Pesona Candi Prambanan, Dalam Guyuran Air Khayangan

 

IMAG0612

Setelah menempuh perjalanan, dari Situs Ratu Boko, akhirnya kami (saya dan suami ) sampai juga di kawasan Candi Prambanan. Ya..seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, dalam tulisan, Ratu Boko, Kemegahan Nan Damai di Perbukitan, bahwa kami ini membeli tiket paketan untuk masuk Candi Prambanan, dan Situs Ratu Boko. Memilih melihat Situs Ratu Boko terlebih dahulu, setelahnya, kembali lagi ke kawasan Candi Prambanan.

IMAG0615

Hujan masih saja mengguyur, ketika kaki ini menuruni mobil yang menjemput dari kawasan Situs Ratu Boko. Ya…hujan ini telah membuat badan menggigil kedinginan sejak dari Situs Ratu Boko. Sepertinya memang hujan ini merata. Tanpa pikir panjang, langsung saja menuju ketempat berteduh, ketika sampai di kawasan Candi Prambanan. Tetapi, apa yang akan kami lakukan dalam situasi seperti ini?? Hujan tiada henti, kadang deras, kadang gerimis, berselang-seling tanpa ada jeda sekalipun. Pulang saja kah, atau tetap nekat bertandang ke Candi Hindu terbesar di Indonesia ini, dalam situasi hujan??

IMAG0616

Beberapa dari orang yang turun dari mobil tadi, memilih untuk berteduh dulu sambil menanti hujan reda, untuk kemudian berjalan kekompleks candi. Berharap-harap hujan segera reda, dan bisa leluasa berkeliling kompleks Candi Prambanan. Sementara, saya sudah tidak sabar untuk segera melangkahkan kaki menuju kompleks candi. Dan suami waktu itu memilih untuk berteduh dulu. Tetapi, pesona Candi Prambanan sepertinya tidak bisa untuk saya abaikan, dan sayapun tertarik masuk kedalam pesonanya (Candi Prambanan) dalam situasi seperti ini. Maka..tanpa persetujuan suami, langsung saja melangkahkan kaki mendekati Candi Prambanan. Suamipun tak bisa mengelak lagi, tanpa banyak bicara, mengikuti dibelakang.

IMAG0620

Sebenarnya ada hal yang menarik sebelum memasuki kompleks Candi ini, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Jadi, sebelum masuk kompleks tempat peribadatan umat Hindu ini, kita sebagai pengunjung dengan tujuan berwisata, diwajibkan untuk mengenakan sarung. Tetapi jangan dikira, sarung yang dikenakan itu seperti sarung-sarung pada umumnya, yang dikenakan umat muslim untuk beribadah. Sarung ini unik, berwarna hitam putih, sekilas seperti motif batik (kurang tahu dengan jelas apa gambar yang ada dimotif itu). Ya, mungkin semacam sarung-sarung yang dikenakan oleh orang bali. Cara-cara pemakaiannyapun, ada tata caranya yang telah ditulis dengan jelas ditempat ruang pemakaian sarung. Kenapa diwajibkan mengenakan sarung ini?? Karena kompleks candi ini (Candi Prambanan), adalah tempat beribadah. Jadi, kita harus menghormati tempat ini, dan berlaku sopan. Begitu penuturan dari sopir yang mengantar kami ke Situs Ratu Boko. Ini tidak hanya di Candi Prambanan, di Candi Borobudur-pun, aturan ini telah diberlakukan juga. Berhubung, kondisi hujan waktu itu, maka kami tidak berkesempatan untuk mengenakannya. Tidak diketahui dengan pasti alasannya. Mungkin saja, takutnya sarung-sarung itu nanti basah. Yang pasti, kami langsung dipersilahkan memasuki kompleks Candi. Padahal, saya ingin sekali mengenakannya…

IMAG0622

Sebelum memasuki area Candi, mata kita akan tertuju pada beberapa papan informasi. Isinya informasi-informasi mengenai keadaan Candi-candi, setelah gempa yang mengguncang Yogyakarta tanggal 27 Mei 2006 lalu. Beberapa Candi memang ada yang runtuh, dan bahkan retak. Seperti Candi Shiva misalnya, ada bagian yang retak, Candi Brahma dan Candi Vishnu, ada bagian-bagian yang runtuh. Oleh karenanya, setelahnya dilakukan pemugaran-pemugaran. Bahkan hingga saat ini untuk Shiva Temple, masih berpagar, dan untuk memasukinya diharuskan mengenakan helm. Tetapi, pada dasarnya, dari keterangan yang ada, Candi Shiva ini telah stabil, hanya untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tak diinginkan, maka bagi yang ingin masuk kedalamnya diharuskan mengenakan helm.

IMAG0623

Pertama-tama memasuki area Candi, kami masuk dari sebuah pintu depan, yang langsung disambut oleh Candi Kelir. Kalau diperhatikan dengan seksama ketika berkeliling area Candi ini, letak Candi Kelir ini selalu berada didepan pintu-pintu masuk, entah dari pintu depan ini, samping, ataupun pintu masuk belakang. Kalau saya ingat-ingat kembali dari hasil study tour saya, kurang lebih sepuluh tahun lalu, Candi Kelir ini mempunyai fungsi sebagai penolak balak. Maka tak heran bila kita akan selalu menjumpai Candi Kelir ini di setiap pintu masuk area Candi. Kalau diperhatikan pintu masuk area Candi ini ada empat, maka Candi Kelir ada empat juga.

IMAG0624

Selanjutnya ada Candi Patok. Setelah kami amat-amati, Candi Patok ini tempatnya selalu dikanan kiri Candi Kelir, atau lebih tepatnya ada disetiap sudut area Candi Prambanan. Kalau dihitung-hitung, karena area sacral ini, berbentuk bujur sangkar, dengan mempunyai empat sudut, maka dapat dipastikan Candi Patok ini ada empat buah juga. Kalau kawan sekalian tidak yakin, silahkan dilihat dan hitung sendiri berapa jumlah Candi Patok-nya. Saya dan suami sudah melihat dan menghitungnya.

IMAG0626

Mulai bergerak dari Candi Kelir, yang letaknya ada dipintu masuk, lalu bergerak keselatan ada Candi Patok, bergerak lagi kearah utara (melewati Candi Kelir tadi), maka akan kita temukan berturut-turut, Candi Angsa, Candi Nandi, dan Candi Garuda. Dipojok utara, ada Candi Patok. Kalau melihat nama-nama Candi yang berurut-urut, mulai dari Candi Angsa, Candi Nandi, dan Candi Garuda, ini jelas-jelas kendaraan para Dewa. Candi Angsa, kendaraan Dewa Brahma (Dewa pencipta), Candi Nandi kendaraan Dewa Shiva (Dewa Perusak), dan yang terakhir Candi Garuda kendaraan Dewa Vishnu (Dewa Pemelihara). Kalau saya sebut Candi Kendaraan Dewa tepat tidak?? Bila kawan sekalian punya nama yang tepat, bisa menambahkan.

IMAG0632

Sebenarnya saya dan suami ignin sekali masuk kedalam masing-masing Candi Kendaraan Dewa ini. Tetapi, kami harus menyimpan kecewa, karena kami tak bisa memasukinya. Ini dikarenakan berbarengan dengan study tour anak-anak SMA. Kalau anak-anak SMA jaman sekarang, study tour ya begini ini, serasa candi-candi ini punyanya sendiri. Terus dipakai ajang untuk berfoto ria, memenuhi tangga-tangga candi untuk bergaya dalam foto, dan juga duduk-duduk ditangga-tangga candi serasa di cafĂ©…tanpa mempedulikan orang lain yang akan masuk kedalam candi-candi ini. Sungguh…memilukan, bukannya object-nya yang difoto, malah diri sendiri yang sibuk berfoto. Hal yang membuat kesabaran saya habis, adalah ketika kami diminta untuk menuggu dua orang yang akan berfoto diatas tangga Candi Angsa. Ditunggu-tunggu fotonya tidak selesai-selesai, akhirnya kami memilih berlalu saja. Kapan kami masuk candinya, kalau fotonya tidak segera selesai.

IMAG0634

Kembali lagi dengan cerita candi. Setelah sampai di Candi Garuda, disampingnya kami lihat ada Candi Apit. Candi Apit ini ada dua, satu disebelah utara, yang disamping Candi Garuda ini, yang satu lagi disebelah selatan didekat Candi Angsa tadi. Kalau diperhatikan, Candi Apit ini berhadap-hadapan antara yang satu dengan yang lainnya. Kalau dilihat dengan seksama posisinya, Candi Apit ini posisinya ada diantara Candi-candi kendaraan dewa, dan Candi tiga dewa (Trimurti), Vishnu, Shiva, dan Brahma.

IMAG0613

Melanjutkan kembali melihat maha karya yang mempesona ini, kami beralih ke Candi yang berada disebelah Candi Apit sebelah utara. Berjajar dari utara ke selatan, berturut-turut dan bergantian kami melihat Candi Vishnu, Candi Shiva, dan Candi Brahma. Ini artinya, Candi Vishnu berada diutara, sementara Candi Brahma ada diselatan. Dan Candi Shiva ada ditengah-tengah, yang merupakan Candi Utama. Dan kamipun melihatnya lebih dekat satu persatu. Kalau banyak orang bilang Candi Shiva inilah yang disebut-sebut sebagai Candi Roro Jonggrang, yang melegenda itu. Tentu kawan sekalian telah tahu dengan legenda seribu candi itu.

IMAG0618

Setelah berkunjung ke Situs Ratu Boko sebelumnya, dari sana kami tahu, bahwa Situs Ratu Boko adalah sebuah istana raja. Dimana rajanya adalah Ratu Boko (Raja Bangau), yang merupakan ayah dari Roro Jonggrang. Sementara Roro Jonggrang sendiri dikisahkan adalah seorang putri raja, raja yang membangun istana diperbukitan, Ratu Boko. Jelas bukan…bahwa ini merupakan sejarah yang memang saling terkait antara satu dengan yang lainnya.

IMAG0638

Hal yang terjadi selanjutnya, kami harus katakan, lagi-lagi kami tidak bisa memasuki tiga candi yang merupakan Trimurti ini. Kami harus puas dengan hanya mengambil gambar dari luar saja. Karena seperti yang telah saya jelaskan diatas. Hanya di Candi Brahma saja, suami bisa memaksa masuk kedalam bilik/ ruang candi ini, dan mengambil gambar arca dewa Brahma. Sementara arca-arca yang lain tidak bisa kami ambil gambarnya. Seperti dicandi utama, atau Candi Shiva, ada arca Roro Jonggrang yang berada diruang sebelah utara, arca Ganesha diruang barat, dan arca seorang resi (saya lupa namanya), yang berada diruang selatan. Begitupun dengan arca dewa Vishnu, yang ada didalam ruang Candi Vishnu.

IMAG0614

Setelah melihat semua candi yang ada di kompleks Candi Prambanan ini, kami mencoba berkeliling dipintu-pintu masuk yang lainnya, dan melihat candi-candi ini dari sisi yang berbeda. Setelah sampai disebuah pintu masuk, yang kalau ditarik garis lurus, ini segaris dengan pintu masuk utama area candi, tepatnya berada didepan Candi Shiva (bagian barat), saya dan suami bertanya-tanya, mungkinkah dijaman dahulu kala, pintu utama masuk kawasan sakral ini ada disebelah sini (tempat kami berdiri) ?? Karena melihat kebawah (melalui pintu sisi barat ini), tanahnya curam kebawah dan ada sebentuk tangga-tangga yang runtuh. Mengingat candi-candi diidentikkan dibangun ditempat yang tinggi, dengan tujuan semakin tinggi tempat beribadah, maka diharapkan semakin dekat dengan Sang Pencipta.

Akhirnya kami harus mengakhiri perjalanan. Sambil menjinjing sandal, sayapun harus melewati tanah berpasir dan berbatu-batu, untuk keluar kompleks candi Prambanan, melalui pintu utara. Karena sebagian kompleks candi tergenang air, jadi lebih baik tak usah memakai sandal. Payung sudah tak berguna lagi. Hujan yang sedari tadi mengguyur, kadang deras, kadang lembut, sudah tak terasa lagi. Bukankah hujan adalah sebuah berkah?? Maka tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ini (Candi Prambanan) adalah rumahnya dewa, jadi air ini adalah air suci dari khayangan.

Setelah keluar dari area utama melalui pintu utara, kamipun masih melihat pesona Candi Prambanan. Dan tak lupa juga kami mengamati reruntuhan candi-candi kecil (Candi Perwara) yang ada disekitar Candi Prambanan. Melihat reruntuhan Candi Perwara ini, suami seketika bilang, bahwa candi-candi kecil ini (Candi Perwara), adalah sebentuk candi yang bentuknya bongkar pasang, ini dilihat dari bentuk-bentuk batuannya. Dan setelah mengamatinya, sayapun sependapat dengan suami. Kalau candi-candi kecil ini memang bongkar pasang, seperti permainan lego. Ya ini hanyalah sebuah sisi pandang dari kami, yang lebih tahu tentunya para arkeolog.

Puas melihat pesona Candi Prambanan dengan basah-basahan (kehujanan). Kami melanjutkan untuk keluar dari kompleks Candi, kearah penjual makanan tentunya. Karena perut sudah keroncongan, siang belum makan. Sebelum benar-benar keluar kompleks, saya sempatkan untuk memanggil rusa tutul, yang ada dibalik jeruji besi hijau. Di Candi Prambanan ada rusanya?? Benar sekali, banyak rusa tutul. Lebih banyak dari yang ada di Situs Ratu Boko. Kalau di Situs Ratu Boko, saya tak berhasil memanggil rusa untuk mendekat, kali ini saya berhasil memanggil rusa untuk mendekat kearah kami. Wah..senang sekali rasanya bisa mengelus kepala rusa tutul. Selain ada rusa tutul, disebelah pagar batas rusa tutul, ada kasuari juga. Entah ada berapa jumlah kasuarinya, waktu itu yang kami lihat hanya satu.

Setelah makan gado-gado dan soto, kamipun beranjak ketempat souvenir. Setelah itu dengan menumpang becak motor menuju shelter trans jogja, dengan ongkos Rp 15.000;, kamipun harus melangkahkan kaki meninggalkan maha karya yang tak ternilai, yang masih menyimpan pesona dalam guyuran air khayangan.

Catatan :

  • Semua gambar/ photo dalam tulisan/ artikel ini adalah dokumentasi pribadi/ milik pribadi, Acik Mdy/ Acik Mardhiyanti
  • Dilarang meng-copy paste tulisan/ artikel ini, tanpa menyertakan sumbernya, atau link tulisannya, blog/ nama dari penulisnya, Yaitu saya, Acik Mdy/ Acik Mardhiyanti

Situs Ratu Boko, Hilangnya Sebuah Maha Karya di Masa Lampau

 

IMAG3129

Situs Ratu Boko, bagi kawan sekalian yang sudah menyambangi situs ini, pasti sudah tahu bila situs yang satu ini nampak puing-puingnya saja...hanya dibeberapa bagian yang masih berdiri dan masih dikenali fungsi bangunannya. Sisanya?? Sisa puing-puing yang ada tidak dapat diketahui dengan pasti bentuk maupun fungsinya. Ya, situs ini telah hancur, hanya tersisa puing-puing yang bisa kita reka-reka dan nikmati, betapa megahnya kompleks bangunan ini diwaktu lampau.

IMAG3133

Tahun lalu (2013) saya sebenarnya sudah pernah menuliskan Situs Ratu Boko........Namun rasanya selalu ada yang kurang. Sebabnya kala mengunjungi situs ini, kami tidak bisa menjelajahinya secara lengkap disetiap bagian. Hal yang tak terduga terjadi, baru saja masuk kompleks, awan hitam segera terbentuk, baru menikmati panorama keindahan alam melalui gardu pandang (view point), sudah mulai gerimis, dan akhirnya hujan deras! Akhirnya kamipun terpaksa harus “turun gunung”, dan berjanji akan menyambanginya kembali dilain waktu. Setahun kemudian kami datang kembali....Mengawali tahun 2014 (2 januari 2014), kami bertandang!

IMAG3138

Berbeda dengan kunjungan kami sebelumnya hanya berdua (saya dan suami), kali ini kami bertiga (saya, suami , dan seorang adik kami yang sedang libur semester) mengunjungi situs Ratu Boko. Harga tiket kunjungan ke Ratu Boko, hanya ditambah Rp. 15.000; dari tiket masuk candi Prambanan. Dimana tiket kunjungan ke kompleks istana Mataram kuno ini bisa didapat langsung melalui loket penjualan tiket paketan (candi Prambanan dan Ratu Boko) yang ada didepan pintu masuk candi Prambanan, atau membeli tiketnya tersendiri, yang kita dapati setelah kita memasuki tuas pintu masuk kompleks candi Prambanan. Untuk menuju ke Situs bersejarah yang dibangun pada masa Dinasti Syailendra tersebut, ada minibus yang akan mengantar dan menjemput kita. Jadi, tak usah khawatir, urusan transportasi mudah.

IMAG3146

Sama seperti tahun sebelumnya, setiap akan memasuki kompleks, dipintu masuk Situs Ratu Boko, saat kita menyerahkan tiket masuk, kita akan diberi masing-masing satu botol kecil minuman mineral. Mengapa?? Pastinya kita semua akan sangat merasa kehausan kala menjelajah kurang lebih 16 hektar kawasan reruntuhan istana ini. Nah, saran saya bawa minuman cadangan, satu botol saja kalau saya kurang. Bila tahun lalu kami tak perlu mengenakan sarung saat memasuki kawasan ini, tahun ini berbeda, setelah melewati pemeriksaan tiket masuk, kami diarahkan dan diharuskan mengenakan sarung khusus. Tenang saja...kalau tidak mahir memakainya, akan dipakaikan oleh seorang petugas. Tujuannya apa, mengapa harus memakai sarung khusus? Sarung itu berwarna dasar putih, dengan motif berwarna hitam, dan bertuliskan situs Ratu Boko dipinggir bagian bawah. Kata sopir yang mengantar kami (tahun 2013), maksudnya untuk menjaga kesopanan, karena tempat wisata candi adalah tempat suci, tempat ibadah bagi umatnya, itu mengapa semua wisata candi, pengunjungnya diharuskan mengenakan sarung khusus. Kan ada wisatawan/ pengunjung candi yang mengenakan pakaian pendek (rok pendek atau celana pendek), nah dengan memakai sarung menjadi lebih sopan, dan menghormati tempat tersebut.

IMAG3154

Mengawali penjelajahan, kami bertiga menyusuri tangga-tangga menuju pintu gerbang yang terlihat jauh diatas bukit. Jalanan yang kami susuri tersebut, berupa bebatuan yang merupakan batuan sedimen. Disepanjang jalan terdapat tempat-tempat beristirahat (gazebo) yang dilengkapi dengan tempat duduk yang santai. Selain gazebo, kita akan menjumpai besi-besi yang dipasang sedemikian rupa sebagai tempat menanam tanaman merambat. Maka tak heran saya kegirangan kala melihat tanaman berbunga Red Passion Flowers, yang selama ini hanya melihat gambarnya saja. Sebelum naik lebih tinggi, sambil beristirahat, kami melihat-lihat rusa tutul yang tidak jauh dari toilet dan mushola. Bila ingin memberi makan rusa, ada yang menjual kangkung untuk pakan rusa. Perhatikan langkah kita ketika melewati rerumputan dekat kandang rusa dan sekitarnya, karena kami melihat anak ular disana. Siang itu kondisi panas menyengat. Dengan persiapan yang lebih matang, kami bisa menembus teriknya matahari dengan ditemani gemericiknya air yang mengalir. Saran saya, bawalah payung, topi, kacamata hitam, bila perlu jaket, ketika berniat mengunjungi Ratu Boko. Karena semua perlengkapan itu pasti dibutuhkan, baik dalam kondisi panas maupun hujan. Maka perjalananpun kami lanjutkan...

IMAG3158

Sesampai dipintu gerbang, kepala kami harus mendongak, melihat lebih detail seperti apa gerangan gerbang kompleks yang terlihat megah. Kesan pertama yang ditangkap oleh mata, gerbang bergaya tradisional jawa itu begitu kokoh, terbuat dari batuan andesit. Sementara lantainya terlihat putih, karena terbuat dari batu berwarna putih, atau disebut limestone. Pintu gerbang kompleks Situs Ratu Boko ada dua, gerbang pertama memiliki tiga pintu masuk, dan gerbang kedua memiliki lima pintu masuk, dimana pintu masuk bagian tengah dimasing-masing gerbang lebih lebar dibandingkan pintu yang lain. Bila dicermati lebih dalam, gerbang pertama satu sisi pintu sudah tidak utuh, sementara digerbang kedua atap pintu tengah sudah tidak ada/ terbuka.

IMAG3161

Melangkah kedalam, sebenarnya kami langsung menuju kearah papan petunjuk yang menunjukkan arah pendopo dan kaputren. Karena tahun lalu 2013 kami sudah pernah menjajaki sebelah kiri gerbang. Dan tahun ini (2014) kami fokus pada bagian yang belum kami jelajahi, mengingat luasnya situs ini. Kesamping kiri gerbang ada sebuah candi yang berbentuk bujur sangkar, namanya candi Pembakaran. Ditengah-tengahnya terdapat lubang besar dan dalam. Sesuai dengan namanya, candi ini difungsikan sebagai tempat kremasi, pembakaran jenazah. Dilubang itulah pembakaran jenazah dilakukan. Candi ini tidaklah seperti apa yang kita lihat saat ini. Berdasarkan referensi yang saya baca, dahulunya candi pembakaran memiliki atap, itu artinya memiliki pilar-pilar. Dikarenakan atap dan pilarnya itu terbuat dari bahan organik (kemungkinan besar kayu), lambat laun dimakan usia dan sekarang sudah tak ada sisanya lagi. Tahun 2013 lalu, saat kami melongok kebelakang candi Pembakaran, ada sebuah kolam besar disana. Tepat dimana saya berdiri kala itu, terdapat anak tangga menuju dasar kolam. Diantara candi Pembakaran dan kolam besar itu, terdapat tiga buah kolam kecil. Nah, apakah kolam kecil itu salah satunya/ ketiganya adalah sumur yang disebut-sebut Amerta Mantana?? Yang hingga saat ini masih digunakan oleh umat Hindu dalam sebuah upacara sehari sebelum hari Nyepi.

IMAG3162

Dari pintu gerbang kedua, kami bertiga menuju kearah dimana papan petunjuk pendopo dan kaputren menancap diatas tanah lapang nan hijau. Ya, ditanah lapang nan hijau itu, ada beberapa kambing yang sedang digembalakan. Tak jauh dari papan petunjuk itu terdapat sisa sebuah bangunan yang hanya nampak persegi dengan jajaran batuan yang masih tersisa. Dari sana mengarah kearah kanan, maka kita akan menemukan sisa-sisa bangunan paseban, yang difungsikan sebagai tempat menunggu bagi tamu yang akan menghadap sang raja. Bila diperhatikan, ada dua sisa bangunan paseban, yang diperkirakan saling berhadapan. Dari sini kami menuruni tangga melalui sebuah gerbang kecil/ gapura kecil.

IMAG3165

Setelah menuruni tangga pintu gapura tadi, mata kita akan disajikan pemandangan yang barangkali tak begitu menarik menurut kami. Begitu banyak puing-puing sisa bangunan yang tersebar dan mengelompok. Tetapi anehnya, justru hanya terlihat puing-puingnya saja, membuat kami menasaran, “dulunya tempat apa ini, dulunya seperti apa bangunan ini.....dst....”. Melihat salah satu sisa puing bangunan yang ada, salah satunya batu yang berlubang, yang mirip dengan tempat menumpuk, membuat kami mereka-reka, bahwa dulunya tempat ini kemungkinan dapur. Ya..ini hanya imajinasi kami saja. Bila membaca referensi yang ada, banyaknya puing-puing itu belumlah diketahui secara pasti bagaimana bentuknya, pun fungsinya apa, semuanya tidaklah jelas. Oleh karenanya hingga sekarang belum direkonstruksi. Maka tidak salah, bila ada yang mengatakan, banyak misteri yang belum tersingkap dalam situs ini.

IMAG3171

Tak jauh dari hamparan puing-puing sisa bangunan yang mengelompok, disebelah kiri jalan terdapat warung kecil yang menjajakan makanan dan minuman. Nah, bila lelah mendera, ditambah lagi merasa haus karena minuman yang dibawa habis, bisa mampir sejenak diwarung ini sambil mengembalikan energi untuk melanjutkan penjelajahan. Kalau tidak salah dengar, pemilik warung tersebut ya warga disitu juga, yang keberadaannya tidak mau digusur demi mensterilkan kompleks bersejarah ini. Bila dicermati, disitu ada beberapa bangunan rumah yang sangat sederhana, mungkin hanya sekitar lima rumah. Berhubung persediaan minuman kami masih cukup, kami bertiga melanjutkan perjalanan untuk menuju bangunan pendopo.

IMAG3173

Sebelum memasuki kawasan pendopo, kami melewati sisa bangunan yang berupa anak tangga menuju kebawah (mungkin kolam dahulunya) yang bentuknya segi empat. Selanjutnya naik sedikit, terlihatlah sisa bangunan bak benteng pertempuran, itulah pendopo! Bila membaca keterangan yang ada, tentu bangunan ini tak seperti yang kita lihat sekarang. Diperkirakan dahulunya memiliki pilar-pilar serta mempunyai dinding. Karena pilar dan dinding bangunan terbuat dari bahan oraganik (kayu) maka telah hilang dimakan usia. Tinggallah kini yang tersisa badan pendopo saja. Dari papan keterangan yang ada, kaki dan atap pagar keliling tersebut terbuat dari batuan andesit, sementara badannya terbuat dari limestone (batuan putih). Dari pendopo ini, kami menemukan candi yang berjajar tiga dimana salah satunya sudah tidak utuh lagi. Namun begitu tempat ini masih digunakan sebagai tempat pemujaan, itu terbukti dari adanya bebungaan yang diletakkan didepan candi kecil tersebut.

IMAG3174

Tak jauh dari pendopo, terdapat kompleks kolam. Untuk menuju kolam, kami harus berjalan menyusuri pinggiran pendopo hingga menemukan jalan yang sekiranya bisa dipakai untuk turun kebawah menuju kompleks kolam, yaitu tepat dimana papan petunjuk kaputren diletakkan. Wah...ternyata banyak anak-anak yang memancing ikan ya dikompleks kolam tersebut. Kolam, dimana banyak anak-anak memancing itu bentuknya persegi panjang dan besar, dengan air yang kehijauan. Dan sepertinya itulah kolam bagian utara. Ya...pada papan keterangan dituliskan bahwa kolam bagian utara merupakan kolam persegi panjang, yang berjumlah 7 buah (5 berukuran besar, 2 berukuran kecil). Disana ada papan peringatan, kita sebagai pengunjung tidak boleh mencuci-cuci tangan atau kaki dikolam. Tapi...sepertinya papan peringatan itu diindahkan oleh beberapa pengunjung, karena ada pengunjung yang sengaja duduk santai “berhape ria” sambil merendam kakinya didalam kolam tersebut...(prihatinnya saya melihat hal itu)...Sedangkan kolam bagian selatan jumlahnya 28 buah, yang terdiri dari 14 buah kolam ukuran besar bentuk bundar, 13 buah kolamnya berukuran kecil dengan bentuk bundar, dan satu kolam berukuran kecil berbentuk persegi. Antara kolam utara dan selatan dipisahkan oleh dinding, dan dihubungkan dengan sebuah gapura.

IMAG3175

Kami tahu, masih ada dua tempat lagi dalam kompleks istana ini yang belum kami lihat, yaitu kaputren dan gua. Namun sepertinya kaki kami sudah tak mau untuk diajak kompromi lagi, lelah....! Ditambah lagi kami bertiga masih harus mengitari kompleks candi Prambanan setelahnya..(berandai-andai, andaikata dua objek wisata ini tak disatukan dalam satu paket, karena melelahkan untuk kami karena dihari-hari sebelumnya kami sudah “puter-puter”). Meskipun begitu, kami sudah merasa puas dan lega bisa lebih jauh mengitarinya (Situs Ratu Boko), dibandingkan dengan tahun lalu (2013) yang bisa dikatakan hanya melihat gerbangnya saja.

IMAG3176

Ya, penjelajahan kami di Situs Ratu Boko berhenti sampai dipinggir kolam bagian utara saja. Dari sini puing sisa-sisa bangunan kaputren sudah terlihat, dan beberapa orang pengunjung yang masih dalam kondisi fit, menuju kesana (Kaputren). Sementara kami bertiga mengitari kolam utara melihat sejenak aktifitas anak-anak yang sedang asik memancing dikolam, dan gembira mendapatkan lumayan banyak ikan yang dimasukkan dalam kantong plastik untuk segera dibawa pulang. Sementara untuk kawasan gua, saya hanya puas membaca referensi saja, tanpa melihatnya langsung. Dari referensi itu saya tahu, bahwa gua itu adalah sebuah cermin, saksi sejarah, dimana agama yang berbeda dijaman itu bisa hidup berdampingan (toleransi antara umat beragama). Dimana satu gua (Gua Lanang), memiliki unsur-unsur Budha (stupa), dan gua satunya lagi (Gua Wadon) memiliki unsur-unsur Hindu.

IMAG3182

Dari semua kelelahan yang mendera kami, ada harga yang pantas kami dapatkan untuk menebus semua kelelahan itu. Apakah itu??...Melihat betapa hebatnya budaya Indonesia diwaktu lampau. Dijamannya mampu menghasilakan sebuah maha karya besar. Perpaduan seni, budaya, serta religi, menyatu dalam sebuah bentuk arsitektur sebuah bangunan tempat tinggal, yaitu sebuah istana, yang bisa kita lihat dan nikmati sisa-sisa kemegahannya saat ini.

Catatan :

  • Semua gambar/ photo dalam tulisan/ artikel ini adalah dokumentasi pribadi/ milik pribadi, Acik Mdy / Acik Mardhiyanti
  • Dilarang meng-copy paste tulisan/ artikel saya, juga mengambil gambar/ photo saya, tanpa menyertakan sumbernya, atau link sumbernya, yaitu blog juga nama penulisnya, Acik Mdy / Acik Mardhiyanti

Mengenal Lebih Dekat Keraton Yogyakarta, Sang Penjaga Budaya Jawa

IMAG0673

Berkunjung ke Yogyakarta, rasanya belumlah lengkap bila belum bertandang ke Keraton Yogyakarta. Buat kami (saya dan suami), ini adalah agenda penting kami, wajib untuk menengok Keraton Yogyakarta. Ya..salah satu keraton di nusantara ( Indonesia), yang masih eksis hingga saat ini. Oleh karenanya, buat kami, ini adalah sebuah peninggalan sejarah budaya yang terus hidup hingga kini. Dan barang tentu bisa kita ceritakan untuk anak cucu kelak.

IMAG0652

Sejak merencanakan liburan diakhir tahun 2012, Yogyakarta adalah pilihan untuk liburan kami. Banyak hal yang menarik disana, wisata budaya terutamanya. Berkali-kali pula suami berkata, “nanti kalau ke Yogyakarta, masuk Keraton y??” Sayapun mengiyakannya. Buat saya sendiri, bukanlah untuk yang pertama kalinya masuk Keraton Yogyakarta. Bertahun-tahun yang lalu, saya sudah study tour ke Yogyakarta, yang artinya masuk Keraton untuk pertama kalinya. Yang kedua kalinya, dulu sewaktu masih belajar di kota pelajar ini, sekali pernah berkunjung bersama dengan teman-teman. Artinya ketika saya berkunjung lagi ke Keraton Yogyakarta bersama suami, ini adalah kunjungan saya yang ketiga kalinya. Bagaimana dengan suami saya? Kunjungan ini adalah kunjungan perdananya ke Keraton Yogyakarta.

IMAG0654

Maka, rabu 16 januari 2013 lalu, kami sudah merencanakan, mengagendakan kunjungan ke Keraton Yogyakarta. Pagi itu kami sudah berangkat menuju Keraton dengan menumpang becak, yang memang banyak terparkir disepanjang jalan Prawirotaman ini. Seperti biasa ongkosnya Rp 20.000; dari daerah prawirotaman (tempat kami menginap), sampai di keraton. Oleh Bapak tukang becaknya, kami langsung diarahkan ketempat pembelian tiket masuk keraton. Ini artinya kami langsung menuju Tepas Pariwisata (Regol Keben). Saya dan suami sangat antusias sekali untuk bertandang kerumah Sultan ini (Sultan Castle). Kami tidak ingin kalah juga dengan para turis mancanegara, yang juga mengagendakan berkunjung ke rumah Sultan (Sultan Castle), dalam kunjungan utamanya ke Yogyakarta. Maka tak heran bila di rumah Sultan ini, kami bertemu dengan mereka (turis-turis asing) yang satu penginapan, juga satu kereta dalam perjalanan dari Jakarta-Yogyakarta.

IMAG0651

Sebelum memasuki keraton ini kamipun harus membeli tiket terlebih dahulu. Harga tiket ini tentu saja kami memilih untuk turis domestic seharga Rp 5.000;/ orang. Jadi berdua, kami hanya merogoh kocek sebesar Rp 10.000; saja, ditambah Rp 1.000; untuk ijin mengambil gambar. Artinya dengan menambah biaya Rp 1.000; saja, kita bisa mengambil gambar didalam kompleks keraton sepuasnya. Tidak mahal bukan untuk bisa masuk ke Keraton Yogyakarta ini??

IMAG0657

Masuk dipintu gerbang ini kita akan disambut dengan ramah oleh para abdi dalem yang telah berjajar rapi didepan pintu gerbang untuk menyambut para wisatawan yang datang tiada henti. Sekilas tentang para abdi dalem keraton ini, jumlahnya sangat banyak sekali. Dalam satu bulan mereka hanya punya kewajiban datang dua hari untuk melaksanakan tugasnya di Keraton. Kok Cuma dua hari?? Iya, karena jumlahnya yang sangat banyak tadi, sehingga tidak ada masalah bila abdi dalem ini hanya datang dua hari dalam satu bulan. Hal yang paling penting juga, supaya tidak memberatkan para abdi dalem. Dua hari dalam satu bulan tentu sesuatu hal yang tidak memberatkan. Lantas apa pekerjaan para abdi dalem ketika mereka tidak bertugas di Keraton?? Para abdi dalem ini, selain menjadi abdi dalem keraton, mereka juga mempunyai pekerjaan lain, seperti berdagang (berwiraswasta), juga ada yang menjadi PNS (pegawai negeri sipil). Begitulah sekilas tentang abdi dalem yang saya tahu, bila kawan sekalian ada yang lebih tahu tentang abdi dalem keraton ini, bisa menambahkannya.

IMAG0691

Setelah masuk dipintu gerbang ini, maka bila melihat kesamping kanan kita, mata akan langsung tertuju pada sebuah tempat pagelaran/ pertunjukan yang biasanya selalu ada untuk menghibur para wisatawan yang datang. Saat kami memasukinya/ datang, tidak ada pagelaran disana, tetapi ketika kami hendak melangkah keluar pintu gerbang keraton, ternyata pagelaran wayang golek telah dimulai. Oleh karenanya, saya dan suami menikmati barang sebentar pagelaran wayang golek tersebut sebelum akhirnya meninggalkan kompleks keraton, meskipun kami tidak mengerti terjemahan dari bahasa yang digunakan. Wayang golek ini disebut wayang golek menak. Ya…sewaktu kami datang itu hari rabu, dan jadwal pertunjukan dihari rabu adalah wayang golek menak. Bagaimana dengan hari-hari lainnya, apakah ada pertunjukan atau tidak didalam keraton?? Sudah barang tentu ada, diantaranya, tari-tarian, wayang orang, wayang kulit, macapat (nembang), juga ada aktraksi panahan. Menarik bukan??

IMAG0661

Kembali lagi keperjalanan kami memasuki keraton, bila kita melihat kesebelah kiri setelah memasuki pintu gerbang keraton, kita langsung melihat seperangkat gamelan, yang merupakan benda pusaka keraton. Ya..benar sekali, inilah pusaka Keraton Yogyakarta yang diturunkan saat sekaten, Kyahi Gunturmadu, dan Kyahi Nagawilaga. Saat itu, ada beberapa abdi dalem yang sedang melakukan ritual di gong pusaka keraton tersebut. Dengan seksama kami melihatnya, pun begitu juga dengan turis lainnya memperhatikan ritual tersebut. Mengitari tempat ini, kamipun mendapat informasi, Bahwasannya setelah gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta tahun 2006 lalu telah meruntuhkan bangsal Trajumas, tempat kami melihat benda pusaka keraton tersebut. Oleh karenanya, setelah itu dilakukanlah rekonstruksi. Selain itu juga disini kita juga dapat melihat artefak/ temuan-temuan, yang ditemukan ketika rekonstruksi bangsal berlangsung. Dan kami juga melihat, masih ada lantai semen yang asli didalam bangsal ini. Waah..semakin menarik saja untuk mengenal ada apa saja didalam rumah sultan ini (Sultan Castle).

IMAG0653

Setelah mengitari bangsal Trajumas, kami beralih ke bangunan disampingnya, yang kalau dilihat-lihat, bangunannya pendek dan terlihat kecil. Dan ternyata disitulah tempat menyimpan belandar dan saka. Kalau orang arsitek tentu lebih mengerti tentang hal ini. Disini juga ada namanya sendiri-sendiri, belandar dan saka itu.

IMAG0662

Beralih mengikuti jalur wisata keraton, kamipun memasuki sebuah gerbang kembali. Yang menariknya, digerbang kedua ini, sebelum memasukinya, disamping sebelah kiri kami, ada dua patung abdi dalem. Kami sempat tertipu, karena sangat mirip dengan manusia, hingga kami kira itu adalah orang yang sedang duduk bersila, seperti para abdi dalem yang memang sedang duduk bersila. Dan digerbang itulah kami melihat lambang keraton Yogyakarta.

IMAG0660

Melangkah sedikit kedepan, maka mata kami terbelalak terkagum-kagum, melihat bangunan utama keraton Yogyakarta, yang ada diseputar bangsal Kencono ini. Tetapi, jangan berharap kita yang datang ke keraton sebagai wisatawan, bisa melangkah masuk kedalam bangunan utama keraton ini. Untuk menginjakkan kaki kelantainya, ataupun hanya sekedar duduk dilantainya yang paling pinggirpun, kita tak diperkenankan. Karena tempat ini adalah tempat utama keraton Yogyakarta, tempat untuk menyelenggarakan acara-acara penting Sultan tentunya. Dan didalam sana, diseputar bangsal kencono ini, ada tempat berkantor Sultan HB X. Jadi, kita hanya cukup melihatnya saja, dengan mematuhi aturan, yaitu tidak diperkenankan untuk memasuki area utama keraton.

IMAG0664

Kalau kita amat-amati, banyak aktifitas didalam keraton Yogyakarta ini. Dan dengan berkunjung kesini (Sultan Castle), kita bisa tahu aktifitas para abdi dalem, bahkan melihatnya langsung. Seperti ketika kami melihat benda pusaka keraton (Kyahi Gunturmadu dan Kyahi Nagawilaga), ada beberapa ritual yang dilakukan para abdi dalem. Dan ketika berada didepan bangunan utama keraton ini, kamipun melihat para abdi dalem yang sedang melakukan tugasnya (caos). Melihatnya, diperbolehkan, tetapi tidak diperbolehkan kita untuk mengambil gambarnya dalam posisi membelakangi para abdi dalem ini. Meskipun dijadikan tempat wisata, kita sebagai pengunjung tentu juga harus menjaga sopan santun dirumah Sultan ini. Saat itu, kebetulan saya melihat abdi dalem yang sedang menuju tempat melakukan caos, ketika melewati bangunan utama keraton ini, abdi dalem itu berhenti mengahadap bangunan utama, merendahkan badan, menunduk, mengatupkan kedua telapak tangan. Kalau kawan-kawan sekalian pernah melihat film-film kerajaan, tentu kawan sekalian tahu bagaimana sikap yang harus dilakukan para abdi dalem kerajaan ketika bertemu rajanya. Dan caos ini dilakukan dengan menghadap kebangunan utama keraton. Dengan hati-hati, kamipun melangkah meninggalkan para abdi dalem yang sedang caos. Dan berusaha agar tidak membelakanginya ketika berjalan.

IMAG0666

Selanjutnya, kamipun melihat koleksi-koleksi keraton. Yang pertama kami lihat adalah kereta pandu, yang digunakan raja dan ratu. Untuk saat ini, kereta ini tentu sudah tidak digunakan lagi. Tetapi, meski tak digunakan dengan umur yang mungkin sudah ratusan tahun, kereta ini tetap apik bukan?? Dan dibawah kereta ini, ada jejak ritualnya. Kalau saya perhatikan, sama seperti Kyahi Gundurmadu dan Kyahi Nagawilaga.

IMAG0668

Kamipun melanjutkan perjalanan, dengan memasuki sebuah bangunan kaca yang sangat apik sekali. Didalam bangunan yang tak begitu luas ini, kami menemukan meja tulis pribadi Sultan HB IX yang jelas-jelas masih terawat. Begitupun dengan foto Sultan HB IX. Selain itu kami juga dapat melihat, beberapa penghargaan Pramuka yang dimiliki Sultan HB IX. Dibidang olahragapun Sultan HB IX, beliau mempunyai medali emas. Sejenak mata kami tercekat oleh kalimat yang ada disebuah lempengan marmer. Begini kata-katanya, “WALAUPUN SAYA TELAH MENGENYAM PENDIDIKAN BARAT YANG SEBENARNYA, NAMUN PERTAMA-TAMA SAYA ADALAH DAN TETAP ORANG JAWA”. Ini adalah kalimat cuplikan amanat penobatan HB IX 18 Maret 1940. Kata-kata yang sederhana, tetapi sarat dengan makna bukan??

IMAG0677

Memasuki ruang selanjutnya, yang tertata rapi dengan bentuk memanjang, terdapat banyak lagi beragam koleksi yang berhubungan dengan HB IX. Ada foto HB IX, ketika masih berumur 4 tahun. Lantas ada pula mainan sebentuk mobil, dibawah foto kecil itu. Sampai dengan peralatan makan, kompor, dan beberapa sisa-sisa bumbu yang pernah dipakai oleh HB IX, juga masih ada dan terawat. Bahkan baju yang pernah dikenakan oleh HB IX, inipun masih ada. Mungkin kawan sekalian heran, kok ada bumbu dan kompor, memangnya sultan HB IX itu masak sendiri?? Ya, inilah sesuatu hal yang patut kita contoh, yaitu rendah hati. Sultan HB IX, yang bernama kecil GRM. Dorodjatun ini, adalah sultan yang sangat merakyat, dan terlatih mandiri. Sejak kecil sudah dikirim sekolah di Belanda, diikutkan dengan keluarga Belanda. Sekalipun putra mahkota, yang akan menjadi raja dikemudian hari, GRM Dorodjatun ini tidak sungkan untuk memasak sendiri. Suatu sikap yang patut untuk saya contoh, sayapun bangga berada didapur memasak dan bergelut dengan bumbu-bumbu dapur, dan selalu berhadapan dengan kompor. Bagaimana dengan kawan sekalian, sungkan/ malu kah masuk dapur melihat kompor dan bumbu??

IMAG0685

Keluar dari ruangan yang memanjang itu, kami memasuki sebuah ruang yang didalamnya ada lukisan Sultan HB X ketika dinobatkan menjadi raja. Besar sekali ukuran lukisan itu, sehingga sangat menonjol didalam ruangan itu. Kemudian dibawah lukisan Sultan HB X, ada sebuah kursi. Kursi ini yang digunakan ketika penobatan berlangsung. Kemudian disebelahnya ada foto-foto ketika penobatan, dan foto lainnya, juga beberapa penghargaan, dan beberapa baju Sultan terdahulu, yang masih tersimpan didalam sebuah lemari kaca.

IMAG0689

Selanjutnya, kamipun menuju ruang lain yang terdapat koleksi kristal dan koleksi keramiknya. Didalam masing-masing ruang koleksi kristal dan keramik itu, dijaga oleh satu abdi dalem. Banyak benda yang unik dan menarik didalam setiap ruang itu, entah didalam koleksi Kristal, ataupun keramik. Seperti namanya, ruang koleksi Kristal didalamnya terdapat segala macam benda, gelas, vas bunga, lampu, dan beragam hiasan yang rupanya sangat bening, mengkilat, dan mudah pecah. Maka jangan menyentuhnya, takut kalau pecah, apalagi punya keraton. Sementara diruang koleksi keramik, didalamnya berisi barang-barang yang kalau diamati barang-barang itu dari daratan Cina. Didalam ruang koleksi keramik, kami menemukan sebuah koleksi yang unik dan berbeda, kalau segala macam benda yang ada dalam ruang koleksi keramik adalah benda-benda keramik sebentuk pot bunga, guci, hiasan-hiasan, maka benda ini adalah sebuah jam.

IMAG0707

Puas mengitari koleksi Kristal dan keramik, kami menuju ruang lukisan. Ruang lukisan ini ada didalam sebuah bangunan, yang dijaga oleh beberapa abdi dalem diluarnya. Didalam ruang-ruang ini, saya kira pencahayaannya kurang, jadi terasa gelap, mengingat jendela tidak semuanya terbuka, bahkan tertutup. Didalam bangunan ini terbagi atas beberapa ruang/ kamar, dimana setiap ruang ada beberapa lukisan. Ketika itu, ada lukisan-lukisan yang tidak dipajang. Tetapi, kami masih bisa melihat lukisan yang lainnya, yang jumlahnya cukup banyak. Banyak lukisan yang bisa kita lihat, ada lukisan raja (Sultan HB I sampai Sultan HB IX), ratu, selir, anak-anak raja, dan Pakualam. Memasuki ruang lukisan ini, tempatnya sepi dibandingkan dengan ruang-ruang yang lain, yang banyak pengunjungnya. Nuansa magispun sangat terasa, entah mengapa saya sendiri merinding, bulu kuduk berdiri semua, telapak tangan dan kaki terasa dingin sekali. Namun, saya tetap berusaha tenang, tetap melihat lukisan-lukisan tanpa memandangnya lama-lama, dari ruang yang satu beralih keruang yang lain, dan kemudian keluar bangunan tempat lukisan itu. Dan didalam ruang lukisan itu kamipun tak mengambil gambar masing-masing lukisan yang ada didalamnya. Hanya silsilah keluarga kerajaan, dan foto GRM Dorodjatun saja yang diambil.

IMAG0703

Tak terasa kaki mulai pegal, mengitari kompleks keraton ini. Sebelum melanjutkan keruang berikutnya, saya dan suami berhenti sejenak disebuah tempat yang ada bangku-bangkunya. Sepertinya bangku-bangku ini memang disiapkan untuk para wisatawan yang berkunjung ke Keraton Yogyakarta, agar ketika mereka merasa lelah, bisa beristirahat barang sebentar, sambil membeli minuman yang juga dijual disana. Namun, sayang sekali penjual minuman itu belum buka, bukanya jam sebelas siang, padahal saat itu baru jam 10.30 pagi, dan kami haus sekali! Akhirnya kamipun mengisi waktu dengan melihat-lihat souvenir yang dijual diseberang penjual minuman itu. Ada macam-macam souvenir yang ditawarkan, diantaranya, blangkon, kaos-kaos, topi, pernak-pernik lainnya. Penjual minuman belum buka juga, akhirnya kami berlalu saja…

IMAG0701

Lanjut ke ruang koleksi lainnya. Kali ini, kami masuk keruang koleksi batik. Harap mematuhi aturan ketika memasukinya, saat membeli tiket, dan membayar Rp 1.000, ijin mengambil gambar, kita harus baca dengan seksama, ditiket itu tertulis, bahwa kita tidak diperbolehkan mengambil gambar/ foto diruang koleksi batik. Kita harap maklum, ini sebagai langkah pencegahan bila mungkin ada pihak yang ingin meniru motif batik milik nusantara ini. Didalam ruang ini, beragam motif batik dipajang/ dipamerkan. Kita bisa melihatnya, juga bisa mengamatinya, begitu banyaknya motif batik yang kita miliki ini. Tidak hanya kain batik Yogyakarta saja yang dipajang, tetapi ada motif batik dari daerah lainnya, seperti Pekalongan, dan Madura. Adapun koleksi batik yang merupakan hadiah dari sejumlah pengusaha batik Yogyakarta dan daerah lainnya, didalamnya. Selain bisa menikmati koleksi batik, diruang koleksi batik ini, kami menjumpai peralatan membatik, mulai dari HB VIII sampai HB X. Didalam ruang ini, ada sebuah sumur juga. Sumur ini adalah sumur tua yang dibangun oleh Sultan HB VIII. Menarik bukan, ruang koleksi batik ini?? Dan ruang koleksi batik inilah yang disebut Museum Batik, yang diresmikan oleh Sultan HB X ditahun 2005.

IMAG0706

Ruang koleksi batik menjadi penutup perjalanan kami berkunjung ke Keraton Yogyakarta. Sebelum melangkah keluar, sayapun mencoba fasilitas toiletnya, karena ingin buang air kecil. Kebetulan toiletnya ini berada tidak jauh dari Museum Batik. Masuk ke toilet, tempatnya bersih. Ada dua ruang, satu toilet ala barat, artinya tidak air hanya ada tisu toilet saja, ruang kedua ala Indonesia, lengkap dengan bak air dan gayung. Sayapun memilih ala Indonesia saja. Air didalam bak airnya itu, jernih dan dingin. Sementara bak airnya bersih, hingga kedasar bak. Jadi, fasilitas toilet dikompleks keraton ini sama nyaman dan bersih seperti fasilitas toilet di Mirota Batik.

IMAG0729

Selanjutnya, kami keluar kompleks keraton melalui Regol Keben, tempat kami masuk dan membeli tiket tadi. Keluar dari Keraton hati kami merasa puas, karena ada banyak ilmu yang bisa kita bawa. Tetapi jangan berprasangka macam-macam tentang ilmu ini. Ilmu yang kami bawa pulang adalah ilmu bersikap rendah hati, tidak sombong, menjaga tutur kata, dan harus berlaku sopan dimanapun kita berada. Yang tak kalah penting yang harus kami ingat, sekalipun saya dan suami tinggal dinegeri orang, mungkin esok akan mengenyam pendidikan dinegeri orang, atau bahkan kelak anak kami mengenyam pendidikan dinegeri orang, hal yang pertama akan kami katakan, kami adalah orang Indonesia.

IMAG0731

Catatan :

  • Semua gambar/ photo dalam tulisan ini adalah milik pribadi/ dokumentasi pribadi. Acik Mdy / Acik Mardhiyanti
  • Dilarang men-copy paste tulisan/ artikel saya, dan mengambil gambar/ photo dalam tulisan ini, tanpa menyertakan sumbernya, atau link sumbernya, yaitu blog serta penulisnya, dalam hal ini adalah saya, Acik Mdy/ Acik Mardhiyanti

My Master's Journey in Belgium: How I Graduated on Time

My Master's Journey in Belgium: How I Graduated on Time      Graduating on time can be effortless for some, yet challenging for others. ...