja?

IMG_3429[1]
Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Kami (saya dan suami) selalu bersyukur dengan apa yang telah kami dapatkan  hingga bisa berdiri tegak seperti sekarang. Semua ini kami mulai dari “zero” alias nol, ya tabungan kami nol Rupiah saat memulai kehidupan baru setelah menikah. Dan sudah hampir 7 tahun kami tinggal di Singapura. 1 atau 2 bulan lagi genap 7 tahun. Kira-kira apa saja sih yang sudah kami pelajari/ pelajaran apa yang sudah kami dapatkan setelah tinggal di Singapura?

Ada banyak hal yang sudah saya pelajari selama hampir 7 tahun tinggal di Singapura. Hal-hal yang tadinya tidak pernah saya pikirkan sama sekali. Setelah tinggal disini kami banyak belajar dan rasanya masih akan terus belajar. Dalam setiap segi kehidupan disini memiliki sebuah makna kehidupan yang kental akan prinsip hidup dan keberlangsungan hidup. Tentang budaya, kehidupan masyarakatnya, juga tentang lingkungan sekitar, yang kesemua itu memiliki ikatan erat antara satu dengan lainnya. Lantas apa saja sih hal-hal yang sudah saya pelajari?

1. Hidup Rukun Dalam Perbedaan

Saya tahu dan paham, untuk kita yang berasal dari Indonesia disekolah kita sudah diajari untuk toleransi. Saya yakin kawan sekalian sudah menelan pelajaran PPKN disekolah yang mengajarkan kita untuk bertoleransi dengan kawan, tetangga, atau kenalan kita yang berbeda suku, agama, dan budaya, bukan? Hidup rukun dalam perbedaan. Setelah tinggal di Singapura ini saya merasakan keharmonisasian kehidupan masyarakat yang berbeda-beda.

Dari awal kami datang dan tinggal di Singapura kami memilih tempat yang memang menurut kami cocok dan sesuai dengan keinginan kami. Dari sejak awal tetangga kami beragam, ada yang etnis Cina Buddist, Chinese Christian, Malay muslim, Indian Hindu juga ada. Dulu ditempat tinggal kami yang pertama, ada yang Muslim Chinese juga. Dikantor, suami berteman dengan beragam orang dengan budaya yang berbeda-beda.

Kalau ada acara Mooncake festival, semua warga ikut. Ada acara buka puasa bersama, semua warga bisa ikut. Apalagi acara Harmony Day, semua warga berdatangan. Acara-acara yang diadakan di Community Club, semuanya terbuka untuk warga tanpa memandang etnis, agama, maupun bahasa. Saya pernah ditanya orang, “eh di Singapura ada perayaan Lebaran, itu kawan Indonesia semua ya?”. Saya cuma tersenyum saja, saya katakan semua yang datang di acara itu (Acara Hari Raya Puasa/ Lebaran) adalah warga sekitar rumah alias warga local Singapura. Yang datang ada yang Malay, Chinese, juga Indian. Dari beragam acara di Community Club, kalau ada waktunya kami selalu ikut.

IMG_4140[1]

Kue Christmas dari tetangga kami. Meskipun berbeda tapi kami hidup rukun dan harmonis. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Christmas baru saja berlalu, ada tetangga kami yang merayakan maka dengan senang hati kami ikut berbahagia dengan membagi cokelat dan hadiah kecil hasil karya saya sendiri. Sementara dirumah, kami juga kebanjiran cokelat dan jajanan dikasih orang. Dan tetangga baik kami memberikan kue Christmas pada kami. Bagaimana dengan Chinese New Year, Oh kami akan memberikan jeruk dan kue pada tetangga kami yang merayakan. Malah pernah ditempat tinggal kami yang pertama, tetangga kami memberikan jeruk, kue-kue, serta angpao!! Waoww!! kami terharu… Kalau Hari Raya Puasa/ Lebaran bagaimana? dengan senang hati kami memberikan jajanan yang biasanya kami beli dari Indonesia pada tetangga kami. Belajar menghargai dan menghormati orang lain yang berbeda, serta turut berbahagia bila ada tetangga, kawan, atau kenalan yang merayakan perayaan tertentu yang berbeda dengan kita. Dengan begitu kehidupan kita akan selalu sehat dan positif serta harmonis. Tak kalah penting hidup kita menjadi lebih bahagia.

2. Menolong dan Berbagi Dengan Sesama

Dulu pernah ada diacara TV seorang Auntie yang suka merawat bunga dan memasak telur untuk pekerja migrant yang mengambil sampah setiap hari. Auntie itu bilang kalau merawat bunga, bunganya berbunga orang-orang bisa melihat bunganya dan merasa senang, bahagia, dan mereka tersenyum. Dengan begitu maka kita memberikan orang lain kesenangan dan kebahagiaan dengan melihat bunga yang kita tanam. Maknanya dalam, bukan? Auntie ini juga memasak telur rebus ala chinese untuk pekerja migrant ini. Bebagi kebahagiaan dengan hal-hal yang simple dan sederhana.

IMG_3868[1]
Hibiscus Flower dari “kebun” penulis. Bunga yang selalu membuat anak tetangga kami tersenyum. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Saya juga salut dengan orang-orang Singapura yang banyak berkarya diluar negeri sana dengan membantu sesama. Saya pernah lihat diacara TV, ada seorang anak muda baru lulus universitas dia memilih membantu anak-anak di Thailand. Ada lagi yang lain bekerja membantu para imigrant atau pengungsian diluar sana dimana wilayah kerjanya tentu saja berbahaya. Ada yang membantu petani didaerah Jawa Barat (saya lupa tempatnya), ada yang bergerak membantu korban gempa di Indonesia. Sementara didalam negeri sendiri ada banyak sekali aktifitas warga atau komunitas yang bergerak menolong warga sekitar, ada yang memasak dan membagikan makanan matang, membagikan bahan kebutuhan pokok, menemami warga tua, dan lain sebagainya. Lantas pelajaran apa yang bisa saya pelajari dari kesemua ini? Dan apa yang bisa saya lakukan?

Saya mendapat sebuah pelajaran bahwa tidak harus menjadi kaya raya dahulu baru menolong orang lain. Apa yang bisa kita tolong, maka kita bergerak menolong mereka. Dan puji syukur kami sudah bergerak sejak Juli 2013 untuk menolong sesama. Bisa dibaca disini kegiatan sosial kami https://ichikraft-give-care.blogspot.com/ Saat itu kami mulai dengan memberikan buku-buku pada seorang kawan kami di Indonesia yang sedianya mau membantu anak-anak supaya mau membaca buku. Setelah 1 tahun , 2 tahun nampaknya belum berhasil, menyerahkah kami? Tidak! November 2015, kami memulai lagi memberikan buku-buku pada seorang kawan Indonesia yang lain, yang setiap hari memberikan kursus gratis pada anak-anak sekitar, kursus membaca dan belajar. Program ini berhasil, setiap hari anak-anak antusias untuk datang belajar dan membaca. Saat itu kami merencanakan banyak program dengan kawan baik ini. ditahun yang sama November 2015 kami (saya dan suami) berinisiatif untuk memberikan bantuan sekolah untuk anak-anak didesa yang bersemangat sekolah namun hidup miskin/ berkekurangan. Waktu itu kami membantu 3 orang anak di dua daerah yang berbeda di Indonesia. Tapi tanpa disangka salah seorang kawan baik kami dipanggil yang kuasa terlalu awal sehingga dengan terpaksa kami tidak bisa lagi membantu dua orang anak ini karena kami harus punya orang yang bisa dipercaya menyalurkan dana bantuan sekolah. Sementara 1 orang anak didaerah lainnya sudah lulus SD (Sekolah Dasar) tahun 2017. Dan kami tidak bisa membantunya lagi, karena setelah lulus SD (Sekolah Dasar) si anak pindah kedesa lain untuk melanjutkan kejenjang SMP (Sekolah Menengah Pertama) sehingga kawan kami tidak bisa menjangkaunya untuk menyalurkan bantuan. Dan saat ini ada tiga orang anak yang kami beri bantuan biaya sekolah tiap bulannya. Mudah-mudahan kami bisa menambah satu anak lagi untuk dibantu.

Selain hal-hal diatas, puji syukur tahun 2018 ini kami mulai ikut serta membantu salah satu sekolah tunagrahita di Indonesia. Tidak hanya itu saja, jika diminta saya pribadi dengan senang hati mengajari anak-anak tunagrahita disekolah tersebut untuk membuat bunga-bunga handmade. Tapi sayangnya saya tidak pernah punya waktu lama-lama di Indonesia. Beberapa waktu yang lalu sudah ada permintaan dari salah satu pekerja disekolah tunagrahita terbut, agar saya mau mengajari mereka membuat bunga-bunga handmade jika saya sedang ke Indonesia. Dengan senang hati saya akan mengajari mereka tanpa meminta bayaran sama sekali dengan bahan-bahan material dari saya tentunya.

Selain kegiatan diatas, saya sudah sejak lama berkebun di corridor, menanam tanaman berbunga, terkadang cabai, paprika, semangka pernah juga. Bisa dibaca disini aktifitas "berkebun" saya https://acikmdy-garden.blogspot.com/ Saya selalu katakan bahwa kegiatan saya ini bukanlah sebuah hobi melainkan sebuah gaya hidup dimana kita peduli dengan keasrian lingkungan sekitar yang dimulai dari rumah kita sendiri dengan menanam tanaman hijau dan bunga-bunga. Hasilnya tidak hanya membuat kita senang dan bahagia melihat bunga-bunga tersebut, namun membuat orang lain juga bahagia dengan memandang tanaman kita. Kadang-kadang kalau tanaman bunga saya berlebih, saya bagikan pada tetangga yang suka tanaman.

Ya, menolong/ membantu dan berbagi dengan orang lain bisa dari hal-hal simple dan sederhana, kita mempunyai keterampilan atau kemampuan dalam bidang apa, maka kita bisa menolong sesama dengan kemampuan dan keterampilan yang kita punya. Atau dengan hal sederhana menanam tanaman berbunga, kita telah memberikan kebahagiaan tersendiri pada orang lain. Ya, saya dirumah merawat tanaman salam (bay leaves), daun pandan, jeruk, mint, dimana daunnya bisa untuk keperluan bumbu masak. Tentu dengan begitu kita bisa berbagi juga dengan tetangga yang membutuhkan bumbu masak tersebut, kalau mereka mau dan sedang butuh boleh mengambil saja dari “kebun” saya itu. Hidup kita terasa lebih indah dan bermanfaat dengan membantu/ menolong, dan berbagi dengan sesama.

3. Menata Masa Depan dan Hari Tua Sebaik Mungkin

Pernah tetangga kami (warga Singapura) ditempat yang lama bertanya pada saya ketika saya sedang memberi makan kucing liar diblok kami, “suami sudah pulang kerja?” Saya jawab “belum." Waktu itu jam sudah menunjuk pukul 9 malam. Katanya lagi,”Oh it’s Ok. mumpung masih muda mesti kerja keras biar nanti kalau sudah tua enak tidak susah." Ya, untuk suami saya sebagai orang yang bekerja dibidang IT, pulang kerja jam 12 malam itu biasa, dirumah masih harus lembur kerja sampai jam 4 pagi atau jam 5 pagi juga biasa. Jadi, kami tidak ada waktu santai-santai, haha hihi atau chit chat, kami tidak ada waktu untuk semua itu. Kami bahu-membahu menata masa depan sebaik mungkin. Waktu yang ada kami gunakan untuk berkarya dan terus belajar. Berkarya sekecil apapun, dan mau belajar dalam banyak bidang. Untuk apa semua itu? Supaya anak cucu memiliki masa depan yang cerah.

Ada yang bilang pada saya, “Oh sudah ketularan orang Singapura ya?” Saya pribadi sejak jauh-jauh hari sudah menata masa depan. Dimulai dari kelas 5 SD (Sekolah Dasar), saya sudah bercita-cita masuk Universitas. Masuk kelas 1 SMP (Sekolah Menengah Pertama), saya sudah memutuskan akan menganbil jurusan Ekonomi saat masuk bangku universitas. Kelas 2 SMA (Sekolah Menengah Umum), saya bercita-cita untuk sekolah di luar negeri. Karena bapak saya adalah orang biasa dan tidak punya banyak uang hanya bergaji Rp. 50.000; saat saya SMP (Sekolah Menengah Pertama), maka selangkah demi selangkah saya menapaki jalan menggapai impian dan cita-cita. Dan puji syukur bisa menyelesaikan S1 Ekonomi saya dalam waktu 3,5 tahun dengan nilai terbaik. Setelah mendapat gelar S1 Ekonomi, saya berpindah pindah dari perusahaan satu ke perusahaan lain, merenda masa depan pelan tapi pasti.  Setelah menikah bahu membahu dengan suami menata masa depan. bersama. Puji syukur, diumur 27 tahun (saya belum sampai 27 tahun), kami pindah ke Singapura. Tidak terasa sekarang sudah hampir 7 tahun di Singapura dan kami menetap disini. Jadi sebenarnya berusaha keras menggapai impian itu sudah dimulai ketika masih duduk dibangku Sekolah Dasar, jauh hari sebelum pindah ke Singapura.

Sampai di Singapura saya merasakan betapa pentingnya tingkat pendidikan seseorang. Di Singapura anak umur 1 tahun sudah pada mulai sekolah. Selain sekolah mereka juga mengikuti beragam kegiatan kemampuan diri, misal musik. Masa depan direncanakan dan ditata sedini mungkin. Dan menata masa depan sedini mungkin itu penting sekali dan tidak bisa instan untuk meraih impian dan cita-cita. Butuh proses dan waktu yang panjang dan lama. Dan kita harus konsisten dan pakem dengan arah menuju impian dan cita-cita. Sulit? tentu saja sulit dan tidak mudah, apalagi bila kita hanya orang biasa.

Bagaimana dengan saya? Saya bersyukur jalan saya selama ini sudah berada dijalur yang benar, meski dari desa dan tidak punya uang untuk sekolah, namun tidak pernah menyerah untuk terus bersekolah, meski harus bekerja sejak pulang sekolah. Ya, diumur 11 tahun saya sudah mulai bekerja setelah pulang sekolah. Hasil uangnya saya pakai untuk membeli keperluan dan perlengkapan sekolah, seperti tas sekolah, sepatu sekolah, buku-buku, pensil, pena, dan lain sebagainya. Kalau ada yang bilang pada saya, “benar kah kamu kerja sejak umur 11 tahun?”, ada lagi yang berkata, “benarkah lulus S1 dalam waktu 3,5 tahun?”, ada juga yang berkata, “apa iya kamu mencari kerja dan bekerja setelah lulus S1, dikost keliatannya cuma diam saja?”. Maka saya katakan bahwa, kalau saya hanya diam saja tidak bergerak kejalur impian dan cita-cita, maka saat ini saya tidak berada di Singapura. "If I don't step up forward I will always be in the same place and never get what I want". Tinggal di Singapura makin memperkokoh pondasi kami untuk terus memperkuat tulang-tulang masa depan yang kami impikan. Karena orang-orang disekitar kami adalah orang-orang yang selalu berpikir positif dan menata masa depan. Oleh karenanya kami makin mantap untuk terus melangkah dan melebarkan sayap.

Bagaimana dengan hari tua atau masa pensiun? Pernah tetangga kami ditempat lama selalu bercerita bila masa pensiun tiba beliau dan istri akan menikmati masa tua disuatu tempat tertentu yang menurut mereka nyaman. Tidak ada namanya menikmati masa pensiun dengan momong cucu dirumah, minta duit sama anak, tidak, tidak ada rencana seperti itu. Anak-cucu harus mandiri dengan kehidupannya sendiri, berkarya. Obrolan tentang masa pensiun mau kemana sudah dipikirkan sejak dini, jauh-jauh hari sebelum masa pensiun. Bahkan teman-teman suami dikantornya sudah memikirkan nanti masa pensiun mau dihabiskan dimana/ kemana. Padahal umur mereka belum menyentuh angka 40 tahun. Bagaimana dengan saya dan suami? Tentu kami juga sudah punya rencana tersendiri diumur pensiun nanti. Dan puji syukur, belum sampai umur 35 tahun kami sudah punya jaminan hari tua serta kesehatan, dengan jumlah uang pensiun sudah kami ketahui. Oh, PNS (Pegawai Negeri Sipil) ya? Bukan, kami bukan PNS, kami adalah orang yang menata masa depan sejak dini dan selalu berusaha keras menggapai impian dan cita-cita kami.

4. Peduli Dengan Hewan/ Binatang

Peduli dengan hewan ini adalah hal baru dalam hidup saya. Dulu-dulu rasa kepedulian ini cuma sedikit, memandang hewan, ya hewan. Kalau sekarang setelah tinggal di Singapura berbeda. Kepedulian terhadap hewan bukan saja memiliki rasa empati, tapi memandang hewan adalah makluk hidup yang bernyawa dan memiliki haknya. Maksudnya gimana? Maksudnya kita tidak boleh menyakiti binatang/ hewan disekitar kita.

IMG_4439[1]
Ichi, kucing kami. Sebelumnya adalah kucing liar diblok kami kemudian kami adopsi. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Dulu saya selalu heran, kenapa banyak warga sekitar yang memberi makan kucing-kucing liar. Dan makanan yang diberikan adalah makanan kering, atau makanan basah khusus untuk kucing. Mereka rela merogok uang untuk membeli makanan-makanan kucing tersebut untuk kemudian diberikan pada kucing-kucing liar disekitar. Lama-lama saya jadi paham bahwa kita harus peduli dan berempati pada hewan. Dari situ saya jadi ikut memberi makan kucing liar di blok kami tinggal. Tidak punya kucing, tapi selalu membeli makanan kucing setiap saat. Sampai akhirnya satu diantara kucing liar yang saya beri makan, saya adopsi. Dan sekarang sudah masuk tahun ke-lima si kucing bersama kami, dan kami beri nama Ichi. Ichi artinya satu dalam bahasa Jepang. Kalau ada yang bilang bahwa punya kucing adalah hobi, oh buat saya punya kucing bukanlah hobi, lucu-lucuan, atau kesukaan. Buat saya dan suami punya kucing adalah bentuk rasa peduli dan empati kami pada hewan. Dengan mengadopsi satu kucing liar saja, itu artinya kita menyelamatkan hewan tersebut.

5. Berkarya Sekecil Apapun Itu

Di Singapura, banyak saya temui ibu rumahtangga memiliki kegiatan sampingan. Yang bisa main piano, membuka les piano dirumah, yang suka tanaman bunga, budidaya bunga dirumah untuk kemudian dijual, yang bisa nyalon, buka salon dirumah, ada yang nge-blog, membuat video, ada yang jualan online, dan rasa-rasanya banyak sekali yang berjualan online. Macam-macam kan aktifitas ibu rumahtangga di Singapura. Tidak ada sekalipun saya menemui ibu rumahtangga yang suka ngerumpi, ngerujak siang-siang, apalagi haha hihi chit chat, tidak, tidak pernah menemui ibu rumahtangga yang seperti itu di Singapura.

IMG_E4466[1]
Salah satu Hair Clip hasil design penulis. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Ibu rumahtangga di Singapura sibuk semua, pagi mengantar anak sekolah (bagi yang sudah punya anak), pulangnya kepasar, masak, laundry, dan bersih-bersih rumah. Patut untuk diketahui, bersih-bersih rumah bukan cuma sekedar sapu lantai dan cuci piring lhoo. Namanya membersihkan rumah bagi ibu rumahtangga di Singapura setiap harinya ya mengepel, vacuum, melap semua surface dirumah, menata barang dirumah, sampai semua bagian rumah rapi dan bersih. Percayalah, jam 5 sore belum selesai semua pekerjaan rumah itu. Tetapi meski sibuk dengan pekerjaan rumah, ibu rumahtangga di Singapura punya aktifitas pekerjaan lain, seperti yang sudah saya sebutkan diatas.

IMG_E4557[1]
Salah satu cat collars hasil design penulis. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Lantas dapat pelajaran apa untuk saya? Sekecil apapun itu kita harus terus berkarya. Bagaimana dengan saya? Saya sendiri berkebun di corridor. Blog tentang berkebun saya bisa dilihat disini https://acikmdy-garden.blogspot.com/ Selain berkebun, saya sudah mulai membangun bisnis sejak 2017, link toko saya di Etsy https://www.etsy.com/shop/ichikraft Sejak tahun 2016 saya mulai mengikuti kelas online dari Universitas di Amerika seperti Harvard University dan University of California, Berkeley. Di tahun 2018 berhasil menyelesaikan program study dari universitas di Australia yaitu Micromaster dari Curtin University. Dan masih akan terus sekolah, belajar, berkarya, dan menolong sesama. Selain itu saya masih suka menulis jika punya waktu. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan berkarya sekecil apapun itu.


Ichikraft YouTube Channel, visit and subscribe! Video creator, designer, and business owner: Acik Mardhiyanti, Video Editor RDZ - Hasil karya saya ditahun 2019



Ichikraft YouTube channel - Video creator, designer, business owner: Acik Mardhiyanti / Acik Mdy - Video editor: Rdz


Ichikraft YouTube channel - Video creator, content creator, designer, business owner: Acik Mardhiyanti / Acik Mdy


6. Mandiri

Dulu kenalan baik kami ditempat lama adalah pasangan suami-istri dimana 2 anaknya sudah menikah. Waktu itu sang suami/ si bapak sudah hampir pensium, sementara sang istri memutuskan menjadi ibu rumahtangga setelah menikah. Anaknya yang sudah menikah dianjurkan untuk mandiri, keluar dari rumah orangtua, membeli/ menyewa flat sendiri serta mengurus anaknya sendiri. Kenalan kami ini tidak mau dititipi cucu. Si bapak ini berkata pada saya, “kalau sudah menikah harus mandiri dan bertanggungjawab pada keluarganya sendiri jangan tergantung pada keluarga dan orangtua. Kalau punya anak ya harus diurus sendiri, jangan merepotkan orangtua untuk mengasuh anak." Karena setiap minggu sering ketemu ditaman dan mengobrol, kami banyak belajar dari mereka tentang bagaimana kita menjalankan kehidupan dengan menjadi orang yang selalu mandiri dalam segala hal, dan apa-apa harus sendiri. Sampai dihari tua nanti juga harus mandiri tidak boleh tergantung dengan anak apalagi sampai meminta jatah uang tiap bulan pada anak.

Saya suka ketawa kalau ada kawan di Indonesia yang mengira saya ini punya pembantu. Mengapa? Tinggal diluar negeri harus mandiri, apa-apa harus bisa mengerjakan sendiri. Kami tidak kepikiran untuk punya pembantu dirumah, meski akhir-akhir ini saya dirumah sering kelelahan karena selain mengurus rumah saya juga harus mengurus “kebun”, study jika sedang mengikuti kelas, menulis, dan mengurus usaha. Dimana mengurus usaha ini apa-apa dikerjakan sendiri, mulai dari design, proses pembuatan, marketing, photography, video creator, packaging, shipment etc...semua diurus sendiri. Ya, suami membantu hanya kalau ada waktu. Semuanya itu dikerjakan sendiri. Ya, mungkin jika suatu saat benar-benar sibuk sekali, mungkin kami akan memanggil jasa cleaner (jasa membersihan rumah dengan hitungan per jam). Tapi, sebisa mungkin semua dikerjakan sendiri. Tidak tergantung pada pembantu, apalagi keluarga.

Dan puji syukur sejak awal setelah menikah, kami mandiri tidak pernah sekalipun tergantung pada orang lain apalagi orangtua maupun keluarga, TIDAK. Apalagi saya, belum genap 17 tahun sudah keluar dari rumah orangtua untuk sekolah dan menata masa depan. Setelah lulus S1 sudah tidak mau lagi diberi dan dikirimi uang oleh bapak saya. Setelah bapak saya meninggalpun, sepeserpun saya tidak pernah menggunakan uang atau benda warisan dari bapak saya, TIDAK. Kami bersyukur telah menjadi orang dewasa yang mandiri. Dan selalu bersyukur dengan orang-orang disekitar, tetangga serta kenalan kami yang bisa menjadi contoh teladan dalam hidup kami. Terimakasih.

7. Kebiasaan Hidup Sehat

Jujur saja, sebelum pindah dan menetap di Singapura, sewaktu tinggal di Jakarta saya tidak pernah memikirkan masalah makanan ini sehat kah, makanan itu kurang sehat kah, dan lain sebagainya. Setiap bulan belanja ya belanja saja tanpa memikirkan minyak goreng ini baik tidak untuk kesehatan, beras, gula, minuman, dan lainnya.

Di Singapura, hanya minyak goreng saja pilihannya beragam, ada minyak goreng canola, sunflower, minyak biji-bijian dan lain sebagainya. Gula pilihannya juga banyak, selain gula pasir biasa yang terbuat dari tebu, ada gula stevia, gula yang terbuat dari buah juga ada. Beragam minuman sehat serta rendah kalori selalu ditawarkan, seperti jus buah, susu, teh, dan kopi, semua ditawarkan dengan rendah gula dan kalori. Dan ini menjadi hal baru dalam hidup saya, karena harus berpikir keras mana yang lebih bagus dan sehat, serta memilih mana yang lebih baik. Jadi, kami membeli bahan-bahan makanan bukan karena korban iklan di TV, tetapi kami memilih sendiri.

IMG_3209[1]
Salah satu menu kami dirumah, ikan goreng dengan butter, miso soup, nasi okome (Japanese white rice) dengan furikake, ada sedikit kerupuk, dan apel. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Jadi, kebiasaan hidup orang-orang Singapura dalam memilih makanan dan bahan makanan ini berpengaruh positif pada kebiasaan hidup kami untuk menjadi orang yang peduli akan makanan apa yang akan kita makan, bukan cuma asal makan. Boleh percaya atau tidak, setelah pindah ke Singapura saya jarang sekali terkena sakit flu/ batuk-pilek, dalam setahun belum tentu terkena flu, jadi tidak pernah sakit flu dan batuk selama setahun? Tidak. Saya itu kena flu dan batuk ketika berkunjung ke Indonesia. Boleh percaya, boleh tidak ya. Tapi itulah kenyataannya. Buat saya makanan sangat berpengaruh, termasuk lingkungan juga. 

IMG_3214[1]
Salah satu menu soup (green peas, tomato, carrot, cabbage, spring union, dll) kesukaan kami dirumah. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Makan buah, sayur, dan ikan atau daging, sudah menjadi kebiasaan atau gaya hidup. Dan untuk saya daging dilewati karena saya tidak suka makan daging. Vegetarian? Bukan. Ya tidak suka saja makan daging dan bisa mual dan muntah. Untuk gula, sudah sejak lama (sejak pindah Singapura) sudah tidak pernah lagi membeli gula. Jadi saya masak dirumah tidak pernah menggunakan gula dalam masakan apapun. Jikalau iya membeli gula, kami membeli gula stevia, inipun jarang beli. Blog resep-resep masakan saya bisa dilihat disini https://acikmdy-recipe.blogspot.com

IMG_2666[1]
Salah menu favorite kami dirumah, baked salmon, asparagus, lettuce, broccoli, tomato, dan baked sausage, dengan saus soyu, Japanese dressing. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Selain hal-hal diatas tentu masih ada banyak hal yang bisa kami pelajari selama tinggal di Singapura. Bila mau ditulis semua bisa menjadi novel. Karena ada banyak sekali, seperti misalnya disiplin dalam hidup, kebiasaan teratur dan mengantri dimanapun, menghargai waktu dengan melakukan hal bermanfaat dan berguna, menjadi orang terbuka, dan lain sebagainya.

Note:
  • Written by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Video creator, designer, business owner: Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Video editor: Rdz
  • Do not copy this article without permissions
  • Do not reuse these photographs without permissions

Tinggal di Singapura? Apa Saja Sih Keuntungannya?


IMG_3428[1]

Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Tidak terasa sudah memasuki bulan Desember dan hampir habis tahun 2018. Tidak terasa pula sudah hampir 7 tahun kami (saya dan suami) tinggal di Singapura. Ya, Desember 2011 suami mendapat pekerjaan di Singapura. Cepat sekali ya waktu berlalu…sehari-hari sibuk dengan pekerjaan dan aktivitas sehingga membuat kami merasa bahwa setahun itu cepat sekali. Kadang-kadang saya lupa hari, tau-tau sudah hari jum’at, lho sudah weekend lagi? Lantas apa sih keuntungan dan kelebihannya tinggal di Singapura, kok membuat kami betah?

Sebelum pindah ke Singapura, kami hampir pindah ke Shanghai. Tapi tidak jadi, takdir membawa kami pindah ke Singapura. Ya, kami pindah dan menetap di Singapura karena suami pekerjaannya disini. Waktu itu tidak ada rasa gamang dan takut dalam diri saya untuk berpindah meski belum pernah sama sekali ke Singapura, “nanti bagaimana disana, begini, begitu..” Tidak ada sama sekali pertanyaan-pertanyaan seperti itu dalam benak saya. Dihari yang sudah ditentukan kami berangkat pindah ke Singapura dengan hanya membawa sedikit pakaian dan buku-buku. Ya, segala macam peralatan dapur, peralatan rumah tangga, sebagian pakaian, kami berikan pada tetangga dan kenalan kami di Jakarta yang mau memakainya. Buku? Oh, buku penting untuk saya, kemanapun saya pergi akan dibawa.

Setelah sampai dan tinggal di Singapura sampai hampir 7 tahun, gimana rasanya? Saya senang dan bahagia dengan kehidupan saya, suami juga memiliki karier bagus disini. Lantas apa sih keuntungan atau kelebihannya tinggal di Singapura?

1. Keamanan

Ya, tingkat keamanan tinggal di Singapura ini saya tempatkan di nomer 1. Mengapa? Selama ini kami selalu merasa aman tinggal disini. Kemanapun saya pergi tidak pernah merasa takut dan was-was, meski pergi sendirian atau pulang malam hari atau sudah hari sudah gelap, atau sudah lewat tengah malam. Saya sebagai seorang wanita merasa aman pergi kemana-mana. Tidak perlu merasa kuatir dan was-was dijalan karena adanya jambret atau tukang copet yang suka menyobek tas orang. Sekalipun menunggu bus yang stasiun bus-nya berada dipinggir hutan kota, sepi tidak ada perumahan atau jauh dari keramaian.

Lingkungan sekitar juga aman. Rumah kosong ditinggal pergi sampai beberapa hari kami tidak pernah merasa was-was. Bahkan pernah sekali kami pergi selama hampir satu bulan.  Rumah aman tentu saja dengan selalu mengunci rumah kita dengan baik. Mengunci pintu rumah, gate, dan jendela rumah itu harus kita lakukan. Meski kondisi aman, hal satu ini tidak boleh dilupakan karena kita harus tetap hati-hati. Peristiwa perampokan dirumah warga sekitar juga tidak terdengar.

Mengapa bisa aman seperti itu? Karena kamera polisi ada dimana-mana. Selain itu, semua pusat bisnis, toko-toko meskipun toko dipasar semua pasang kamera CCTV. Bahkan rumah-rumah memang ada yang sengaja pasang kamera CCVT pribadi. Itu kenapa kejahatan minim. Dan hal yang terpenting, semua warga adalah tangan kanan polisi. Bila ada hal mencurigakan dilingkungan sekitar, atau ada hal yang aneh dan tak wajar kita temui dijalan warga pasti lapor polisi. Jadi kita warga juga sama-sama menjaga keamanan.

2. Sarana Transportasi Publik

Saya katakan bahwa di Singapura sarana transportasinya bagus menurut saya. Dan sampai detik ini, kami (saya dan suami) tidak kepikiran untuk membeli alat transportasi sendiri seperti motor atau mobil pribadi. Kami kemana-mana merasa aman dan nyaman naik tarnsportasi publik (bus dan MRT). Mau pergi kemana-mana bus atau MRT-nya juga ada. Mau pergi sampai tengah malam-pun bus atau MRT masih ada. Dan untuk saya, saya suka naik bus. Kalau terburu-buru bisa panggil taksi.

Di Singapura ada dua tranportasi publik yang digunakan oleh warga yaitu, bus dan MRT dengan biaya yang murah. Jarak antara MRT yang baru datang dengan MRT selanjutnya juga cepat, antara 2-3 menit saja. Sementara bus beragam, ada yang 4 menit, 5 menit, 7 menit juga ada. Tapi yang pasti jarak kedatangan bus ini termasuk cepat. Jadi tidak perlu menunggu lama.

Untuk kondisi didalam bus dan MRT juga bagus, karena bersih didalamnya. Ini nih yang saya suka, kondisi didalam bus dan MRT bersih tidak ada bekas sampah-sampah makanan, permen, tisu, dan lainnya. Selain itu didalam ber-AC semua. Jadi, meskipun diluar cuaca terik, panas menyengat, ketika naik bus atau MRT, badan kita jadi sejuk atau lebih seringnya saya pribadi malah kedinginan. Kalaupun penumpang banyak, bus atau MRT penuh, sejauh ini menurut saya masih teratur.

3. Pemandangan Hijau

Saya sangat menyukai pemandangan hijau, pohon-pohon hijau tumbuh disekitar, mendengar suara-suara burung berkicauan sepanjang hari, suara jangkring-jangrik saling bersahutan, wah itu sungguh kehidupan yang selalu saya inginkan. Apalagi ditambah dengan beragam tamanan berbunga disekitar, saya pasti akan betah dirumah sepanjang hari. Inilah sebuah tempat tinggal yang selalu diinginkan dan diimpikan, lingkungan hijau disekitar tempat tinggal.

Dulu saya berpikir bahwa tinggal di Singapura pasti pemandangan hanya gedung-gedung tinggi terkotak-kotak, tidak ada tamanan hijau apalagi pohon-pohon tinggi. Tetapi ternyata saya salah, tempat tinggal kami yang pertama, disekitarnya banyak pohon-pohon, bahkan dipinggir-pinggi jalan. Tak jauh dari situ, ada National Park. Sementara ditempat tinggal kami sekarang malah bersebelahan dengan taman dengan pemandangan hijau asri. Sepanjang hari kicauan burung selalu terdengar, tupai-tupai berlari-larian, bahkan jangkrik-jangkring selalu bersahutan. Tak hanya bersebelahan dengan taman, sekitar tempat tinggal kami juga banyak pohon-pohon besar. Jadi, setiap kali berjalan kaki pergi kepasar, pemandangan ini selalu membuat saya bahagia. Haaah! Jalan kaki? Kepasar? Iya, seperti kebanyakan warga Singapura, kemana-mana kami berjalan kaki kalau hanya setengah kilometer, satu kilo meter kami cukup berjalan kaki saja. Dan inilah salah satu keuntungan tinggal di Singapura yang membuat saya merasa bahagia, bisa menikmati pemandangan hijau sambil berjalan santai.

Tak hanya sampai disitu saja, pemandangan hijau ini bisa kita nikmati di kebun-kebun yang sengaja dibuat oleh komunitas berkebun. Di Singapura banyak komunitas berkebun. Komunitas ini menanam beragam tanaman bunga, sayuran, dan buah. Didekat tinggal kami komunitas berkebun-nya cukup besar, beragam sayuran dan buah ditaman seperti, Lady finger, bayam, kailan,cabe, tomat, markisa, pisang, dan lain sebagainya. Selain itu banyak warga yang berkebun dikoridor depan flat-nya, seperti yang saya lakukan dirumah dengan menanam beragam tanaman dan bunga-bunga. Bagiamana dengan kawan sekalian dirumah? Punya halaman rumah, sudah berkebun dirumah, kah?

4. Kualitas dan Standart Hidup

Setelah tinggal di Singapura kehidupan kami mendapatkan kehidupan yang berkualitas. Standart dan kualitas hidup kami meningkat. Mengapa saya katakan demikian? Ambil contoh air untuk mandi, di Singapura kami mandi dengan air bersih sepanjang tahun. Suami suka bercanda, “itu kamu mandi sama kayak mandi air Aqua kalau di Indonesia”. Ya, sepanjang tahun kami mandi dengan air yang juga kami minum sehari-hari. Jadi kalau mau minum air putih langsung ambil dikeran tidak perlu direbus dulu. Lho, apa tidak sakit perut? Puji syukur selama ini kami tidak pernah ada masalah sakit perut karena minum air dari keran tanpa dimasak dahulu.

Selain itu dirumah tidak ada nyamuk yang menganggu kehidupan kami. Iya benar sekali bahwa rumah kami tidak ada nyamuknya. Padahal saya berkebun di koridor atau teras depan flat kami. Saya tanam macam-macam tanaman dan bunga, tapi tidak ada nyamuknya. Kok bisa tidak ada nyamuk dirumah? Ini menurut saya, mungkin karena lingkungan sekitar bersih, ada yang sapu-sapu setiap hari, dan sebulan sekali menyemprot lantai corridor supaya lingkungan sekitar bersih. Tak hanya itu, fogging juga rutin dilakukan pemerintah setempat. Dan hal yang terpenting lagi, kita sendiri sebagai warga juga harus menjaga kebersihan rumah kita masing-masing.

Bagaimana dengan standart kehidupan kami di Singapura? Setelah pindah ke Singapura standart kehidupan kami jadi tinggi. Yang tadinya kalau belanja tidak pernah memperhatikan mana minyak goreng yang sehat, gula mana yang lebih baik, atau jajanan/ makanan mana yang lebih sehat, sekarang saya punya pakem, memilih minyak goreng harus yang bagus, biasanya saya pilih Canola oil, gula kami pilih gula stevia atau yang terbuat dari buah-buahan, minuman harus yang rendah kadar gulanya, dan tidak lupa untuk makan sayuran dan buah setiap harinya. Nah, untuk sayuran dan buah ini saya masih pilih-pilih juga, kadang-kadang untuk sayuran tertentu saya memilih khusus, misal timun, biasanya saya suka Japanese cucumber yang produk Jepang. Ada lagi terong, beberapa jenis jamur, ketela rambat (sweet potato), serta kaldu-kaldu-an, saya lebih suka memilih produk Jepang. Terus kentang, biasanya saya memilih kentang Australia, kalau ada yang merah saya suka memilih kentang merah Australia. Wortel, butter, jeruk, mangga, juga saya suka memilih dari Australia. Ada lagi yang spesifik, apel, untuk yang satu ini saya suka memilih jenis Pasific Rose Apple. Ya, itu beberapa contoh kenapa standart hidup kami jadi tinggi setelah pindah dan menetap di Singapura. Atau secara gampangnya kalau belanja saya suka memilih barang yang berlabel segitiga merah (Healthier choice), dan memilih buah dan sayur dengan kualitas terbaik.

5. Segala Fasilitas Ada

Pernah sekali waktu salah satu anggota keluarga bertanya, “lah mobilnya kemana, masak jalan kepasar?”. Saya jawab bahwa kami kemana-mana jalan, kalau agak jauh naik bus atau MRT. Mobil? kami tidak punya mobil, dan belum ada niat membeli mobil pribadi. Dan saya pribadi terutama, lebih suka memakai uang untuk sekolah/ menimba ilmu, atau ditabung. Ya, kami belum merasa butuh untuk membeli kendaraan pribadi. Mengapa? karena semua fasilitas dan semua kebutuhan ada disini, disekitar tempat tinggal kami. Mau beli apa saja, dan butuh apa saja ada.

Di Singapura, disetiap beberapa blok pasti ada pasar, atau yang kita kenal dengan nama “wet market”. Di pasar ini selalu berdampingan dengan warung-warung makan, salon-salon, klinik-klinik (mulai dari klinik umum, surgery kecil, Rontgen, sampai dokter gigi), tempat pijat, ada tempat SPA, toko-toko kue, toko buah, toko tanaman, tempat kursus anak-anak, mini market, dan lain-lain sebagainya. Semua kebutuhan/ peralatan rumah tangga bisa dibeli dipasar. Bahkan kalau hanya ingin membeli pakaian sehari-hari atau sandal sehari-hari biasanya saya lebih suka beli dipasar. Dan biasanya baru pergi ke mall kalau memang hendak membeli sesuatu yang khusus, misal gaun, maka saya baru pesan di salah satu toko di mall, atau ingin membeli pakaian kerja suami, sepatu, dan tas, baru beli di mall. Itupun mall-nya cuma sejengkal dari tempat tinggal kami, hanya 2 station bus. Ditambah lagi didekat station bus itu sebelahnya station MRT.

Selain fasilitas diatas, dipasar biasanya berdampingan dengan ATM, dan juga kotak  pos. Ya, kalau kita hendak mengirim surat, atau mengirim paket-paket kecil bisa langsung dimasukkan kotak pos yang disediakan kantor pos, membeli perangko juga bisa mesin SAM. Kadang dipasar juga ada mesin untuk menabung/ deposit uang, dan mesin untuk print buku tabungan. Wah enak kan ya, kita tidak perlu antri dibank kalau ingin menge-print buku tabungan, kita juga tidak perlu mengantri dibank untuk memasukkan uang/ menabung.

Semua fasilitas tersedia disekitar lingkungan warga. Bahkan didekat kami ada 2 pasar berdekatan, tinggal pilih suka belanja kepasar yang mana. Dan untuk menjangkau/ pergi kesemua fasilitas itu, kami cukup hanya berjalan kaki saja. Jadi, kendaraan pribadi di Singapura tidaklah begitu dibutuhkan dalam kehidupan kami. Semua tempat bisa diakses dengan transportasi publik, bahkan pemerintah Singapura terus-terusan membangun sarana transportasi publik ini dan terus memperbaiki tingkat pelayanannya.

6. Internet

Akses internet di Singapura ini sangat cepat sekali. Apalagi sekarang sudah mulai dengan namanya “fibre”. Sekarang orang ramai-ramai 4G, di Singapura malah sudah ramai "fibre". Dengan memakai teknologi ini akses internet semakin cepat, secepat cahaya. Dan dirumah kami sudah menggunakan “fibre” ini. Kecepatan akses internet ini penting untuk kami, untuk suami kerja (kalau sedang kerja dirumah), untuk saya kerja, juga untuk saya sekolah.

Sejak tahun 2011 saya mulai menulis artikel. Sewaktu pindah ke Singapura saya masih aktif menulis sampai tahun 2014 untuk media warga di Indonesia. Selanjutnya saya lanjutkan menulis di-blog sendiri sampai saat ini. Tapi sekarang sudah jarang menulis, karena punya kesibukan yang lain. jadi kelancaran akses internet ini penting untuk saya dalam menunjang aktivitas menulis sehari-hari. Tanpa kelancaran akses internet, kegiatan saya bakal terbengkelai.

Kecepatan akses internet ini saya pergunakan juga untuk menimba ilmu sejak tahun 2016 sampai sekarang. Ya, dengan perkembangan teknologi, saya bisa merasakan sekolah di Harvard University, University of California, Berkeley, terakhir yang baru saja saya selesaikan tahun 2018 yaitu Curtin University. Dan masih akan terus bersekolah, sekolah sepanjang tahun untuk menambah ilmu, keterampilan dan juga kemampuan. Ya, dengan adanya perkembangan teknologi menjadikan saya lebih mudah dalam mengakses dunia pendidikan baik di Amerika, Australia, atau negara lainnya. Bahkan sekarang kita juga bisa sekolah Master online. Jadi, akses internet ini begitu penting guna menjunjang beragam aktivitas sehari-hari kami.

Dan puji syukur, sejak 2017 lalu saya memulai bisnis online. Ya, saya adalah seorang an indenpendent designer of handmade ribbon flowers dan cat collars. Semua karya yang saya hasilkan dijual secara online dimana semua customers berasal dari USA dan Eropa, seperti Perancis, Belgium, Denmark, dan UK. Lho kok bisa ya menjual produk sampai ke USA dan Eropa begitu? Nanti akan saya bahas diartikel yang lain.  Jadi, kecepatan akses internet ini tentu saja berpengaruh untuk kelancaran usaha saya. Jadi selain dipakai untuk sekolah, internet saya pergunakan untuk memulai bisnis.

Selain yang sudah saya sebutkan diatas tentu masih banyak lagi keuntungan tinggal di Singapura. Dan hal ini tentu tergantung dari pengalaman pribadi masing-masing orang. Untuk kami, masih ada banyak lagi keuntungan tinggal di Singapura, seperti misalnya kami bisa menikmati buah dan sayuran dari segala penjuru dunia tanpa mengenal musim, kami bisa belajar keberagaman kehidupan dan budaya, kehidupan politik yang stabil, kami bisa memanggil “uncle” dan “auntie” pada mereka yang lebih tua, belajar toleransi dan kebersamaan dalam perbedaan, dan lain sebagainya. Kalau hendak ditulis satu persatu bisa berlembar-lembar dan jadi buku.

Pengalaman kami tinggal di Singapura selama hampir 7 tahun ini adalah sebuah perjalanan hidup yang berharga. Kami merasa nyaman, senang, dan bahagia dengan kehidupan kami di Singapura. Bahkan setiap kali bepergian saya selalu kangen untuk segera pulang kerumah, tentu saja yang kami maksud adalah Singapura. Kangen untuk segera menyiram tanaman dan bunga-bunga yang saya miliki, kangen mandi dirumah, kangen masak dirumah, kangen pergi kepasar dan lain-lain. Ya, setiap kali bepergian, setelah pesawat mendarat di Changi Airport, atau kami sudah memasuki Check point, rasanya hati sangat lega sekali karena sudah pulang. Kalau ada istilah yang boleh saya pinjam, “Home is where happiness is. And Singapore is the place that I call home”.

Note:
  • Written by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Do not copy this article without permissions
  • Do not reuse this photograph without permission

Antusiasnya Warga Mengikuti Peresmian Kebun Baru CC

EKEH6849[1]

Grand Opening Kebun Baru CC, 26 Aug 2018. Photographed by RDZ

CC? Apa ya itu CC? Bagi yang baru saja pindah ke Singapura tentu akan heran dan akan bertanya. Setiap ketemu orang mungkin akan sedikit banyak berbicara atau membicarakan “CC” tanpa menyebutkan apa sebenarnya yang disebut dengan CC. Untuk kami, CC adalah bagian penting dalam kehidupan kami di Singapura. Dan minggu lalu adalah peresmian Kebun Baru CC.

Apa itu CC? CC adalah adalah kependekan dari kata “Community Club”. Apa itu Community Club? Community Club bila di Indonesia mungkin setara seperti kelurahan. Jadi Community Club ini adalah tempat dimana warga bisa berinteraksi langsung dengan pemimpinnya, atau orang yang memimpin daerah dimana mereka tinggal. Dan Community Club ini warga bisa melakukan banyak aktifitas untuk belajar, mengembangkan diri, dan juga membantu sesama, dengan beragam program yang diadakan di masing-masing CC.

IMG_2236[1]

Grand Opening Kebun Baru CC, 26 Aug 2018. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Di Community Club ini kegiatannya bermacam-macam, ada kursus untuk anak-anak seperti kursus bahasa mandarin, bahasa melayu, musik, menggambar atau melukis, karate, silat, aikido, dan lain-lainnya. Sementara untuk orang dewasa, dewasa ini tidak terbatas umur bisa saja anak remaja, mereka yang sudah pensiun, ataupun mereka yang masih/ sedang bekerja, bisa memilih beragam aktifitas bersama yang sekiranya diminati. Apa saja aktifitasnya? Ada Zumba, piloxing, dance, memasak, musik seperti ukulele, atau Chinese orkestra, dan beragam aktifitas lainnya. Di CC juga ada kegiatan untuk membantu sesama, seperti yang baru saja diluncurkan di Kebun Baru CC, yaitu program HOPE. Dimana kita sebagai warga bisa ikut ambil bagian menjadi tenaga suka rela atau sukarelawan didalamnya. Menarik, bukan?

DOQQ3208[1]

Grand Opening Kebun Baru CC, 26 Aug 2018. Photographed by RDZ

Sebenarnya waktu kami pindah ke Kebun Baru ini, kurang lebih 3 tahun lalu, Kebun Baru CC sedang dalam tahap improvment atau diperbarui, dimana gedung lama dirobohkan dan dibangun gedung baru dengan design baru tentunya. Waktu itu pembangunan sempat terhenti, karena seharusnya sudah selesai ternyata belum selesai juga pembangunannya. Dan kira-kira pertengan tahun lalu, 2017, Kebun Baru CC sudah bisa digunakan untuk acara-acara warga. Waktu itu untuk pertama kalinya yaitu acara Deepavali 2017, kemudian acara Mooncake Festival dan diikuti oleh acara-acara warga lainnya.

UQJI8526[1]

Grand Opening Kebun Baru CC, 26 Aug 2018. Photographed by RDZ

Jadi, di Community Club ini memiliki acara tahunan untuk warganya, yaitu perayaan Deepavali, Mooncake Festival, perayaan Christmas, Chinese New Year, National Day Dinner, dan juga perayaan Aidil Fitri. Selain acara acara yang sudah penulis sebutkan diatas, masih banyak acara warga lainnya yang diadakan oleh CC, seperti Family Day, Sport Day, kadang acara-acara diskusi, ada juga acara nonton film bareng, acara nonton piala dunia bareng (sepak bola dunia), dan masih banyak lagi acara-acara yang diadakan oleh CC untuk warganya. Acara perayaan ini selalu diadakan oleh CC dimana semua warga sekitar boleh hadir tanpa terkecuali. Dan disinilah warga bisa saling kenal satu dengan yang lainnya, dan biasanya dalam setiap acara ini warga makan bersama. Dududk sama rendah, berdiri sama tinggi, itulah sebuah kebersamaan, dan meski berbeda-beda warga harus bersatu.

IMG_2226[1]

Mr. Kwek Hian Chuan Henry, Grassroots Advisor to Nee Soon GRC GROs. Grand Opening Kebun Baru CC, 26 Aug 2018. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Tanggal 26 Agustus 2018, Kebun Baru CC diresmikan oleh Perdana Menteri Lee Hsian Loong. Semua warga antusias mengikuti acara peresmian ini. Sejak kami mengikuti acara perayaan Aidil Fitri tanggal 7 Juli 2018 lalu, Mr Kwek Hian Chuan Henry, yaitu Grassroots Advisor to Nee Soon GRC GROs, sudah memberitahukan pada warga yang hadir untuk turut serta mengikuti peresmian Kebun Baru CC dibulan Agustus. Sehingga saya dan suami sudah memberi tanda agar tidak lupa untuk hadir dalam acara ini. Dan warga pun harus mendaftar untuk hadir. Pendaftaran ini gratis! Asyik kan…!

IMG_2243[1]

Goodie bags. Grand Opening Kebun Baru CC, 26 Aug 2018. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Sewaktu kami datang warga sudah berdatangan, penuh dan sesak! Wow! sampai-sampai mau jalan saja kesulitan karena begitu penuhnya dengan warga yang hadir. Dan untuk memasuki acara warga sudah panjang mengantri untuk bisa mendapatkan gelang kuning yang dipakai untuk mengambil makan siang, serta kartu permainan. Dimana bila kita sudah mencap kartu permainan ini secara penuh, kita boleh mengambil goodie bags. Bagaimana caranya agar bisa mendapatkan cap-cap untuk kartu permainan ini? Kita harus mengikuti salah satu aktifitas yang ada dalam memeriahkan acara peresmian Kebun Baru CC.

IMG_2220[1]

Beragam kegiatan di Kebun Baru CC. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Apa saja yang kami lakukan dalam acara peresmian Kebun Baru CC? Hal pertama yang kami lakukan adalah mengambil gambar atau poto di photobooth yang disediakan. Jangan takut karena ada biaya, semuanya gratis termasuk photobooth ini. Saya/ penulis suka dengan latar photobooth ini, latarnya bergambar anjing kecil, sebenarnya ada kucingnya tapi tidak kelihatan didalam poto, ada auntie yang memegang Miss Vanda Orchid, juga bunga sepatu dan kaktus. Setelah itu saya/ penulis men-tap kartu Passion cards yang kami miliki, lumayan menambah point. Saya suka tanaman, jadi saya tertarik untuk melihat pameran tentang bagaimana menanam tanaman tanpa tanah dan sinar matahari. Setelah itu kami dapat satu cap untuk kartu permainan kami. Untuk memenuhi cap dalam kartu permainan kami juga harus mengambil beberapa snack yang disediakan. Selain itu kami juga mendatangi, datang melihat, bahkan mencoba, hampir semua demo aktifitas yang merupakan kelas/ kursus/ Aktifitas bersama yang diadakan di Kebun Baru CC.  Salah satunya adalah ukulele. Ya, kami tertarik dengan musik, salah satunya ukulele. Dari mengikuti/ mendatangi aktifitas ini cap-cap yang dibutuhkan untuk memenuhi kartu games/ permainan didapatkan. Setelah kartu permainan penuh, warga baru boleh mengambil goodie bags. Namun dalam kenyataannya, meski kartu permainan/ games ini belum penuh kami bisa mendaptkan goodie bags.

MIWS3992[1]

Grand Opening Kebun Baru CC, 26 Aug 2018. Photographed by RDZ

Jelang makan siang, kami turut mengantri untuk mengambil makan siang. Makan siang dalam acara peresmian Kebun Baru CC ini kita bisa memilih, mau memilih vegetarian ada, halal juga ada. Seperti biasa, karena saya tidak suka makan daging maka vegetarian adalah pilihan penulis untuk makan siang. Sementara suami lebih memilih makan siang dengan curry. Wah, makan siang ini gratis dan dimasak oleh para sukarelawan, bagaimana dengan rasanya? rasanya enak sekali. Disaat sedang makan siang ini, kami didatangi oleh Mr. Henry Kwek, sebentar beliau menyapa dan mengobrol singkat. Kami sangat senang meski hanya disapa, terimakasih MP! Ya, begitulah kami warga memanggil beliau, MP (singkatan dari Member of Parliament).

Dipanggung acara banyak pertunjukan yang ditampilkan. Jadi sembari warga riwa-riwi kesana-kemari, dipanggung juga ada pertunjukan. Macam-macam penampilan, seperti penampilan dari anak-anak taman kanak-kanak, menari dan menyanyi. Selain itu ada penampilan silat, Aikido, beragam tarian, dan pertunjukan musik. Ya, ada banyak pertunjukan yang bisa dinikmati warga selama acara berlangsung.

IMG_2333[1]

Grand Opening Kebun Baru CC, 26 Aug 2018. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Setelah makan siang, sekitar jam 2 siang saya dan suami memutuskan untuk pulang karena kami ada janji pukul 3 sore. Sebelum pulang tidak lupa kami mengambil goodie bags dulu. Apa saja ya isi goodie bags-nya? Isinya bermacam-macam, ada satu pack minuman kedelai, lumayan ini karena biasnya saya beli mahal. Selain itu dapat kipas angin mini. Kebetulan suami sedang ingin beli kipas angin mini ini, tapi ternyata malah dapat gratis. Lumayan juga karena klo beli $15. Didalam gooodie bags ada celemek masak atau apron,  jajanan, beragam kupon yang bisa kita pakai untuk mengambil es krim disalah satu restoran cepat saji. Yang paling disuka untuk saya/ penulis adalah celemek masak, bisa dipakai dirumah. Isinya banyak ya ternyata. Oleh karena itu saya/ penulis belum mau pulang kalau belum mendapatkan goodie bags iniOpen-mouthed smile

IMG_2219[1]

Beragam kegiatan di Kebun Baru CC. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Acara ini berlangsung dari jam 9 pagi hingga jam 10-an malam baru selesai. Seperti kami, setelah makan siang, banyak warga yang pulang mungkin karena ada janji atau acara lainnya, atau mungkin ingin beristirahat dulu. Karena pada malam hari, jam 7 malamnya ada acara tentang Skill Future. Ya, warga sangat disarankan untuk mengikuti program Skill Future ini, untuk mengembangkan diri dan terus belajar. Berapapun umurnya, entah masih muda atau sudah berumur tua, diharapkan warga untuk terus belajar. Karena, dari banyak yang saya lihat, meskipun warga sudah masuk umur pensiun, sudah pensiun, namun warga tidak mau berhenti untuk beraktifitas.

IMG_2218[1]

Beragam kegiatan yang bisa diikuti di Kebun Baru CC. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Dari apa saya dengar akhir-akhir ini, salah satu orangtua teman suami ada yang sudah pensiun. Setelah pensiun beliau mengikuti program Skill Future mengambil program yang berbeda jauh dari bidang pekerjaan sebelumnya, dan beraktifitas lagi, yaitu berkarya lagi/ bekerja lagi. Begitulah warga Singapura, meski sudah pensiun namun warga tidak mau berdiam diri dirumah. Tapi malah justru belajar hal lainnya dan kemudian berkarya, dan berkarya. Seperti kawan-kawan penulis dikelas bahasa Jepang, beberapa diantaranya ada yang sudah pensiun, namun mereka tetap semangat untuk belajar hal lainnya.

IMG_2231[1]

Grand Opening Kebun Baru CC, 26 Aug 2018. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Begitulah serunya dan antusiasnya warga untuk hadir mengikuti acara peresmian Kebun Baru CC pada tanggal 26 Agustus 2018 minggu lalu. Kami sangat senang menjadi bagian dalam acara ini. Banyak hal yang menginspirasi saya dan suami. Dan kami ingin menjadi salah satunya, dimana kami harus selalu bersemangat untuk terus berkarya dan belajar, serta membantu sesama.

Note:

  • Written by Acik Mardhiyanti/ Acik Mdy
  • Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy and RDZ
  • Do not copy this article without permissions
  • Do not reuse these photographs anywhere else without permissions 

Meriahnya Mengikuti Kebun Baru National Day Dinner 2018

IMG_1809[1]

Kebun Baru National Day Dinner 2018. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Apa ya itu National Day Dinner? Untuk kami yang lahir dan besar di Indonesia, pada awalnya saya dan suami tidak begitu paham. Namun setelah kurang lebih 7 tahun berdomisili di Singapura, lambat laun seiring bertambahnya tahun kami jadi tahu tentang budaya dan kebiasaan di Singapura. Dan salah satunya adalah National day Dinner. Mari kita kenali tentang budaya yang satu ini dan seperti apa bentuknya.

National Day Dinner adalah sebuah makan malam warga Singapura yang diorganisir oleh Community Club (mungkin setara balai desa atau kelurahan kalau di Indonnesia) setempat untuk memperingati hari kemerdekaan Singapura yang jatuh pada tanggal 9 Agustus. Dan untuk tahun 2018 ini ditempat kami tinggal diadakan pada hari Sabtu malam kemarin yaitu tanggal 11 Agustus 2018. Tentu saja hari Sabtu karena memang pada hari biasa orang-orang pasti pada sibuk.

IMG_1807[1]

Kebun Baru National Day Dinner 2018. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Semua warga boleh ikut tidak terkecuali kami. Dengan membayar tiket sebesar S$25 perorang dan bisa memilih apakah ingin dimeja halal, non-halal, dan bisa juga memilih meja vegetarian. Menarik, bukan? Wah, tapi itu mahal kan ya? Ya, karena sesuai dengan makanan yang disajikan diatas meja. Jadi, semua warga entah orang muslim, atau non-muslim bisa mengikuti acara ini. Tidak ada pembedaan atau dibeda-bedakan. Semua bisa duduk bareng dan makan bareng. Itulah yang disebut dengan kebersamaan. Duduk sama  rendah, berdiri sama tinggi. Apa-apa kita harus bersatu dan bersama-sama.

Waktu itu kami sebenarnya berangkat sudah tepat waktu, ya acara dimulai jam 7 malam. Namun ternyata warga sudah pada datang dan sudah duduk dimejanya masing-masing. Ya, sewaktu membeli tiket untuk acara makan malam ini sudah tertulis dalam tiket kita, meja nomer berapa kita akan duduk. Jadi semua teratur tidak ada namanya rebutan meja atau kursi duduk. Dan bersyukur meja kami ada ditengah, tidak dibelakang atau terlalu didepan sekali. Karena bila mendapatkan meja dibelakang sudah tentu kita tidak akan bisa melihat panggung. Tapi sebenarnya ini bukan masalah, karena dibelakang dipasang layar lebar, agar warga yang kebagian meja dibelakang tetap bisa menikmati pertunjukkan diatas panggung.

IMG_1802[1]

Kebun Baru National Day Dinner 2018. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Apa saja yang tersaji diatas meja ya? Apa yang kita dapatkan dengan membayar S$25? Makanan pembuka, untuk dimeja halal, kami mendapatkan beberapa makanan pembuka, salah satunya adalah popiah. Karena saya tidak suka makan daging, jadi saya hanya mengambil 2 biji popiah saja karena yang lain berisi daging ayam. Setelah makanan pembuka, makanan selanjutnya yang terjadi adalah seafoods soup. Saya tidak mengambil dan makan sup ini hanya suami saja yang makan. Kebetulan saya alergi dengan seafoods, dan tidak suka dengan masakan yang berbau amis. Selanjutnya adalah makan berat, diatas meja disajikan nasi briyani, rendang sapi, sambal udang, ada ayam pedas, dan oseng sayuran. Lagi-lagi, karena tidak suka makan daging, saya hanya mengambil nasi dan sayuran saja. Makanan penutup kami dimeja halal mendapatkan hidangan es longan (kelengkeng). Lantas dimeja non-halal mendapatkan makan apa dimejanya? Yang saya lihat dimeja non-halal disajikan beragam masakan ikan (grouper atau seabass fish), juga seafood seperti udang. Sementara dimeja vegetarian, kebetulan meja vegetarian jauh dari meja kami, jadi kurang tahu masakan apa yang disajikan diatas meja, namun pastinya beragam makanan yang terbuat dari sayuran.

IMG_1884[1]

Kebun Baru National Day Dinner 2018. Photograhed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Selama menikmati makan malam, kami dihibur dengan beragam lagu, mulai dari lagu India, lagu Melayu, &lagu-lagu Mandarin. Namun sebelum pertunjukan itu dimulai, semua warga yang hadir diminta untuk berdiri dan menyanyikan National anthem of Singapore, Majulah Singapura. Setelah itu semua warga yang hadir diminta untuk membaca National Pledge. Dan tidak lupa tentu saja sambutan dari MP kita, Grassroots Adviser to Nee Soon GRC GROs, Mr Kwek Hian Chuan Henry. Dan setelah sambutan ada pembagian Awards untuk para warga yang telah membangun masyarakat, yang artinya telah turut membangun negara. Mudah-mudahan kami ketularan untuk bisa membangun masyarakat, melakukan kebaikan dalam hidup, menebar kebahagiaan, dan berkegiatan positif dalam hidup.

Oh karena ada kata-kata membangun negara ini saya jadi ingat, ada orang terdekat penulis yang sebenarnya masih terbilang keluarga, yang terang-terangan mengolok saya karena menurut mereka membangun daerah itu artinya tinggal didaerah, bekerja didaerah asal. Bahkan mereka mengatakan saya adalah “orang gila” karena bapak saya (penulis) adalah bukan siapa-siapa dan tidak punya uang mengirim saya sekolah sementara saya punya impian tinggi dalam hidup dan ingin sekolah setinggi-tingginya. Dan ada beberapa teman penulis didaerah asal yang menebar fitnah bahwa saya adalah orang yang lupa dengan asal, sampai mereka menyebut rumah bapak penulis yang berada dipinggiran irigasi dan memang sudah banyak bocor, tinggal robohnya. Wow! Penulis hanya berterimakasih dengan segala fitnah, dan olok-olok mereka. Buat penulis membangun masyarakat bukan berarti kita harus tinggal didaerah asal dan bekerja didaerah asal. Membangun daerah artinya pertama kita harus sekolah dulu, terutama bila kita miskin dan masyarakat sekitar kita banyak yang tidak sekolah, justru kita harus sekolah. Berusaha, berjuanglah demi menggapai impian, jangan pernah menyerah. Karena Bapak penulis selalu mengajari saya (penulis) untuk sekolah setinggi-tingginya dan selalu belajar. Dan karena punya impian tinggi dan berjuang untuk terus sekolah membuat penulis berdiri tegak seperti sekarang, dan puji syukur sekarang bisa membantu anak-anak didesa yang miskin/ kurang mampu. Dengan memberikan bantuan biaya sekolah mereka.

IMG_1822[1]

Kebun Baru National Day Dinner 2018. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Kembali lagi ketopik acara makan malam bersama warga. Dalam acara itu warga juga bisa berpoto. Ya diacara itu disediakan photobooth. Wah, antri lho mau ikutan poto. Semua warga nampaknya ingin berpoto sebagai kenang-kenang. Kami juga tidak ketinggalan untuk berpoto. Hasil poto-nya langsung dicetak ditempat, dan setiap orang mendapatkan hasil cetakan poto gratis tanpa harus membayar satu sen-pun. Oh, serunya! Dan hasil poto-nya bagus, lhooo, itu yang kami suka.

Setelah berpoto di photobooth, saya dan suami kembali kemeja untuk menikmati hidangan dimeja. Tak berapa lama kami satu meja diminta untuk berdiri karena akan diambil gambar sebagai dokumentasi oleh pendokumentasi acara. Nampaknya tidak semua meja diambil dokumentasinya lho, jadi kami semua satu meja merasa senang. Terimakasih! Setelah itu Mr. Kwek Hian Chuan Henry datang kemeja kami. Dan beliau memberikan satu dua buah kata untuk kami. Karena bisingnya acara nyanyi dipanggung saya tidak begitu mendengar kata-kata beliau. Tapi yang saya dengar intinya kami harus saling mendukung satu sama lainnya. Dan kami juga berkesempatan untuk berpoto bersama beliau. Terimakasih MP! Dan beliau terus berputar untuk menyambangi setiap meja dalam acara makan malam itu dan menyapa warga dengan begitu ramah.

IMG_1804[1]

Kebun Baru National Day Dinner 2018. Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 10 malam lebih. Tak terasa sudah 3 jam saya dan suami berada disana. Tiga orang yang berada satu meja dengan kami telah meninggalkan acara lebih dulu. Terakhir, acara makan malam itu diakhiri dengan menyayikan lagu-lagu yang menjadi ciri khas warga dan sudah tidak asing lagi, ada lagu Cina, lagu Melayu, dan juga lagu India, dan satu lagu berbahasa Inggris. Karena tidak semua warga hapal liriknya, dimasing-masing meja sudah tersedia copy-an liriknya. Jadi warga tinggal membacanya. Dan semua warga begitu antusias menyanyikannya bersama-sama untuk menutup acara. Setelah nyayian itu berakhir, warga kembali kerumah masing-masing. Sampai bertemu kembali tahun depan Natinal Day Dinner, Majulah Singapura!

Note:

  • Written by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Photographed by Acik Mardhiyanti / Acik Mdy
  • Do not copy this article without permissions
  • Do not reuse these photographs anywhere else without permissions

My Master's Journey in Belgium: How I Graduated on Time

My Master's Journey in Belgium: How I Graduated on Time      Graduating on time can be effortless for some, yet challenging for others. ...